Lewati ke konten utama
Kamis, 20 Agustus 2026 / 7 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Terbuka untuk Umum Termasuk Non-Muslim, ISSA-Palestine 2026 Jadi Wadah Diplomasi

4 menit baca 39 dibaca
Buya Pasni
Workshop Menulis Cerpen Palestina secara hibrida di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Foto: Sadam/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi meluncurkan Rangkaian Sayembara Penulisan Cerpen Palestina Tingkat Internasional (International Short Story Award on Palestine / ISSA–Palestine) 2026. 

Agenda ini diawali dengan Workshop Menulis Cerpen Palestina secara hibrida di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Ketua MUI Bidang Seni Budaya, Buya Pasni Rusli, menegaskan bahwa ISSA-Palestine 2026 dirancang lebih dari sekadar kompetisi kepenulisan biasa, melainkan sebagai wadah diplomasi kebudayaan global melalui kekuatan sastra.

"Palestina tidak semata-mata dapat dipahami sebagai persoalan geopolitik. Di tengah penderitaan manusia yang kerap terdistorsi menjadi sekadar angka statistik, sastra memiliki kemampuan menghadirkan cerita, emosi, dan suara manusia yang sesungguhnya," ujar Buya Pasni Rusli.

Baca juga: Hadirkan 2 Sastrawan Terkemuka, LSBPI MUI akan Gelar Workshop Menulis Cerpen Palestina Besok

Melalui pendekatan seni, kata Buya Pasni, LSBPI-MUI menempatkan karya sastra sebagai bagian dari ikhtiar merespons isu kemanusiaan. 

Sayembara ini menjadi panggung bagi sastrawan lintas negara untuk menyamakan persepsi, mengedukasi generasi muda melalui dokumentasi kreatif, serta melawan stigmatisasi melalui narasi tandingan.

Diplomasi budaya ini didukung oleh jejaring kolaborasi yang luas, melibatkan Kementerian Kebudayaan RI, Forum Lingkar Pena (FLP), Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI), hingga lembaga internasional seperti Australian National Imams Council (ANIC) dan Penulis Budiman Malaysia.

"Jika diplomasi formal bekerja melalui jalur politik, diplomasi budaya bekerja menyentuh sanubari lewat bahasa dan karya,” kata Buya Pasni.  

Dia mengatakan, ISSA-Palestine 2026 menjadi kontribusi kebudayaan Indonesia dalam menjaga ingatan kolektif dunia tentang keadilan dan kemerdekaan Palestina. 

Baca juga: HUKUM DUKUNGAN TERHADAP PERJUANGAN PALESTINA

Sementara itu, Ketua LSBPI MUI, Habiburrahman El Shirazy atau yang akrab disapa Kang Abik, menyampaikan bahwa program prioritas ini terbuka bagi masyarakat umum tanpa batasan usia maupun kategori. Peserta dapat mengirimkan karya cerita pendek dalam tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris.

"Kita akan ikhtiarkan, terutama yang nanti berbahasa Arab ya, diterbitkan dalam bentuk buku. Saya ikhtiarkan cerpen-cerpen hasil lomba ini, khususnya pemenang utama, bisa dibawa ke Cairo International Book Fair," ujar Kang Abik.

Penulis novel kenamaan tersebut menjelaskan bahwa pilihan wahana cerita pendek dinilai paling ideal dan wasathiyah (berada di tengah), tidak terlalu singkat seperti puisi, namun tidak sepanjang novel, sehingga memudahkan proses seleksi objektif oleh dewan juri dari sisi sastra dan konten.

Lebih dari sekadar kompetisi, Kang Abik mengatakan bahwa lomba ini diselenggarakan sebagai bentuk solidaritas dan kesaksian atas penderitaan rakyat Palestina yang belum berakhir. 

Melalui karya sastra, LSBPI MUI ingin memastikan bahwa masyarakat Indonesia terus merawat kepedulian serta berpihak pada nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.

"Kita harus menjadi bagian yang menuliskan kesaksian dan mendukung saudara-saudara kita di Palestina. Supaya mereka tahu, kita tidak hanya bersama dalam pikiran dan jiwa, tetapi juga hadir dalam perjuangan mereka," kata dia.

Selain itu, Kang Abik mengingatkan pentingnya menjaga ingatan sejarah peradaban Islam terkait Masjid Al-Aqsha serta kontribusi historis Palestina yang menjadi salah satu negara awal pendukung kemerdekaan Indonesia.

Sayembara ISSA–Palestine 2026 ini bersifat gratis dan menjadi wadah terbuka bagi para penulis, seniman, hingga masyarakat umum untuk menyuarakan penolakan terhadap penindasan hak asasi manusia di Palestina.

Sementara itu, Wakil Ketua LSBPI MUI Helvy Tiana Rosa mengatakan bahwa sayembara penulisan cerpen internasional ini bersifat terbuka dan inklusif, tanpa melihat latar belakang agama maupun suku para peserta. "Pesertanya tidak harus Muslim,” kata dia.  

Dia mempersilakan kawan-kawan mana saja yang mau ikut, agama apa pun. Di Palestina sendiri, entitas Kristianinya juga ada dan mereka juga mengalami tekanan dari Zionis di sana. 

“Banyak contoh karya sastra yang menggambarkan persahabatan indah antara warga Muslim dan Kristen yang saling menjaga," kata dia.

Secara teknis penulisan, LSBPI MUI memberikan kebebasan penuh bagi para penulis untuk mengekspresikan gagasan mereka.

Gagasan utama yang diusung yakni kemanusiaan, keimanan, dan kemerdekaan. Penulis dibebaskan menentukan titik berat atau fokus cerita sesuai dengan sudut pandang dan perenungan masing-masing.