Lewati ke konten utama
Rabu, 15 Juli 2026 / 29 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Kekerasan terhadap Santri Kembali Terulang, Ketua MUI Ingatkan Khitah Pesantren

2 menit baca 59 dibaca
KH Masduki Baidlowi
Ketua MUI Bidang Infokomdigi, KH Masduki Baidlowi. Foto: Junaidi/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi Digital (Infokomdigi) MUI, KH Masduki Baidlowi, mengingatkan segala bentuk kekerasan terhadap santri bertentangan dengan filosofi dasar pendidikan Islam yang mengedepankan pengasuhan dan keteladanan. 

Pernyataan itu disampaikan menanggapi mencuatnya dugaan kasus kekerasan terhadap santri di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menyita perhatian publik.

Kiai Masduki, begitu akrab disapa, mengatakan, sistem pendidikan Islam yang diwariskan Rasulullah SAW bertumpu pada nilai uswah hasanah atau keteladanan. Karena itu, guru, kiai, maupun pendidik dituntut menjadi teladan dalam membimbing peserta didik.

Dia menjelaskan, ajaran Islam sebagaimana yang disabdakan, dilakukan, dan diikrarkan Rasulullah SAW, sistem pendidikannya adalah sistem pengasuhan. Basis utamanya adalah uswah, yaitu contoh yang baik. 

“Seorang guru, seorang kiai, siapa pun itu orientasinya harus memberikan keteladanan," ujarnya kepada MUI Digital di Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat pada Rabu (15/7/2026).

Menurut Kiai Masduki, pesantren memiliki peran besar dalam membentuk karakter umat Islam di Indonesia. 

Baca juga: Sebanyak 157 Pengelola Pesantren se-Indonesia Ikuti Workshop Ekonomi di Darunnajah

Keberhasilan pesantren dalam melahirkan generasi yang berakhlak dan menyebarkan Islam yang moderat tidak lepas dari tradisi keteladanan yang diwariskan para ulama.

Menanggapi dugaan kekerasan terhadap santri, dia menegaskan bahwa tindakan yang mengarah pada penyiksaan dengan dalih memberikan hukuman (ta'zir) tidak dapat dibenarkan.

"Kalau memang benar itu terjadi, harus diambil tindakan hukum. Tidak boleh hanya diselesaikan secara internal pesantren," kata dia menegaskan.


Dia juga mengingatkan agar peristiwa yang melibatkan oknum tidak dijadikan dasar untuk menghakimi seluruh pesantren. Menurutnya, pesantren tetap menjadi pilar penting dalam pendidikan karakter dan akhlak bangsa.

Lebih lanjut, Kiai Masduki mengimbau seluruh pesantren maupun lembaga pendidikan untuk terus mengedepankan pendekatan pendidikan yang humanis dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

"Jangan ada tindakan-tindakan yang dalam konteks mendidik justru berubah menjadi penyiksaan yang berpengaruh kepada batin maupun fisik santri,” kata dia.  

Dia menyatakan, momentum ini harus menjadi evaluasi agar sistem pendidikan kita benar-benar mendidik, bukan memberikan hukuman yang justru membahayakan fisik dan jiwa peserta didik.