Lewati ke konten utama
Kamis, 6 Agustus 2026 / 22 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Komisi Dakwah MUI: Nahi Munkar Harus Disampaikan dengan Hikmah dan Solusi

2 menit baca 116 dibaca
KH Saeful Bahri
Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Saeful Bahri. Foto: Irma/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital – Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Saeful Bahri menegaskan bahwa tugas seorang dai tidak hanya mengajak kepada kebaikan (amar ma'ruf), tetapi juga mencegah kemungkaran (nahi munkar). 

Namun, kedua prinsip tersebut harus dijalankan dengan cara yang bijaksana, santun, serta sesuai dengan tuntunan Alquran dan Sunnah.

Hal tersebut disampaikan saat berlangsungnya kegiatan Standardisasi Kompetensi Dai MUI Angkatan ke-49 di Kantor MUI pada Rabu (5/8/2026). 

Menurutnya, baik amar ma'ruf maupun nahi munkar memiliki syarat dan etika yang harus diperhatikan agar dakwah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Baca juga: Gandeng DPR, MUI akan Gelar Forum Dialog Peringati Pembakaran Masjid Al-Aqsa

"Amar ma'ruf memang menjadi kewajiban kita, begitu juga nahi munkar. Keduanya harus dilakukan dengan bahasa yang lembut dan baik," ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa mencegah kemungkaran memiliki tingkatan sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. 

Bagi pihak yang memiliki kewenangan, kemungkaran dapat dicegah melalui kekuasaan atau kebijakan. Sementara bagi para ulama dan dai, kewajiban tersebut diwujudkan melalui nasihat dan penyampaian kebenaran dengan lisan.

Lebih lanjut, para ulama memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan siapa pun tanpa membedakan kedudukan, baik kepada pemerintah, pejabat, maupun masyarakat umum. 


Nilai-nilai yang harus terus ditegakkan adalah kebaikan, keadilan, dan kejujuran, sekaligus mencegah berbagai bentuk kemungkaran seperti korupsi dan pemborosan.

Namun demikian, ia menekankan bahwa kritik hendaknya disampaikan dengan cara yang santun dan penuh hikmah. Pemilihan bahasa yang baik menjadi bagian penting dari dakwah karena setiap orang memiliki harga diri yang harus dihormati.

Baca juga: Perkuat Visi Dakwah Moderat, Komisi Dakwah MUI Gelar Standardisasi Dai Angkatan ke-49

"Alquran mengajarkan agar menyampaikan nasihat dengan cara yang baik. Jangan sekadar mengkritik tanpa arah. Kritik harus disertai solusi sehingga dapat menjadi perbaikan bersama," katanya.

Dia menambahkan bahwa kritik yang konstruktif bukan sekadar menunjukkan kesalahan, tetapi juga menghadirkan jalan keluar yang dapat dilaksanakan bersama. 

Dengan pendekatan tersebut, dakwah akan lebih mudah diterima dan mampu membawa perubahan yang positif.

Salah satu tujuan Standardisasi Kompetensi Dai adalah memperkuat pemahaman para dai terhadap konsep Islam wasathiyah atau Islam moderat. 

Menurutnya, dakwah MUI harus berada di jalan tengah, tidak bersikap ekstrem ke kiri maupun ke kanan, serta tetap berpegang teguh pada nilai keadilan dan kebenaran.

"Moderasi adalah jalan tengah. Kita menegakkan keadilan, kebenaran, dan kejujuran dengan cara yang benar serta penuh kebijaksanaan," jelasnya.