Lewati ke konten utama
Sabtu, 8 Agustus 2026 / 24 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Kiai Marsudi Syuhud Tegaskan Hidup Berorganisasi Harus Tinggalkan Legacy Amal Saleh

3 menit baca 69 dibaca
c5240b05-ab04-461a-b840-8f213440d8f3
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud menekankan pentingnya setiap insan, khususnya para pengurus dan kader organisasi keagamaan, untuk meninggalkan warisan (legacy) berupa amal saleh yang memberikan manfaat nyata dan berjangka panjang bagi masyarakat.

Prinsip dasar kehidupan berorganisasi tersebut disampaikan Kiai Marsudi saat merefleksikan hakikat pengabdian (khidmah) dalam jam'iyyah Nahdlatul Ulama (NU), serta ketika menghadiri peluncuran buku "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam.

Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchuwah ini mengatakan, perjalanan hidup dan jabatan dalam organisasi tidak boleh berlalu begitu saja tanpa meninggalkan karya yang berdampak positif.

Baca juga: Kiai Marsudi Syuhud: Pemikiran Kiai Ma'ruf Amin Sangat Tepat Untuk Perbarui NU

​"Yang terpenting dalam hidup itu harus mempunyai legacy, atau sebutannya para kiai adalah amal saleh. Amal saleh itu jika ditinggalkan, walaupun kita sudah meninggal, masih akan terus diingat dan memberikan manfaat," ujar Kiai Marsudi.

Ia menceritakan pengalaman riilnya saat berkhidmah di pengurusan NU tingkat DKI Jakarta. Meski saat itu mengawali pengabdian sebagai Wakil Sekretaris di jajaran paling akhir, komitmennya untuk menghidupkan struktur cabang hingga MWC berhasil merealisasikan hadirnya gedung kantor permanen Pengurus Wilayah NU (PWNU) DKI Jakarta yang berdiri hingga saat ini.

​"Dulu NU DKI belum punya kantor permanen, pindah-pindah. Ketika kita ada di situ dan berjuang bersama, alhamdulillah sampai sekarang jadi kantor PWNU Jakarta di Matraman. Itulah contoh minimal legacy yang mudah-mudahan jadi amal saleh," kenangnya.

Baca juga: Sejumlah Nama Bakal Calon Ketua Umum PBNU Hadiri Peluncuran Buku Ketua Wantim MUI Kiai Ma'ruf Amin

Selain menekankan pentingnya warisan karya, Kiai Marsudi juga mengingatkan pentingnya mengedepankan musyawarah (wa syāwirhum fil-amri) dalam mengelola organisasi jam'iyyah. Ia menegaskan bahwa konflik atau perbedaan pendapat dalam organisasi harus diselesaikan dengan tradisi dialog, bukan dengan pemaksaan kehendak atau penggunaan hak veto secara sepihak.

​"Musyawarah itu dasar utama karena NU adalah jam'iyyah, organisasi untuk orang banyak. Jika niatnya adalah khidmah lil 'ilm, khidmah lil 'ulamā, dan khidmah li Nahḍlatil 'Ulamā, maka semua amanah dan tantangan berorganisasi akan terasa ringan," terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Marsudi juga menyoroti sosok KH Ma'ruf Amin sebagai teladan nyata ulama yang berhasil meninggalkan legacy besar. Menurutnya, Kiai Ma'ruf adalah pemikir ulung (mufakkir) yang tidak hanya merumuskan gagasan, tetapi juga mampu mengawalnya menjadi tindakan nyata (natā'ij).

Buku setebal lebih dari 600 halaman karya Hj. Siti Haniatunnisa dan H. Muhammad Zainal Arifin ini dinilainya merekam secara utuh rekam jejak perjuangan Kiai Ma'ruf. Acara peluncuran tersebut turut dihadiri Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang pada 27–31 Agustus 2026 mendatang.