Amalan Ulama Memasuki Tahun Baru Hijriyah
Jakarta, MUI Digital — Tahun Baru Hijriyah merupakan salah satu momentum penting dalam kalender Islam yang diperingati setiap tanggal 1 Muharram.
Berbeda dengan pergantian Tahun Baru Masehi
yang kerap diwarnai berbagai bentuk perayaan dan hiburan, datangnya tahun baru
dalam tradisi Islam lebih dimaknai sebagai waktu untuk melakukan muhasabah
(koreksi diri), memperbanyak doa, serta memperbarui komitmen dalam mendekatkan
diri kepada Allah SWT.
Momentum ini menjadi kesempatan bagi setiap muslim untuk mengevaluasi perjalanan hidup yang telah dilalui sekaligus menata langkah menuju masa depan yang lebih baik. Karena itu, para ulama sejak dahulu memberikan perhatian khusus terhadap berbagai amalan yang dianjurkan pada pergantian tahun Hijriyah, salah satunya adalah membaca doa awal tahun.
Baca juga: Doa Akhir Tahun Islam 1447 H: Arab, Latin, Terjemahan, dan Keutamaannya
Dalam kitab Mir’at az-Zaman fi Tawarikh
al-A’yan, Syekh Syamsuddin Abu al-Mudhaffar Yusuf Sibth Ibn al-Jauzi (wafat
654 H) menuturkan bahwa gurunya pernah mengajarkan sebuah doa yang dibaca pada
awal tahun. Menurut beliau, para masyayikh terdahulu senantiasa menjaga amalan
tersebut dan tidak pernah meninggalkannya sepanjang hidup mereka.
عَلَّمَنِي دُعَاءَ السَّنَةِ،
فَقَالَ: مَا زَالَ مَشَايِخُنَا يُوَاظِبُونَ عَلَى هَذَا الدُّعَاءِ فِي أَوَّلِ
كُلِّ سَنَةٍ وَآخِرِهَا، وَمَا فَاتَنِي طُولَ عُمْرِي
“Para guru kami senantiasa membiasakan
diri membaca doa ini pada awal dan akhir setiap tahun. Sepanjang hidupku, aku
tidak pernah meninggalkannya.” (Mir’at az-Zaman
fi Tawarikh al-A’yan [Damaskus: Dar ar-Risalah al-Alamiah], vol. 22, h.
180)
Sebagian ulama menjelaskan bahwa sebelum
membaca doa awal tahun, dianjurkan terlebih dahulu membaca Ayat Kursi sebanyak
360 kali dengan disertai bacaan basmalah pada setiap pengulangannya.
Setelah rangkaian bacaan tersebut selesai,
kemudian dilanjutkan dengan doa berikut:
اللَّهُمَّ يَا اللهُ يَا مُحَوَّلَ
الْأَحْوَالِ؛ حَوِّلْ حَالِي إِلَى أَحْسَنِ الْأَحْوَالِ، بِحَوْلِكَ
وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيزُ يَا مُتَعَالٍ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allāhumma yā Allāhu yā Muḥawwilal-Aḥwāl,
ḥawwil ḥālī ilā aḥsanil-aḥwāl, biḥaulika wa quwwatika yā ‘Azīzu yā Muta’āl. Wa shallallāhu
ta‘ālā ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihī wa shaḥbihī wa sallam.
Artinya: “Ya Allah, wahai Allah, wahai Dzat yang mengubah segala keadaan, ubahlah keadaanku kepada keadaan yang paling baik dengan daya dan kekuatan-Mu, wahai Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahatinggi. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Rasulullah Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.”
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
Berkenaan dengan amalan ini, Syekh Sayyid
Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat 1304 H) mengutip keterangan sebagian ulama bahwa
membaca Ayat Kursi sebanyak 360 kali pada hari pertama Muharram merupakan
amalan yang memiliki banyak keutamaan.
Selain menjadi benteng dari gangguan setan
sepanjang tahun, amalan tersebut juga mengandung berbagai manfaat dan
keberkahan yang sangat besar.
قَالَ شَيْخُنَا السَّيِّدُ أَحْمَدُ
بْنُ زَيْنِي دَحْلَانْ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: ذَكَرَ بَعْضُهُمْ أَنَّهُ
يُقْرَأُ فِي أَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ آيَةُ الْكُرْسِيِّ ثَلَاثَ
مِائَةٍ وَسِتِّينَ مَرَّةً مَعَ الْبَسْمَلَةِ فِي كُلِّ مَرَّةٍ؛ فَإِنَّهَا
حِصْنٌ حَصِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فِي ذَلِكَ الْعَامِ، وَفِيهَا مِنَ
الْفَوَائِدِ مَا لَا يُعَدُّ وَلَا يُحَدُّ، وَيَنْبَغِي فِعْلُهَا قَبْلَ
الدُّعَاءِ
“Guru kami Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan berkata: Sebagian ulama menyebutkan bahwa pada hari pertama bulan Muharram disunnahkan membaca Ayat Kursi sebanyak tiga ratus enam puluh kali dengan membaca basmalah pada setiap kali bacaan. Sebab, bacaan tersebut merupakan benteng yang kokoh dari gangguan setan terkutuk selama tahun itu. Di dalamnya juga terdapat berbagai manfaat yang tidak terhitung dan tidak terbatas. Dan sebaiknya bacaan itu dilakukan sebelum membaca doa.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 66)
Baca juga: Doa Awal Tahun Baru Islam 1448 H: Arab, Latin, Terjemahan, dan Keutamaannya
Mengingat besarnya keutamaan amalan ini di Tahun Baru Hijriyah, maka sepatutnya sebagai seorang muslim yang beriman kita harus menaruh perhatian yang besar pula. Jangan sampai Tahun Baru Islam dilalui begitu saja tanpa makna, apalagi menodainya dengan kemaksiatan.
Dengan melakukan amal kebaikan berupa dzikir dan doa di awal Tahun Baru Hijriyah, kita lalu berikhtiar dan berharap agar selalu bisa melakukan berbagai kebaikan di lembaran hidup yang baru. Amin.