Oleh: Dr Risman Muchtar M Si Wakil Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa MUI dan Dr Canra KJ Lubis Sekretaris Komisi Dakwah MUI
JAKARTA, MUI.OR.ID— Delapan puluh tahun sudah bangsa Indonesia berdiri sebagai negara merdeka. Tanggal 17 Agustus 1945 menjadi tonggak sejarah yang selalu diperingati, bukan sekadar ritual seremonial, melainkan momentum untuk merenungkan kembali hakikat kemerdekaan. Sebab, kemerdekaan bukanlah hadiah yang datang tiba-tiba, melainkan buah dari perjuangan panjang, pengorbanan tanpa batas, serta doa dan harapan yang dipanjatkan oleh para syuhada bangsa (Madjid, 2000).
Namun, ketika kita menapaki usia kemerdekaan yang ke-80, pertanyaan mendasar muncul: apakah kita telah benar-benar merdeka? Apakah kemerdekaan yang diraih dengan darah dan air mata itu telah kita jaga, kita isi, dan kita sempurnakan dalam kehidupan pribadi, masyarakat, maupun negara?
Islam memandang kemerdekaan bukan semata-mata urusan politik, melainkan juga sebagai hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Allah SWT yang dimuliakan. Membicarakan kemerdekaan dalam perspektif Islam berarti membicarakan kebebasan spiritual, sosial, dan kebangsaan secara utuh (Nasution, 1985).
Alquran menegaskan:
لَاۤ إِكۡرَاهَ فِی ٱلدِّینِۖ قَد تَّبَیَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَیِّۚ فَمَن یَكۡفُرۡ بِٱلطَّـٰغُوتِ وَیُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِیعٌ عَلِیمٌ
"Tidak ada paksaan untuk (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa ingkar kepada ṭāgūtdan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Mahamendengar, Mahamengetahui." (QS Al-Baqarah: 256).
Ayat ini menegaskan bahwa kebebasan adalah prinsip dasar kehidupan manusia. Kebebasan untuk beriman, beribadah, dan menyatakan pendapat merupakan hak fitri yang tidak boleh dirampas. Melalui analogi qiyās awlā, Allah SWT, Sang Pencipta, Pemilik otoritas mutlak alam semesta — justru memberi manusia kebebasan untuk menentukan pilihan keyakinan, tanpa paksaan. Maka, apabila ada pihak yang merasa paling berkuasa lalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain dalam hal apa pun, sikap demikian jelas bertentangan dengan ajaran Islam.
Dalam konteks yang lebih luas, Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan harus mencakup tiga aspek yaitu pertama, kemerdekaan pribadi meliputi kebebasan dari syirik, hawa nafsu, dan perbudakan sesama manusia. Kedua, kemerdekaan sosial: terbebas dari penindasan, kemiskinan, dan ketidakadilan (Qutb, 1993). Ketiga, kemerdekaan bangsa yakni kedaulatan dalam menentukan arah politik, ekonomi, dan budaya tanpa intervensi asing.
Dengan demikian, kemerdekaan sejati dalam Islam adalah ketika manusia mampu memerdekakan dirinya dari segala bentuk perbudakan selain kepada Allah SWT, lalu menjadikannya jalan untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan.
Kemerdekaan Indonesia adalah nikmat Allah yang harus disyukuri sekaligus amanah yang harus dijaga. Para pejuang kemerdekaan telah mewakafkan jiwa, raga, dan harta untuk memerdekakan negeri ini.
Buya Hamka menulis dalam Tafsir Al-Azhar (1982): “Kemerdekaan yang sejati adalah kemerdekaan jiwa. Karena banyak bangsa yang secara politik merdeka, tetapi jiwanya masih terjajah oleh hawa nafsu, kemalasan, dan ketidakjujuran.”
KH Ahmad Dahlan pun menekankan bahwa merdeka berarti terbebas dari kebodohan, kemiskinan, dan kejumudan. Baginya, umat Islam harus berani menggunakan akal dan ilmu untuk membebaskan diri dari keterbelakangan (Alfian, 1989).
Memasuki usia 80 tahun, bangsa Indonesia telah menorehkan berbagai capaian. Namun, keberhasilan ini masih dibayangi oleh tantangan serius antara lain korupsi yang merampas hak rakyat (Komisi Pemberantasan Korupsi, 2023), kesenjangan sosial-ekonomi yang memperlebar jurang antara kaya dan miskin (World Bank, 2024), ketergantungan pada kekuatan asing dalam ekonomi dan teknologi, dna krisis moral dan degradasi budaya yang mengancam generasi muda (Syafii Maarif, 2019).
Pertanyaan Buya Hamka kembali menggema: "Apakah bangsa kita benar-benar merdeka, ataukah hanya merdeka secara formal, sementara jiwanya masih terjajah?"
Islam menekankan bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang berlandaskan tauhid. Seorang Muslim yang merdeka tidak akan tunduk pada hawa nafsu, ketidakjujuran, atau kekuasaan zalim. Sebuah bangsa yang merdeka adalah bangsa yang adil, berdaulat, dan tidak bergantung pada penjajahan gaya baru (Rahardjo, 2002).
Negara disebut merdeka sepenuhnya apabila memenuhi indikator, yaitu negara terbebas dari lilitan hutang, kekayaan alam yang melimpah ruah dikolola oleh anak bangsa sendiri, pendidikan dan kesehatan full gratis, bebas dari tindakan korupsi, dan semua komponen menjunjung tinggi nilai² integritas sabagai masyarakat yang bermartabat.
Generasi muda Indonesia menghadapi tantangan besar. Globalisasi membawa peluang sekaligus ancaman. Jika tidak disertai iman, ilmu, dan akhlak, mereka bisa menjadi korban penjajahan baru. Dalam sejarah Islam, pemuda selalu menjadi pelopor perubahan: Ashab al-Kahfi, Mush’ab bin Umair, hingga sahabat muda Nabi SAW.
Begitu pula pemuda Indonesia, mereka harus kreatif, inovatif, menguasai teknologi, dan tetap berpegang pada nilai spiritual. Hanya dengan cara itu, mereka dapat menyempurnakan kemerdekaan yang diwariskan para pejuang (Natsir, 1957).
Akhir kata, kemerdekaan adalah amanah. Setelah delapan puluh tahun, bangsa ini harus bertanya: apakah rakyat sudah merasakan keadilan, kesejahteraan, dan kedaulatan? Islam mengajarkan bahwa syukur atas nikmat kemerdekaan harus diwujudkan dengan menjaga persatuan, menegakkan keadilan, dan membangun kemandirian. Jika tidak, kemerdekaan bisa berubah menjadi musibah, bukan berkah.
Akhirnya, masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda. Mereka adalah penentu apakah Indonesia menjadi bangsa besar yang bermartabat, atau sekadar menjadi pasar kekuatan global?
Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb