Lewati ke konten utama
Sabtu, 12 September 2026 / 30 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Adidas
Adidas Ilustrasi - Photo by CHUTTERSNAP on Unsplash
Berita

Gelombang Seruan Boikot Adidas Menguat, Publik Sebut tak Punya Empati

Gelombang Seruan Boikot Adidas Menguat, Publik Sebut tak Punya Empati

/ 30 Rabiul Awal 1448 H 4 menit baca 81 dibaca

 Washington, MUI Digital- Adidas menghadapi seruan boikot setelah menampilkan mantan tentara Israel, Shalev Biton, dalam kampanye untuk mempromosikan Single Shoe Service, sebuah layanan yang memungkinkan pelanggan yang hanya membutuhkan satu sepatu untuk membeli sepatu secara satuan, bukan sepasang.

Sejumlah aktivis hak asasi manusia dan pengguna media sosial menyerukan boikot terhadap Adidas. Mereka mempertanyakan keputusan perusahaan tersebut menggunakan mantan anggota militer Israel untuk mempromosikan program yang berkaitan dengan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, di tengah perang di Gaza.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 5.000 amputasi traumatis pada anggota tubuh telah terjadi di Gaza sejak Oktober 2023.

Pelibatan Biton, yang kehilangan kaki kirinya setelah terluka dalam pertempuran di sekitar Gaza pada Mei 2021, memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana Adidas memandang persoalan disabilitas dalam konteks perang Israel di Gaza yang dituduh sebagai genosida.

Menurut perkiraan WHO yang dirilis pada Mei 2026, lebih dari 5.000 amputasi traumatis dan lebih dari 22 ribu cedera berat pada anggota tubuh telah terjadi di Gaza sejak Oktober 2023.

Laporan terbaru UNICEF mengenai kebutuhan kemanusiaan di Palestina menyebut lebih dari 11.000 anak mengalami cedera yang mengubah kehidupan hingga 3 Februari 2026.

Sementara itu, laporan CNN pada Januari 2024 yang mengutip Save the Children dan UNICEF menyebut rata-rata lebih dari 10 anak kehilangan satu atau kedua kaki setiap hari di Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Hingga Desember tahun tersebut, sekitar 1.000 anak dilaporkan telah kehilangan satu atau kedua kaki mereka. WHO juga melaporkan bahwa 2.277 penyandang amputasi telah menjalani evaluasi antara September 2024 hingga Mei 2026.

Dari jumlah tersebut, 502 orang telah mendapatkan kaki atau anggota tubuh prostetik. WHO mengatakan Gaza masih menghadapi kekurangan besar dalam layanan rehabilitasi dan alat bantu bagi penyandang disabilitas.

Organisasi itu secara terpisah juga melaporkan bahwa lebih dari 42 ribu orang di Gaza mengalami cedera yang membutuhkan rehabilitasi jangka panjang.

Para pengkritik mempertanyakan apakah warga Palestina yang kehilangan anggota tubuh mendapatkan perhatian yang sama dalam pembahasan mengenai aksesibilitas dan kebutuhan penyandang disabilitas.

Sebagian besar kritik diarahkan bukan pada Single Shoe Service itu sendiri, melainkan pada pilihan Adidas terhadap Biton sebagai wajah kampanye serta situasi politik yang melatarbelakangi perang di Gaza.

Kampanye tersebut juga memicu perdebatan di media sosial mengenai keputusan Adidas menjadikan Biton sebagai perwakilan kampanye, mengingat latar belakang militernya dan konteks konflik Gaza.

Aktor Spanyol Javier Bardem bahkan menyerukan kepada para pengikutnya untuk memboikot Adidas melalui unggahan di media sosial setelah perusahaan itu mempromosikan Single Shoe Service di Israel dengan menampilkan Biton, mantan tentara Israel.

Adidas memperkenalkan Single Shoe Service di Eropa pada 19 Januari 2026 dan secara resmi mengumumkannya pada Maret. Perusahaan mengatakan layanan tersebut tersedia di toko-toko milik Adidas di 23 negara Eropa.

Kontroversi Adidas Sebelumnya terkait Bella Hadid Kritik terbaru terhadap Adidas muncul dua tahun setelah perusahaan tersebut menghadapi kontroversi lain terkait perlakuannya terhadap model keturunan Amerika-Palestina, Bella Hadid.

Pada Juli 2024, Adidas mencopot Hadid dari kampanye sepatu retro yang mengangkat tema Olimpiade Munich 1972 setelah Israel mengkritik keterlibatannya.

Hadid selama ini dikenal terbuka menyuarakan dukungannya terhadap hak-hak rakyat Palestina. Menurut Daily Mail, yang mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Hadid kemudian menyewa tim hukum.

Adidas selanjutnya meminta maaf kepada Hadid dan mitra kampanye lainnya. Perusahaan menyatakan: “Kami melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Kami juga meminta maaf kepada para mitra kami, Bella Hadid, A$AP Nast, Jules Kounde, dan lainnya atas dampak negatif yang mereka alami. Kami sedang merevisi kampanye tersebut.”

Namun, Adidas tidak membatalkan keputusannya untuk mengeluarkan Hadid dari kampanye. Keputusan itu kemudian memicu seruan boikot terhadap Adidas di media sosial. Seorang pengguna media sosial menulis:

“Bella Hadid adalah pahlawan! Semoga @adidas merasakan dampak boikot.” Pengguna lainnya menulis: “Maaf, teman-teman. Saya tidak akan membeli Adidas karena perlakuan pengecut mereka terhadap Bella Hadid.”


Aktivis Palestina Sami Al-Arian, yang juga menjabat Direktur Center for Islam and Global Affairs di Istanbul Zaim University, mengatakan kepada Anadolu bahwa Adidas telah melakukan tindakan yang ia sebut sebagai menargetkan selebritas dan tokoh terkenal yang mendukung perjuangan Palestina.

“Saya kira sangat mungkin akan terjadi boikot terhadap produk Adidas. Mereka harus belajar dengan cara yang keras dengan melihat keuntungan mereka terdampak, karena selama ini mereka lebih memilih keuntungan daripada prinsip,” ujar Al-Arian.

Ia juga menyebut perlakuan Adidas terhadap Hadid sebagai  uncak kemunafikan dalam menyikapi persoalan Palestina. Sementara itu, komentator politik Inggris Sami Hamdi mengatakan kepada Anadolu bahwa Adidas dapat menghadapi konsekuensi serupa dengan sejumlah merek besar lainnya yang menjadi sasaran gerakan boikot terkait perang di Gaza.

“McDonald’s, Starbucks, KFC, dan merek-merek lainnya sudah merasakan dampak gerakan boikot di negara-negara mayoritas Muslim. Banyak dari merek tersebut bahkan terpaksa menutup sejumlah besar gerai. Kini sudah ada seruan untuk memboikot Adidas dengan cara yang sama,” kata Hamdi.

BAGIKAN: