Lewati ke konten utama
Kamis, 16 Juli 2026 / 1 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Dari Masjid Saad bin Abi Waqqash hingga Kampus Ternama Guangdong: Catatan Muhibah KH Abdul Manan di Negeri Tirai Bambu

5 menit baca 119 dibaca
KH Abdul Manan
Ketua Bidang Dakwah MUI KH Abdul Manan. Foto: Fitri/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Langkah kaki rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memasuki kompleks Masjid Saad bin Abi Waqqash di Guangzhou seakan membawa mereka menembus lorong sejarah. 

Di masjid yang diyakini memiliki keterkaitan dengan jejak awal Islam di Tiongkok itu, Ketua Bidang Dakwah MUI KH Abdul Manan merasakan denyut kehidupan Islam yang tetap tumbuh dan terpelihara di tengah pesatnya modernisasi Negeri Tirai Bambu.

Bersama sekitar 20 anggota delegasi MUI, Kiai Abdul Manan mengikuti kunjungan muhibah ke Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. 

Muhibah tersebut tidak sekadar menjadi perjalanan silaturahim, melainkan juga bagian dari upaya memperkuat hubungan antarmasyarakat (people-to-people diplomacy), memperluas kerja sama pendidikan, serta membuka ruang dialog peradaban antara Indonesia dan Tiongkok. 

“Alhamdulillah, kami berkunjung ke berbagai tempat, termasuk masjid-masjid bersejarah. Salah satunya Masjid Sahabat Abi Waqqash. Ketika shalat Jumat di sana, jamaahnya mencapai sekitar 1.500 orang,” tutur Kiai Abdul Manan saat berbagi pengalaman sepulang dari Guangdong, kepada MUI Digital, di Jakarta, Rabu (15/7/2026). 

Pemandangan ribuan jamaah memenuhi masjid menjadi kesan tersendiri bagi dirinya. Di tengah berbagai persepsi yang berkembang mengenai kehidupan beragama di Tiongkok, ia menyaksikan secara langsung bagaimana umat Islam tetap menjalankan aktivitas ibadah dan pembinaan keagamaan.

Selain mengunjungi Guangzhou, delegasi MUI juga mendatangi Shenzhen, kota yang dikenal sebagai salah satu pusat inovasi dan teknologi dunia. 

Baca juga: Lebarkan Sayap Diplomasi "People-to-People", MUI Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Kampus Ternama Tiongkok Selatan

Di sana, rombongan mengunjungi sejumlah institusi pendidikan tinggi, bertemu pengurus masjid, serta meninjau industri kendaraan listrik yang menjadi simbol transformasi ekonomi Tiongkok.

Kiai Abdul Manan mengaku terkesan dengan kecepatan pembangunan yang terjadi di berbagai wilayah yang dikunjunginya.

Infrastruktur modern, transportasi yang tertata, hingga kawasan industri berteknologi tinggi memperlihatkan wajah Tiongkok yang terus bergerak maju.

63447c62-1639-4dd5-8cf4-904ef259d66b

Menurutnya, salah satu faktor penting yang menopang kemajuan tersebut adalah keseriusan pemerintah dalam menjaga tata kelola pemerintahan dan memberantas korupsi.

“Yang menarik bagi saya, pembangunan di sana sangat pesat. Karena itu Indonesia juga harus bersih dari korupsi agar anggaran negara benar-benar digunakan untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Pandangan itu lahir dari pengamatan langsung selama kunjungan. Baginya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya, tetapi juga oleh integritas dalam mengelola amanah publik.

Jembatan 

Muhibah MUI ke Guangdong juga membawa misi yang lebih jauh, yakni membangun jembatan pendidikan antara umat Islam Indonesia dan komunitas Muslim Tiongkok.

Dalam sejumlah pertemuan dengan perguruan tinggi, termasuk universitas yang memiliki Program Studi Bahasa Indonesia, delegasi MUI membahas peluang pertukaran akademik, dialog ilmiah, dan kerja sama pendidikan. 

Sebelumnya, pihak Universitas Guangdong bahkan menyampaikan ketertarikan untuk memperluas program pertukaran cendekiawan dan dialog akademik dengan Indonesia. 

Melalui Ketua Bidang Infokom dan Digitalisasi MUI, KH Masduki Baidlowi, MUI menawarkan beasiswa penuh bagi pemuda Muslim Tiongkok yang ingin mendalami ilmu-ilmu keislaman di Indonesia.

“Majelis Ulama Indonesia menawarkan beasiswa 100 persen bagi pemuda-pemuda dari China yang ingin belajar keislaman di Indonesia, khususnya di pesantren,” kata Kiai Abdul Manan.

Tawaran tersebut mencerminkan keyakinan bahwa pesantren Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam membangun tradisi keilmuan Islam yang moderat, inklusif, dan berakar kuat pada kehidupan masyarakat.

Bagi MUI, pertukaran pelajar dan kader muda Muslim bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga investasi peradaban yang akan mempererat hubungan kedua bangsa dalam jangka panjang. 

Sebagai Ketua Bidang Dakwah MUI, perhatian Kiai Abdul Manan tentu tidak lepas dari perkembangan kehidupan umat Islam di Tiongkok. Ia menilai medan dakwah di sana memiliki karakteristik yang berbeda dengan Indonesia.

Baca juga: Viral Croissant ‘Berambut’ Mirip Bulu Kemaluan, Ketua MUI Prof Ni'am: Tak Bisa Disertifikasi Halal

Menurutnya, tantangan utama bukan semata-mata dakwah kepada masyarakat non-Muslim, melainkan bagaimana memperkuat pembinaan dan pendidikan umat Islam yang sudah ada.

“Kalau dakwah kepada non-Muslim tentu memiliki tantangan tersendiri. Karena itu pembinaan terhadap umat Islam menjadi sangat penting,” jelasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan semangat MUI yang selama ini menempatkan penguatan kualitas umat sebagai fondasi utama dakwah. 

Di berbagai negara, model pembinaan yang berkelanjutan dinilai lebih efektif dalam menjaga identitas keislaman sekaligus membangun hubungan harmonis dengan masyarakat luas.

3ef499cf-9892-48c2-89d1-3c5969fe7a3a

Di tengah berbagai kesan yang dibawa pulang dari Guangdong, Kiai Abdul Manan juga melihat satu keunggulan yang dimiliki Indonesia dan patut terus dirawat: partisipasi umat dalam membangun dan memakmurkan masjid.

Menurutnya, sebagian besar masjid di Indonesia berdiri karena gotong royong masyarakat. Tradisi itu merupakan kekuatan sosial yang tidak ternilai.

“Kalau masjid-masjid di Indonesia sebagian besar dibangun oleh masyarakat. Ini menjadi kekuatan umat Islam Indonesia yang harus terus dijaga,” katanya.

Muhibah ke Guangdong pada akhirnya bukan hanya perjalanan melihat kemajuan Tiongkok, tetapi juga momentum refleksi. Delegasi MUI belajar tentang disiplin pembangunan, penguasaan teknologi, dan tata kelola yang efektif. 

Di saat yang sama, mereka membawa pengalaman Indonesia dalam mengembangkan pendidikan Islam, pesantren, dan partisipasi masyarakat dalam syiar keagamaan.

Dari masjid bersejarah yang mengingatkan jejak awal Islam di Tiongkok hingga kampus-kampus modern yang membuka peluang kolaborasi masa depan, perjalanan itu menunjukkan bahwa dialog antarbangsa tidak selalu dimulai dari ruang diplomasi formal.

Ia bisa tumbuh dari silaturahim, pertukaran ilmu, dan keinginan bersama untuk membangun peradaban yang lebih baik.