Cahaya Islam di Hati Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah SWT Pelindung Nabi-Nya
Admin
Penulis
Foto: freepik
JAKARTA, MUI.OR.ID— Hamzah bin Abdul Muthalib tercatat sebagai salah satu tokoh paling disegani dalam sejarah awal Islam.
Paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah ﷺ ini lahir sekitar dua tahun sebelum Tahun Gajah, menjadikan umurnya sebaya dengan Nabi Muhammad SAW. Ayahnya adalah Abdul Muthalib , kakek Nabi, dan ibunya Halah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah.
Keberaniannya di medan perang membuatnya dikenal luas dengan gelar "Singa Allah" dan "Pemimpin Para Syuhada". Julukan tersebut bukan hanya simbol keberanian, melainkan cerminan dari kiprahnya membela agama Islam tanpa rasa gentar.
Najihah Nur Auliya, dalam Jejak Perjuangan Hamzah bin Abdul Muthalib: Singa Allah dan Rasul-Nya,
menjelaskan, kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ sudah terjalin sejak kecil, dan pengaruhnya di kalangan Quraisy menjadikannya sosok penting dalam perjalanan dakwah.
Hamzah menorehkan sejarah perjuangan terutama dalam dua pertempuran besar: Perang Badar dan Perang Uhud. Di medan Uhud, ia akhirnya gugur sebagai syahid pada usia sekitar 59 tahun. Wafatnya Hamzah meninggalkan duka mendalam bagi Rasulullah ﷺ, hingga beliau menitikkan air mata mengenang pahlawan besar ini.
Masuk Islam
Dalam kitabnya Sirah al-Nabawiyah, Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, menjelaskan di tengah suasana Makkah yang penuh tekanan dan kezaliman kaum Quraisy, hadir sosok pemberani yang kemudian menjadi pelindung penting bagi Rasulullah ﷺ. Dialah Hamzah bin Abdul Muthalib . Menurut kebanyakan riwayat, Hamzah memeluk Islam pada Dzulhijjah, akhir tahun keenam kenabian.
Peristiwa yang mengubah jalan hidupnya bermula ketika Abu Jahal bertemu Rasulullah ﷺ di Bukit Shafa. Tanpa alasan, dia menghina dan melukai Nabi dengan melemparkan batu hingga kepala beliau berdarah. Nabi ﷺ tetap bersabar, sementara
Abu Jahal pergi ke dekat Ka'bah dan berbaur dengan kaum Quraisy.
Seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jud’an melihat kejadian itu. Tak lama kemudian, Hamzah yang baru kembali dari berburu lewat sambil membawa busurnya. Sang budak segera menceritakan tindakan Abu Jahal.
Mendengar berita itu, Hamzah yang dikenal sebagai bangsawan pemberani dan sangat menjaga kehormatan keluarga tak tinggal diam.
Dia beranjak pergi tanpa berbicara dengan siapa pun, dengan satu tujuan yaitu mencari Abu Jahal. Jika sudah bertemu, dia akan menghajarnya. Tatkala tiba di Masjidil Haram, Hamzah berdiri di dekat kepala Abu Jahal lalu berkata, "Wahai orang yang berpantat kuning, apakah engkau berani mencela anak saudaraku, padahal aku berada di atas agamanya?"
Seketika itu dia memukul kepala Abu Jahal dengan tangkai busurnya hingga menimbulkan luka yang menganga.
Orang-orang Bani Makhzum (kampung Abu Jahal) pun bangkit, begitu pula orang-orang dari Bani Hasyim (kampung Hamzah).
Namun Abu Jahal meredakan ketegangan dengan berkata, "Biarkan saja Abu Ammarah (Hamzah), karena memang aku telah mencaci maki anak saudaranya dengan cacian yang menyakitkan."
Keputusan Hamzah untuk memeluk Islam setelah peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam dakwah Rasulullah ﷺ, menambah kekuatan dan keberanian kaum Muslimin yang ketika itu masih minoritas. (Fitri Aulia Lestari, ed: Nashih)