Fenomena “Algorithmic Religion”, Tantangan Baru MUI di Era Digital Jadi Fokus Munas XI
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID – Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Masduki Baidlowi, mengingatkan adanya tantangan baru yang tengah dihadapi umat Islam di era digital.
Tantangan tersebut yaitu munculnya fenomena yang dia sebut sebagai algorithmic religion orientasi keagamaan yang terbentuk oleh sistem algoritma media sosial dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Hal itu disampaikan Kiai Masduki dalam konferensi pers menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) MUI, di Kantor MUI, Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Dia menilai, kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mencari dan mempelajari agama.
“Sekarang fenomenanya anak muda belajar agama bukan lagi dari ustaz atau lembaga seperti MUI, tapi dari algoritma. Mereka bertanya ke mesin pencarian atau media sosial. Ini fenomena baru yang berpotensi berbahaya karena algoritma itu alat yang tekstual, memotong ayat tanpa konteks,” ujar kiai Masduki kepada MUIDigital di Kantor MUI Pusat, di Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Kiai Masduki menjelaskan bahwa berdasarkan survei terkini, lebih dari 60 persen populasi Indonesia kini didominasi oleh generasi muda milenial, generasi Z, dan generasi alpha yang sebagian besar memperoleh pemahaman keagamaan dari ruang digital, bukan dari lembaga otoritatif.
Dia menyebut fenomena ini sebagai perubahan sosial yang sangat cepat, di mana kepercayaan terhadap sumber otoritatif mulai bergeser ke tokoh-tokoh atau konten yang direkomendasikan algoritma.
“Survei menunjukkan, orientasi keagamaan anak muda tidak lagi ke MUI, NU, atau Muhammadiyah, tetapi kepada apa yang muncul di algoritma seperti Gus Baha, Ustaz Adi Hidayat, dan lainnya. Ini tantangan serius bagi MUI,” kata Masduki.
Menurutnya, fenomena ini tidak bisa dihindari, tetapi harus direspons dengan bijak. MUI lanjutnya perlu menguatkan kehadirannya di ruang digital dan memastikan literasi keagamaan masyarakat tetap berpijak pada pemahaman yang otentik dan moderat.
“Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tapi MUI harus hadir di dalamnya. Tantangan kita bukan hanya soal konten, tetapi bagaimana nilai dan fatwa keagamaan bisa sampai kepada umat melalui ekosistem digital yang sehat,” imbuhnya.
Kiai Masduki berharap Munas XI MUI pada 20 November mendatang dapat menjadi momentum untuk memperkuat strategi dakwah dan komunikasi keagamaan MUI agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai otoritatif dan keulamaan.
“MUI harus mampu menjawab tantangan era digital. Kita harus hadir di ruang algoritma, agar umat tidak kehilangan arah dalam beragama,” tegasnya. (Miftahul Jannah, ed: Muhammad Fakhruddin)