Inilah Bukti Rasulullah SAW Terjaga dari Kecil Jauh Sebelum Risalah Kenabian Diturunkan
Admin
Penulis
Foto: freeislamiccalligraphy
JAKARTA, MUI.OR.ID – Nabi Muhammad SAW sejak muda telah dikenal memiliki kepribadian istimewa dan akhlak mulia, jauh berbeda dengan tradisi masyarakat Jahiliyah yang dipenuhi syirik, mabuk-mabukan, dan akhlak tercela.
Dalam kitab Sirah al-Nabawiyah karangan Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, dijlaskan bahwa sejak kecil, Rasulullah SAW sudah dijaga oleh Allah SWT dari perbuatan maksiat. Beliau tidak pernah terjerumus pada penyembahan berhala, tidak menghadiri pesta Jahiliyah, dan tidak menyentuh khamar.
Bahkan ketika masyarakat Makkah terjerat dalam praktik syirik, Nabi SAW tetap bersih dari kesyirikan itu. Allah melindungi beliau dari segala sesuatu yang dapat merusak kesucian jiwa dan fitrahnya.
Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman,
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ ٦وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ ٧
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberi petunjuk.” (Q.S. Adh-Dhuha [93]: 6–7).
Ayat ini dipahami para mufasir sebagai bukti penjagaan Allah SWT terhadap Nabi SAW sejak masa kecil hingga dewasa.
Riwayat hadis turut memperkuat hal tersebut. Jabir bin Abdullah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَا هَمَمْتُ بِشَيْءٍ مِمَّا كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَهْمُّونَ بِهِ مِنَ اللَّهْوِ إِلَّا مَرَّتَيْنِ، كُلُّ ذَلِكَ يَحُولُ اللَّهُ بَيْننِي وَبَيْنَهُ، ثُمَّ مَا عُدْتُ لِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ أَبَدًا.
“Aku tidak pernah berniat melakukan sesuatu yang dilakukan orang-orang Jahiliyah kecuali dua kali. Setiap kali aku ingin melakukannya, Allah menghalangiku sehingga aku tidak melakukannya.” (HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dinukil oleh Al-Mubarakfuri dalam Sirah al-Nabawiyah).
Selain itu, masyarakat Quraisy mengenal Nabi SAW dengan julukan Al-Amin (orang yang dapat dipercaya). Julukan itu bukan sekadar sebutan, melainkan bukti nyata bahwa beliau sangat jujur, amanah, lembut tutur kata, serta selalu menepati janji.
Kejujuran beliau tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam berdagang. Sejak muda beliau bekerja sebagai pedagang yang sukses karena kejujurannya, hingga menarik perhatian Khadijah binti Khuwailid yang kemudian menjadi istrinya.
Nabi Muhammad SAW juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Beliau senang membantu fakir miskin, menyambung silaturahim, menghormati tamu, dan menolong orang yang dizalimi.
Bahkan sebelum diangkat menjadi rasul, beliau telah ikut serta dalam perjanjian Hilf al-Fudhul, sebuah ikrar bersama kaum Quraisy untuk menegakkan keadilan dan membela orang-orang lemah yang teraniaya.
Dengan kepribadian luhur itu, Nabi SAW tumbuh sebagai sosok teladan, disegani oleh kawan maupun lawan, dan menjadi pribadi yang benar-benar dipersiapkan oleh Allah SWT untuk menerima amanah kenabian.
(Miftahul Jannah, ed: Nashih)