Dari Aceh untuk Indonesia, Tengku Inong Silaturahim ke Komisi Pesantren MUI Perkuat Dakwah Ekologi
JAKARTA, MUI.OR.ID — Sebagai upaya memperkuat kelestarian Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), tim pendamping Teungku Inong Aceh bersilaturahim ke Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Jakarta, Selasa (4/8/2026) lalu.
Tim pendamping tersebut terdiri dari Munira Rezkina (Legal Staff Yayasan HAkA), Fahmi Saiyfuddin, dan Raja Mulkan.
Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Pesantren, KH Chaerul Saleh Rasyid, serta Wakil Sekretaris Komisi Pesantren MUI, Saryono Jahidi.
Teungku Inong merupakan sebutan bagi ulama perempuan di Aceh. Mereka menjadi garda terdepan yang memegang peran vital dalam dakwah ekologi kepada para santri dan masyarakat luas, terutama dalam menyuarakan pelestarian KEL serta pemulihan pascabencana banjir yang melanda Aceh pada November 2025 lalu.
Gerakan Teungku Inong Ekologi sendiri diinisiasi sejak tahun 2022 atas pendampingan Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA). Hingga kini, gerakan tersebut terus berkembang pesat dan telah tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Aceh.
Inisiatif ini berhasil melahirkan berbagai program lingkungan berbasis kearifan lokal dayah (lembaga pendidikan Islam di Aceh), seperti pembibitan tanaman, perkebunan, pengelolaan sampah mandiri, hingga pemanfaatan energi terbarukan melalui panel surya.
Seiring pesatnya perkembangan gerakan tersebut, muncul kebutuhan akan adanya modul atau panduan baku bagi dayah-dayah lain yang ingin mereplikasi konsep lingkungan ini. Oleh karena itu, tim Teungku Inong berencana menyusun buku praktis berjudul Pedoman Pengembangan Kurikulum Dayah Ekologi.
Melalui silaturahim ini, tim Teungku Inong berharap mendapatkan arahan, nasihat, serta dukungan dari Komisi Pesantren MUI.
Merespons hal tersebut, pihak MUI memberikan masukan agar isi buku panduan nantinya dapat memadukan antara teori dan praktik, memperhatikan aspek keberlanjutan manfaat, serta membuka peluang sinergi dengan berbagai lembaga lain di bawah naungan MUI.
Wakil Sekretaris Komisi Pesantren MUI, Saryono Jahidi, menyampaikan apresiasinya dan berharap gerakan ini terus meluas.
Dia berharap semoga program ini berjalan lancar dan kebermanfaatannya bisa dirasakan tidak hanya di Aceh, tetapi juga oleh seluruh lembaga pendidikan Islam di Indonesia.
“Gagasan ini insya Allah akan menyebar ke seluruh Indonesia mengingat syiar Islam di Nusantara pertama kali dimulai dari Aceh," ujar dia.