Wisata Religi Muktamar NU, Menelusuri Empat Makam Tokoh Penting di Pesantren Bahrul Ulum
Jombang, MUI Digital--Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tak hanya menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang telah melahirkan banyak ulama. Pesantren yang memiliki sejarah panjang sejak abad ke-19 ini juga menyimpan jejak perjuangan para masyayikh yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Nahdlatul Ulama dan perkembangan pesantren di Jawa Timur.
Di tengah rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Bahrul Ulum, para muktamirin maupun pengunjung yang datang ke Tambakberas dapat menyempatkan diri melakukan wisata religi dengan berziarah ke sejumlah maqbarah tokoh penting.
Empat di antaranya adalah maqbarah KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Abdul Fattah Hasyim, KH Abdul Hamid Chasbullah, dan KH Usman.
Baca juga: Komisi VIII DPR RI Apresiasi Kesiapan Pesantren Bahrul Ulum Jombang Sambut Muktamar ke-35 NU
Keempat tokoh tersebut memiliki perjalanan hidup, kiprah keilmuan, serta hubungan kekerabatan yang memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan dan kepesantrenan di Tambakberas terus tersambung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
1. Maqbarah KH Abdul Wahab Chasbullah
Nama KH Abdul Wahab Chasbullah tidak dapat dipisahkan dari sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum maupun Nahdlatul Ulama.
Pahlawan Nasional tersebut lahir di lingkungan Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 17 Oktober 1887. Beliau merupakan putra sulung KH Chasbullah Said dan Nyai Lathifah. Dari keluarga inilah lahir sejumlah tokoh pesantren yang kemudian memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Islam di Indonesia.
Mbah Wahab dikenal sebagai salah satu tokoh sentral dalam pendirian dan penggerakan Nahdlatul Ulama. Kiprahnya tidak hanya berlangsung dalam lingkungan pesantren, tetapi juga dalam bidang pendidikan, sosial, kebangsaan, dan perjuangan organisasi.
Menjelang Muktamar ke-35 NU, tradisi ziarah ke makam Mbah Wahab kembali menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Pada 26 Agustus 2026, misalnya, KH Ma'ruf Amin juga melakukan ziarah ke makam Mbah Wahab di Pondok Pesantren Bahrul Ulum sebagai bagian dari rangkaian pra-Muktamar.
2. Maqbarah KH Abdul Fattah Hasyim
Tokoh berikutnya adalah KH Abdul Fattah Hasyim, salah seorang masyayikh penting dalam perkembangan pendidikan di Bahrul Ulum.
KH Abdul Fattah Hasyim lahir di Kapas, Jombang. Beliau lahir pada 1911. Beliau merupakan putra KH Hasyim Idris dan Nyai Fathimah Hasbullah. Dari jalur ibunya, beliau memiliki hubungan keluarga dengan KH Abdul Wahab Chasbullah.
Kiai Fattah dikenal sebagai sosok yang sangat istiqamah dalam mengajar. Dedikasinya terhadap pendidikan membuatnya dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan pendidikan pesantren di Tambakberas.
Selain mengajar para santri, Kiai Fattah juga dikenal dekat dengan masyarakat. Pada 1964, beliau mengadakan pengajian rutin yang dilaksanakan secara bergiliran dari satu langgar ke langgar lainnya. Tradisi pengajian tersebut bahkan terus berlangsung setelah beliau wafat.
Kiai Fattah wafat pada 27 April 1977 dan dimakamkan di Tambakberas. Kompleks makam beliau menjadi salah satu maqbarah yang dapat dikunjungi untuk mengenang sosok ulama yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan dan kehidupan masyarakat.
3. Maqbarah KH Abdul Hamid Chasbullah
Tidak jauh dari jejak keluarga besar Mbah Wahab, terdapat maqbarah KH Abdul Hamid Chasbullah.
Kiai Hamid merupakan putra kedua dari delapan bersaudara pasangan KH Chasbullah Said dan Nyai Lathifah. Dengan demikian, beliau adalah adik kandung KH Abdul Wahab Chasbullah. Dalam keluarga tersebut juga terdapat Nyai Khadijah yang menjadi istri KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU dan pendiri Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar.
Kiai Hamid menempuh perjalanan pendidikan di sejumlah pesantren, antara lain Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Langitan, Tebuireng, dan Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Munawwir. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan keilmuannya hingga ke Makkah.
Kiai Hamid wafat pada 18 April 1956. Semasa hidup, Kiai Hamid dikenal sebagai sosok yang zuhud, wara', sederhana, dan istiqamah dalam berkhidmat kepada pesantren. Beliau juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap Al-Qur'an. Salah satu peninggalannya adalah mushaf Al-Qur'an 30 juz yang ditulis dengan tangan beliau sendiri.
Maqbarah Kiai Hamid menjadi salah satu tempat yang memperlihatkan eratnya hubungan antara sejarah keluarga besar Tambakberas, tradisi keilmuan pesantren, dan perjalanan awal Nahdlatul Ulama.
4. Maqbarah KH Usman, Jejak Leluhur Keluarga Besar Pesantren
Maqbarah keempat yang menarik untuk diziarahi adalah makam KH Usman, salah seorang tokoh penting dalam mata rantai sejarah pesantren di Tambakberas dan Gedang.
Kiai Usman merupakan menantu KH Abdussalam atau Mbah Shoichah, salah satu perintis awal pesantren di kawasan Tambakberas. Kiai Usman menikah dengan Nyai Layyinah, putri KH Abdussalam. Dari pernikahan tersebut lahir Nyai Halimah atau Winih.
Nyai Halimah kemudian menikah dengan KH Asy'ari. Dari pasangan inilah lahir KH Hasyim Asy'ari, ulama besar yang kelak menjadi pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Dengan demikian, KH Usman merupakan kakek KH Hasyim Asy'ari.
Garis keturunan tersebut kemudian berlanjut hingga KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Karena KH Hasyim Asy'ari merupakan kakek Gus Dur, maka KH Usman berada pada garis leluhur Gus Dur sebagai kakek buyut (canggah) dari Presiden keempat Republik Indonesia tersebut.
Kiai Usman sendiri dikenal sebagai ulama yang memiliki perhatian besar terhadap tasawuf dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan pesantren yang kemudian lahir mata rantai keilmuan yang menghubungkan Tambakberas dan Tebuireng.
Menyusuri Jejak Para Masyayikh di Tambakberas
Keberadaan empat maqbarah tersebut menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Bahrul Ulum bukan hanya sebuah tempat berlangsungnya pendidikan pesantren. Di dalamnya tersimpan jejak panjang perjalanan ulama, keluarga pesantren, pendidikan Islam, dan perjuangan kebangsaan.
Karena itu, di tengah kesibukan mengikuti rangkaian Muktamar ke-35 NU, para muktamirin maupun pengunjung yang datang ke Tambakberas dapat menyempatkan waktu untuk wisata religi dan ziarah ke empat maqbarah tersebut.
Ziarah bukan sekadar mengunjungi makam, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenang jasa para ulama, mendoakan para masyayikh, serta menelusuri kembali sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari Tambakberas, para pengunjung dapat kembali mengingat bahwa perjalanan panjang Nahdlatul Ulama dan tradisi pesantren tumbuh dari perjuangan para ulama yang telah lebih dahulu mengabdikan hidupnya untuk ilmu, umat, dan bangsa.