Besok, Kiai Ma'ruf Amin akan Luncurkan Buku "Wasiat" NU Sambut Muktamar
Jakarta, MUI Digital— KH Ma'ruf Amin akan meluncurkan buku berjudul "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin" di Hotel Grand Sahid Jaya, Rabu malam (5/8/2026) besok.
Buku setebal lebih dari 600 halaman ini hadir pada momen yang disebut para pengamat sebagai "krusial" bagi perjalanan organisasi Islam terbesar di dunia itu. Muktamar ke-35 NU akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026.
Buku yang ditulis Hj. Siti Haniatunnisa dan H. Muhammad Zainal Arifin itu mengupas tuntas tiga pilar utama yang menurut Kiai Ma'ruf harus menjadi fondasi NU: fikroh (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan).
Dalam pengantarnya, Kiai Ma'ruf—yang lahir 11 Maret 1943 atau kini berusia 83 tahun—menegaskan bahwa NU tidak boleh dipahami sekadar sebagai organisasi administratif. "NU adalah sistem yang hidup," katanya di hadapan para kiai, akademisi, dan undangan.
Pernyataan itu menggemakan arahannya beberapa pekan sebelumnya dalam pertemuan masyayikh di Bangkalan, Madura, 23 Juni lalu. Saat itu dia mengingatkan, "Jangan dibiarkan NU itu dilepas tanpa arah, tanpa irsyadat (petunjuk), tanpa taujihat (bimbingan)."
Buku ini, menurut keterangan panitia, merangkum pemikiran Kiai Ma'ruf selama lima dekade lebih berkecimpung di NU.
Dia adalah salah satu perumus Sistem Pengambilan Keputusan Hukum Islam di lingkungan NU pada Munas Alim Ulama Lampung 1992. Dijuluki "Singa" Bahtsul Masail karena kedalaman ilmiahnya dalam forum-forum hukum Islam.
Kiai Ma'ruf yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini menegaskan kembali pentingnya khittah—garis perjuangan yang diletakkan para pendiri NU.
Baca juga: Merajut Teologi dan Republik, Membaca Visi Kemandirian Ekonomi Kiai Ma'ruf Amin
"Khitthah itu mā 'alaihim mu'assisūn, apa yang dilakukan para pendiri, min aqwālihim (ucapan mereka), wa af'ālihim (perbuatan mereka), wa khathawātihim (langkah-langkah mereka), wa harakātihim (gerakan mereka), wa afkārihim (cara berpikir mereka), serta wa taqlībātihim (cara mereka menyikapi sesuatu)," ujarnya.
Peluncuran buku ini berada di persimpangan tiga momentum besar. Hanya sepuluh hari sebelumnya, MUI genap berusia 51 tahun pada 26 Juli 2026—organisasi yang dipimpin Kiai Ma'ruf sebagai Ketua Umum periode 2015-2020 dan kini menjabat Ketua Dewan Pertimbangan MUI 2025-2030.
Kurang dari dua pekan lagi, Indonesia akan memperingati kemerdekaan ke-81 pada 17 Agustus 2026. Dan akhir bulan ini, NU akan menyelenggarakan Muktamar ke-35 di Jombang.
Buku ini, kata penulisnya, lahir dari kegelisahan bahwa "keberagamaan umat sering kali berjalan kuat dalam bentuk amaliyah, tradisi, dan kebiasaan, tetapi tidak selalu diiringi pemahaman yang mendalam terhadap fikroh, manhaj, dan arah gerakannya."
Dalam kata pengantar, KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo yang juga Mustasyar PBNU, mengingatkan: "Jaddū al-safīnata fa-inna al-bahra 'amīq" — perbaharuilah perahu kalian, karena lautan itu dalam.
Tiga fungsi gerakan
Kiai Ma'ruf memaparkan bahwa gerakan Nahdhiyyah bekerja dalam tiga fungsi: himāyah (menjaga), iṣlāḥ (memperbaiki), dan taqwiyah (menguatkan). Ketiganya diaplikasikan dalam tiga bidang: harakah diniyyah (keagamaan), harakah waṭhaniyyah (kebangsaan), dan harakah iqtiṣādiyyah (ekonomi).
Bidang ekonomi mendapat perhatian khusus. Buku ini mengangkat sejarah Nahḍat at-Tujjār (1918) yang digagas KH Abdul Wahab Hasbullah serta Gerakan Koin NU yang dimulai dari Sragen dan kini meluas secara nasional.
"Alā Baṣhīrah"
Penutup buku menegaskan pentingnya ber-NU 'alā baṣhīrah—dengan pemahaman, keyakinan, dan hujjah yang jelas—bukan sekadar karena warisan keluarga atau kebiasaan. Di usia ke-83, Kiai Ma'ruf mewariskan sebuah peta jalan: bahwa NU harus bergerak dari kuantitas menuju kualitas di abad kedua.
Acara ini akan dihadiri para kiai sepuh, termasuk sejumlah anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA)—forum yang akan menentukan kepemimpinan NU selanjutnya dalam Muktamar mendatang.