Lewati ke konten utama
Kamis, 9 Juli 2026 / 23 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Investasi Asing ke Arab Saudi Tumbuh 2,4 Persen pada Kuartal I 2026

3 menit baca 62 dibaca
Bendera Arab Saudi
Bendera Arab Saudi - 3D Illustration - Photo by Akhilesh Sharma on Unsplash
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI)  yang masuk ke Arab Saudi terus menunjukkan tren positif pada awal 2026. 

Kementerian Investasi Arab Saudi mencatat nilai FDI mencapai 26,6 miliar riyal Saudi atau sekitar 7 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026, atau meningkat 2,4 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Dikutip dari laman Saudi Gazette, Kamis (9/7/2026), kinerja investasi tersebut sejalan dengan penguatan sejumlah indikator ekonomi nasional. 

Berdasarkan laporan yang dirilis Kementerian Investasi pada Minggu, 05 Juli 2026, pembentukan modal tetap bruto (gross fixed capital formation) tumbuh 5,1 persen secara tahunan. 

Pertumbuhan ini ditopang oleh lonjakan investasi pemerintah sebesar 54 persen, sementara investasi dari sektor non-pemerintah meningkat 1,3 persen.

Perbaikan juga terlihat di sektor ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran warga negara Saudi turun menjadi 6,4 persen pada kuartal pertama 2026. Sementara itu, tingkat pengangguran secara keseluruhan tercatat hanya 3,1 persen.

Baca juga: Respons Perpres 111/2025, PKS Instruksikan Kader di Daerah Bikin Perda Larangan LGBTQ

Di sisi lain, partisipasi angkatan kerja, warga Saudi mencatat tingkat partisipasi sebesar 49 persen. Adapun tingkat partisipasi angkatan kerja nasional meningkat menjadi 67,2 persen, dengan partisipasi tenaga kerja perempuan Saudi mencapai 33,9 persen.

Kondisi tersebut turut didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang tetap solid. Produk Domestik Bruto (PDB) riil Arab Saudi tumbuh 3 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026. 

Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspansi yang relatif seimbang, masing-masing sebesar 2,9 persen pada sektor minyak dan sektor nonmigas.

Tidak hanya itu, di sektor properti, indeks harga tercatat turun 1,6 persen dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya. 

Baca juga: Melalui Perpres, Prabowo Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Negara Setara dengan Terorisme

Penurunan tersebut dipicu oleh melemahnya harga properti residensial yang turun 3,6 persen. Meski demikian, aktivitas pembiayaan perumahan masih menunjukkan pertumbuhan, dengan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) oleh bank-bank komersial meningkat 6,4 persen  secara tahunan.

Sementara itu, inflasi atau indeks harga konsumen diaporkan meningkat 1,8 persen secara tahunan pada Mei 2026. 

Hal tersebut disebabkan karena adanya dorongan dari kenaikan biaya perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya yang meningkat 3,7 persen. Selain itu, harga transportasi juga naik 1,5 persen, sedangkan tarif restoran dan hotel meningkat 1,7 persen.

Baca juga: MUI Ingatkan UI Soal LGBT: Kampus Terbaik Harus Didik Mental-Spiritual Mahasiswa Baik

Lebih lanjut, dari sisi konsumsi dilaporkan bahwa  nilai transaksi melalui mesin pembayaran elektronik (point-of-sale/POS) tumbuh 6,1 persen secara tahunan pada bulan Mei. 

Peningkatan tersebut mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga di tengah aktivitas ekonomi yang terus berkembang.

Laporan tersebut juga mencatat kenaikan tajam harga minyak mentah Brent yang turut melonjak mencapai harga 103,7 dolar AS per barel atau mengalami peningkatan sebanyak 62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.