Lewati ke konten utama
Sabtu, 8 Agustus 2026 / 24 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Kiai Marsudi Ingatkan Pentingnya Pemimpin Tinggalkan Legacy Nyata untuk Umat

3 menit baca 76 dibaca
Marsudi IPNU
Waketum MUI, KH Marsudi Syuhud dalam Silaturahim Nasional (Silatnas) Majelis Alumni IPNU bertema “Kepemimpinan NU yang Adaptif terhadap Perubahan Sosial” di Jakarta, Jumat (7/8/2026). Foto istimewa
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud menyatakan bahwa seorang pemimpin di tingkat mana pun wajib memiliki legacy atau peninggalan karya nyata yang dirasakan manfaatnya oleh umat dan organisasi.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Silaturahim Nasional (Silatnas) Majelis Alumni IPNU bertema “Kepemimpinan NU yang Adaptif terhadap Perubahan Sosial” di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Dalam paparannya yang merujuk pada konsep Fiqhud Daulah, Kiai Marsudi menjelaskan tiga tatanan utama dalam berorganisasi dan bernegara, yakni lit ta'lif (mengkonstruksikan ide dan gagasan), lil jam'i (menyatukan perbedaan), serta wat-ta'awuni 'ala asbaabil ma'isyah (saling bekerja sama untuk kesejahteraan hidup).

Secara khusus pada aspek lit Ta'lif, Pendiri dan Ketua Dewan Pertimbangan Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) ini menekankan bahwa proses kepemimpinan harus menghasilkan rancangan program kerja yang jelas dan berdampak konkrit, bukan sekadar janji atau narasi tanpa wujud nyata. 

Baca juga: Kiai Marsudi Syuhud Tegaskan Hidup Berorganisasi Harus Tinggalkan Legacy Amal Saleh

"Seorang pemimpin, baik memimpin rumah tangga, organisasi, maupun negara, harus punya legacy atau tinggalan. Hukumnya wajib. Jangan sampai tidak punya peninggalan yang bermanfaat," ujar Kiai Marsudi di hadapan para Majelis Alumni IPNU.

Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchuwah ini mengingatkan agar program-program strategis organisasi dirumuskan dan dikonstruksikan sejak awal melalui forum musyawarah seperti muktamar.

Menurutnya, keberhasilan suatu kepemimpinan tidak diukur dari besarnya retorika, melainkan dari konsistensi dalam mengeksekusi gagasan hingga menjadi karya nyata.

Baca juga: KH Marsudi Syuhud Sebut Kiai Ma'ruf Amin Ahli Mengeksekusi Pemikiran Jadi Kebijakan Nyata

Sebagai contoh, Kiai Marsudi menceritakan pengalamannya saat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU, di mana ia menginisiasi program pencetakan 1.000 Doktor. 

Meski berawal dari langkah sederhana, program tersebut terbukti terealisasi secara nyata berkat niat yang kuat dan eksekusi yang terarah.

"Betapapun kecil suatu program, kalau diniati dengan baik dan dilaksanakan secara jelas, ia akan menjadi besar dan nyata hasilnya," tegasnya.

Selain menekankan pentingnya legacy, Kiai Marsudi juga mengingatkan para pemimpin organisasi untuk senantiasa mengedepankan pendekatan musyawarah dan memahami karakteristik kepribadian para anggotanya. 

Menurutnya, gaya kepemimpinan yang terlalu otoriter dan sarat instruksi sepihak justru berpotensi merusak tatanan organisasi.

Silatnas Majelis Alumni IPNU ini menjadi momentum penting dalam konsolidasi pemikiran alumni dan kader muda NU menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama. 

Forum ini diharapkan mampu melahirkan gagasan kepemimpinan yang adaptif, visioner, serta berorientasi pada peninggalan karya nyata bagi kemajuan Jam'iyyah dan kesejahteraan umat.

Hadir sejumlah tokoh dalam acara ini, antara lain, Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh, Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar, Pengasuh Ponpes API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof Masykuri Abdillah.