Lewati ke konten utama
Kamis, 16 Juli 2026 / 1 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Intimidasi dan Kekerasan Verbal: Antara Lisan dan Kezaliman

4 menit baca 138 dibaca
Ahmad Yani, M.A

Oleh: Ahmad Yani, M.A

Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Intimidasi dan Kekerasan Verbal: Antara Lisan dan Kezaliman
Ilustrasi seseorang yang merasa tertekan akibat kekerasan verbal yang dilontarkan orang lain kepadanya. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Pada sekitar akhir bulan Juni 2026, publik dikagetkan dengan dugaan sebuah peristiwa intimidasi yang membuat seorang tenaga medis di Nusa Tenggara Timur (NTT) tertekan dan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri.

Peristiwa intimidasi berawal dari pertolongan medis terhadap pasien yang terkena gigitan ular. Diduga dokter yang menangani pasien kurang memberikan penanganan yang maksimal. Tapi hal ini dibantah oleh pihak rumah sakit dan ditegaskan bahwa penanganannya telah sesuai SOP.

Intimidasi menjadi ramai dan pemberitaannya luar biasa viral karena diduga melibatkan anggota legislatif daerah yang terhormat, yang seharusnya berjuang bersama rakyat dalam membenahi berbagai ketimpangan sosial dan persoalan tata kelola daerah, termasuk tata kelola di dunia kesehatan.

Ternyata belakangan terbukti, pasien telah sembuh. Sementara intimidasi yang terlanjur dilakukan telah membuat hidup seorang dokter tertekan dan bahkan merenggut nyawanya. Sungguh ironis.

Baca juga: Ketika Debat Kehilangan Adab

Memang sekarang ini sejatinya kita hidup di zaman ketika orang merasa bebas berbicara apa saja, tanpa sadar bahwa kata-kata bisa lebih melukai daripada luka fisik. Intimidasi, ejekan, sindiran tajam, bahkan ujaran kebencian kini sering dianggap “hal biasa”.

Di media sosial, di tempat kerja, di rumah tangga, bahkan di mimbar-mimbar yang seharusnya menenangkan, lisan sering berubah menjadi alat kekerasan.

Ironisnya, banyak yang merasa tidak bersalah. “Saya kan cuma ngomong,” begitu dalih yang kerap terdengar. Padahal, dalam pandangan Islam, “cuma kata-kata” justru bisa menjadi sumber kezaliman yang paling berbahaya.

Alquran sejak awal telah mengingatkan dengan tegas: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11). Ayat ini bukan sekadar etika sosial, tetapi peringatan spiritual: merendahkan orang lain sejatinya adalah cermin dari kerendahan diri sendiri.

Lebih jauh lagi, Allah memerintahkan: “Katakanlah perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53). Menariknya, para ulama seperti Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat ini bukan hanya sebagai anjuran berkata baik, tetapi larangan keras terhadap segala ucapan yang berpotensi melukai.

Rasulullah SAW bahkan menempatkan lisan sebagai indikator utama kualitas keislaman seseorang: “Seorang muslim adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis ini, lisan disebut lebih dulu daripada tangan, seakan memberi pesan bahwa kekerasan verbal sering menjadi pintu awal segala bentuk kezaliman.

Sayangnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Kita menyaksikan budaya komunikasi yang semakin kasar. Di media sosial, orang berlomba-lomba menjadi paling pedas. Di dunia kerja, sebagian pemimpin merasa wajar merendahkan bawahan demi “kedisiplinan”. Di rumah, kata-kata kasar kerap dianggap bagian dari “mendidik”.

Padahal, psikologi modern telah lama menegaskan bahwa kekerasan verbal dapat meninggalkan luka yang dalam, trauma, hilangnya rasa percaya diri, bahkan depresi. Luka ini tidak terlihat, tetapi menetap. Tidak berdarah, tetapi membekas.

Islam jauh lebih dahulu memahami ini. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa dosa lisan, seperti menghina, mencela, atau mempermalukan, semua bersumber dari penyakit hati, antara lain kesombongan, iri, dan kemarahan yang tak terkendali. Lisan hanyalah pintu keluar sementara, tetapi sumbernya ada di dalam jiwa.

Sementara Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa menyakiti orang lain tanpa hak, baik dengan tangan maupun ucapan, adalah bentuk kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada “kata-kata yang sepele” dalam timbangan Allah.

Baca juga: Cinta dan Kekerasan: Kelembutan Hati yang Berubah Arah

Di era digital, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Ujaran kebencian tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu. Satu kalimat bisa menyebar ke ribuan orang dalam hitungan detik. Yusuf al-Qaradawi menyebut fenomena ini sebagai bentuk baru kezaliman yaitu kekerasan verbal yang terakumulasi dan meluas tanpa kontrol.

Yang lebih mengkhawatirkan, intimidasi kini juga sering tampil dalam bentuk yang halus. Bukan lagi bentakan, tetapi tekanan psikologis. Bukan lagi hinaan langsung, tetapi sindiran yang merendahkan. Bukan lagi ancaman terbuka, tetapi pembungkaman dengan kekuasaan. Semua ini tetaplah kezaliman, meski dibungkus dengan bahasa yang tampak “sopan”.

Di sinilah Islam menawarkan jalan yang sederhana namun mendasar, yaitu mengendalikan lisan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari). Ini bukan sekadar etika, tetapi disiplin spiritual.

Berbicara dalam Islam bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga soal dampak. Apakah kata-kata kita menyembuhkan atau melukai? Menguatkan atau meruntuhkan? Mendekatkan atau menjauhkan?

Baca juga: Mendidik Anak: Tafsir Parenting dalam Kisah Nabi Musa dan Khidir

Kita mungkin tidak bisa menghentikan orang lain untuk berkata kasar. Tetapi kita bisa memutus rantai itu dari diri sendiri. Karena perubahan budaya selalu dimulai dari kesadaran individu.

Lisan adalah amanah. Ia bisa menjadi jalan menuju surga atau sebaliknya justru menyeret ke dalam kehancuran.

Dalam dunia yang semakin bising dan hiruk-pikuk oleh kata-kata, barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah lebih banyak suara, tetapi lebih banyak kesadaran. Sebab bisa jadi, satu kalimat yang kita anggap biasa adalah luka yang tak pernah sembuh bagi orang lain.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.