Lewati ke konten utama
Kamis, 20 Agustus 2026 / 7 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

LAKPB MUI Kawal Bantuan Pendidikan Penyintas Bencana Aceh Tepat Sasaran

3 menit baca 57 dibaca
Bencana MUI
LAKPB MUI melakukan asesmen untuk korban di Aceh. Foto: Istimewa
Bagikan:

Aceh Utara, MUI Digital — Lembaga Advokasi dan Koordinasi Penanggulangan Bencana (LAKPB) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan komitmennya dalam mendampingi proses pemulihan masyarakat terdampak bencana, khususnya melalui pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi para penyintas bencana di Aceh Utara.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Baitul Mal Aceh dalam menyalurkan bantuan pendidikan kepada masyarakat yang terdampak bencana.

Wakil Sekretaris LAKPB MUI, Dr Rida Hesti Ratnasari, dia mengatakan bahwa pemulihan pascabencana menjadi salah satu perhatian utama LAKPB MUI. 

Sebagai lembaga yang memiliki fokus pada advokasi dan koordinasi penanggulangan bencana, LAKPB MUI berupaya memastikan setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat kepada penerima yang tepat.

“Core kompetensi kami adalah advokasi dan koordinasi. Karena itu, pemulihan pascabencana menjadi perhatian besar, agar penerima manfaat dari program yang dilaksanakan LAKPB MUI benar-benar tepat sasaran,” ujar Rida, kepada MUI Digital, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, kolaborasi dengan Baznas dan Baitul Mal Aceh menjadi bagian penting dalam memastikan proses penyaluran bantuan berjalan secara akuntabel. 

Sebelum bantuan disalurkan, dilakukan asesmen terhadap calon penerima manfaat untuk memastikan mereka benar-benar merupakan penyintas bencana dan masih berada dalam proses pemulihan.


“Kolaborasi ini membuat kebermanfaatan program semakin luas. Kita juga bisa melihat bahwa akuntabilitas penyaluran bantuannya dilakukan sedemikian rupa, dimulai dengan asesmen agar penerima manfaat tepat sesuai sasaran dan memang merupakan penyintas bencana,” kata dia menjelaskan.

Dalam program tersebut, bantuan dari para donatur senilai sekitar Rp400 juta diberikan dalam bentuk bantuan pendidikan. Bantuan tersebut mencakup beasiswa serta perlengkapan sekolah seperti alat tulis, seragam, dan tas.

Rida menjelaskan, bantuan tidak diberikan secara seragam tanpa melihat kondisi penerima. Data penerima terlebih dahulu dihimpun dan diverifikasi melalui proses asesmen yang dilakukan bersama oleh Baznas dan Baitul Mal Aceh.

Dia menjabarkan, bantuan dari para donatur sejumlah Rp400 juta berupa bantuan pendidikan, yaitu beasiswa dan alat sekolah, alat tulis sekolah, seragam dan tas. “Semuanya diserahkan kepada penerima manfaat sesuai hasil asesmen,” katanya.

Baca juga: Hadirkan 2 Sastrawan Terkemuka, LSBPI MUI akan Gelar Workshop Menulis Cerpen Palestina Besok

Dia menambahkan, perhatian juga diarahkan kepada lembaga pendidikan swasta dan pendidikan dayah yang dinilai masih membutuhkan dukungan.

Hal tersebut dilakukan karena meskipun bantuan dari berbagai pihak telah berdatangan pascabencana, kebutuhan pemulihan masyarakat masih cukup besar.

“Kita memilih yang memang masih membutuhkan bantuan,” tutur dia. 

Dia menambahkan, walaupun sudah ada beberapa stakeholder yang memberikan bantuan, tetapi belum cukup memadai untuk pemulihan, terutama agar mereka tetap bisa menikmati proses pendidikan dengan alat-alat sekolah yang memadai.

Menurutnya, pemulihan pascabencana tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan darurat. Para penyintas masih membutuhkan pendampingan untuk kembali memulihkan kehidupan keluarga, mata pencaharian, kesehatan, hingga keberlangsungan pendidikan anak-anak mereka.

Baca juga: Terbuka untuk Umum Termasuk Non-Muslim, ISSA-Palestine 2026 Jadi Wadah Diplomasi

“Proses recovery ini tentu saja tidak berhenti sampai saat ini saja,” ujar dia, 

Mereka harus bangkit dari keterpurukan dan musibah yang sudah melanda. Keluarga mereka masih harus recover, penafkahannya harus kembali pulih, begitu juga kondisi kesehatan mereka setelah tertimpa musibah.

Karena itu, LAKPB MUI mengajak para muzaki, munfik, dan masyarakat luas untuk terus membersamai proses pemulihan masyarakat terdampak bencana, termasuk di Aceh.

Rida memastikan kepercayaan para donatur kepada LAKPB MUI akan dijaga melalui proses penyaluran yang transparan, berbasis data, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Penerima manfaat kita bisa melihatnya baik secara dokumen maupun kita menjumpai mereka langsung di titik lokasi penyaluran bantuan. Semuanya tepat sasaran karena dimulai dengan asesmen bahwa mereka benar-benar penyintas bencana dan dalam proses recovery,” tutur dia.

LAKPB MUI berharap kolaborasi antara lembaga zakat, pemerintah, lembaga keagamaan, dan berbagai pihak lainnya dapat terus diperkuat sehingga proses pemulihan masyarakat pascabencana tidak hanya menyelesaikan kebutuhan sesaat, tetapi juga membantu para penyintas kembali bangkit dan menjalani kehidupan secara mandiri.