Jualan Sabun Mengantarkan Mbah Sarjo ke Tanah Suci Meski dengan Gulita Penglihatan
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Laporan MUI Digital langsung dari Madinah, Arab Saudi
Madinah, MUI Digital — Setelah menanti bertahun-tahun, Mbah Sarjo Utomo (71) akhirnya menjejakkan kaki di Tanah Suci bersama sang anak.
Dia tergabung dalam Kloter 1 Yogyakarta (YIA) yang tiba di Madinah pada Rabu (22/4/2026). Di usia senja dan dengan segala keterbatasan, Mbah Sarjo menaruh harapan besar dari ibadah hajinya.
Dia berharap Allah menerima amalnya dan mengampuni dosa-dosa masa lalu. “Kalau saya berhaji, mungkin Allah mengampuni dosa-dosa saya di masa lalu,” kata dia kepada tim MCH Daker Madinah.
Keterbatasan fisik tak menghalangi tekad Mbah Sarjo untuk menunaikan ibadah haji. Jamaah asal Srikayangan, Sentolo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta itu berangkat ke Tanah Suci sebagai penyandang disabilitas netra, demi menyempurnakan rukun Islam kelima.
Baca juga: Hari Keempat Operasional Haji 2026, 15.349 Jamaah Telah Diberangkatkan
“Haji itu kan rukun Islam. Ibadah saya buat sangu (bekal) saya nanti di hadapan
Allah,” ujar Sarjo di Madinah, Sabtu (25/4/2026). Perjalanan spiritual Mbah Sarjo menyimpan kisah perjuangan panjang.
Pada 1992, saat berusia 37 tahun, ia mengalami gangguan penglihatan akibat virus herpes. Upaya operasi yang dijalaninya justru berujung pada hilangnya fungsi penglihatan.
Baca juga: Hari Keempat Operasional Haji 2026, 15.349 Jamaah Telah Diberangkatkan
Vonis dokter bahwa matanya tak dapat disembuhkan sempat menjadi ujian berat. Namun, kondisi itu tidak membuatnya putus asa.
Dia memilih mendekatkan diri kepada Allah dengan rutin mendengarkan kajian-kajian Islam melalui televisi dan YouTube.
“Saya tiap hari dengarkan kajian ustadz-ustadz, hingga saya semangat dan mantap pada takdir Allah,” katanya. Tekad berhaji pun terus dia pupuk.
Demi mewujudkan cita-cita ke Baitullah, Mbah Sarjo rela menjual pekarangan kebunnya untuk biaya pendaftaran haji dirinya, istri, dan anaknya.
“Pekarangan kebun saya jual untuk daftar haji saya, anak saya, dan istri saya,” tuturnya. Bagi Mbah Sarjo, ibadah haji adalah kewajiban yang harus diupayakan bagi muslim yang mampu.
Prinsip itu yang mendorongnya berjuang maksimal, meski harus mengorbankan harta yang dimiliki. Kisah Mbah Sarjo menjadi potret bahwa keterbatasan bukan halangan untuk memenuhi panggilan Allah.