Lewati ke konten utama
Senin, 24 Agustus 2026 / 11 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Refleksi Kemerdekaan: Tauhid, Pendidikan, dan Jalan Menuju Manusia Merdeka Abad XXI

9 menit baca 80 dibaca
KH Wahfiudin Sakam, SE, MBA

Oleh: KH Wahfiudin Sakam, SE, MBA

Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Refleksi Kemerdekaan: Tauhid, Pendidikan, dan Jalan Menuju Manusia Merdeka Abad XXI
Ilustrasi seorang guru yang mengajarkan cinta tanah air. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Setiap tahun kita memperingati kemerdekaan. Kita mengenang perjuangan para pendahulu yang membebaskan negeri ini dari penjajahan. Tetapi setelah sebuah bangsa merdeka, saya kira ada pertanyaan lain yang patut kita ajukan: Apakah manusianya juga sudah merdeka?

Pertanyaan itu penting karena kemerdekaan tidak hanya menyangkut wilayah dan kekuasaan politik. Orang dapat hidup di negara yang merdeka, tetapi masih diperbudak oleh ketakutan, hawa nafsu, kekayaan, jabatan, popularitas, atau penilaian manusia lain.

Di sinilah saya melihat daya pembebasan tauhid. Tentu hubungan tauhid dan kemerdekaan perlu dibaca dengan hati-hati. Tauhid tidak otomatis berarti revolusi politik, dan gerakan antikolonial muslim tidak lahir dari satu sebab. Yang lebih mendasar, tauhid memberi manusia semacam gramatika kemerdekaan: hanya Allah yang boleh disembah secara mutlak. Yang lain tetap makhluk.

Kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ sendiri dimulai dengan penolakan sebelum penegasan. Lā ilāha: jangan mengabsolutkan apa pun. Illā Allāh: hanya Allah Yang Absolut.

Jika kesadaran itu dibawa ke kehidupan, implikasinya besar. Kekuasaan tidak boleh menjadi kebenaran mutlak. Uang tidak layak menjadi tujuan tertinggi. Bangsa tidak boleh diabsolutkan. Guru tidak menjadi manusia yang tak boleh ditanya. Tradisi tetap dapat diperiksa. Bahkan diri sendiri dan hawa nafsu tidak boleh mengambil posisi sebagai ilah.

Alquran menggambarkan manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai “ilah”. Allah berfirman:

 أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ

“Tidakkah engkau memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya....” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Karena itu, penjajahan yang paling dekat kadang tidak datang dari luar. Ia dapat tinggal di dalam diri: ketika kita tahu sesuatu salah tetapi tidak mampu berkata tidak; ketika kita lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan kompas moral; ketika keinginan menguasai keputusan kita.

Ada paradoks yang sangat indah dalam tauhid, yakni bahwa semakin mutlak seseorang menjadi hamba Allah, semakin tidak layak ia menjadi hamba manusia. Semua manusia pada dasarnya adalah ‘abdullah, yaitu hamba Allah. Manusia lain dapat dihormati, tetapi tidak dipertuhankan. Pemimpin dapat ditaati dalam wilayah yang sah, guru dimuliakan, ulama dihargai, tetapi tidak seorang pun mengambil posisi Allah.

Penghormatan melahirkan adab. Pengultusan melahirkan ketergantungan dan ketakutan. Tetapi tauhid yang berhenti sebagai doktrin belum tentu membebaskan. Orang dapat sering mengucapkan Lā ilāha illā Allāh, lalu tetap takut berlebihan kepada penguasa, tidak berani bertanya, menerima ketidakadilan, bergantung kepada patron, atau takut kehilangan jabatan.

Karena itu, di sini saya membedakan “tauhid doktrinal” dan “tauhid eksistensial”. Tauhid doktrinal bertanya, “Ada berapa Tuhan?” Sedangkan tauhid eksistensial bertanya, “Apa yang paling saya takuti? Kepada siapa saya tidak berani berkata tidak? Apa yang sebenarnya mengendalikan keputusan saya?” Bagi saya, rentetan pertanyaan kedua jauh lebih mengguncang, sebab membawa tauhid keluar dari ruang pengetahuan dan masuk ke ruang kehidupan.

Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan

Dari Penjajahan Wilayah Menuju Penjajahan Kesadaran

Kolonialisme tidak hidup hanya dari tentara. Ia menjadi lebih dalam ketika bangsa yang dijajah mulai percaya bahwa pihak yang menjajah memang lebih pintar, lebih maju, lebih rasional, lebih bermartabat, dan lebih pantas memerintah. Pada saat itu yang dikuasai bukan hanya tanah, tetapi juga kesadaran manusia.

Ada kolonialisasi eksternal: tanah, ekonomi, pemerintahan, dan sumber daya dikuasai. Ada pula kolonialisasi internal: cara manusia melihat dirinya dikuasai. Yang kedua sering lebih tahan lama.

Sebuah bangsa dapat merdeka secara politik, sementara rasa inferior masih tinggal di dalam manusianya. Kita dapat menjadi pengguna yang sangat cakap, tetapi tidak percaya diri untuk mencipta. Kita terbiasa mengikuti, bukan menentukan arah.

Di sinilah penghayatan terhadap الله أكبر — Allah Maha Besar — dapat menjadi energi pembebasan. Jika Allah Maha Besar, kekuasaan sebesar apa pun tetap terbatas. Militer memiliki batas. Kekayaan imperium memiliki batas. Imperium sebesar apa pun tetap makhluk.

Namun, sejarah tidak boleh dibuat terlalu sederhana. Kemerdekaan Indonesia adalah hasil pertemuan banyak arus: Islam, nasionalisme, pendidikan modern, sosialisme, gerakan buruh, organisasi pemuda, dan perubahan geopolitik. Karena itu, saya lebih nyaman menyebut tauhid sebagai salah satu sumber energi moral dan konseptual pembebasan, bukan satu-satunya sebab kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan juga tidak berhenti pada keberanian pribadi. Seseorang dapat berani, tetapi kalau hidup dalam sistem yang menghukum setiap pertanyaan, lama-lama ia juga dapat dibuat diam. Maka manusia merdeka membutuhkan lingkungan yang memerdekakan: ada ruang untuk bermusyawarah, kritik, pertanggungjawaban, pemeriksaan terhadap klaim, dan kemandirian ekonomi. Penghormatan tetap ada, tetapi kultus tidak perlu dipelihara.

Zaman kiwari membuat persoalan ini semakin rumit. Algoritma berebut perhatian kita. Platform membentuk pasar. Utang membatasi keputusan. Konsumerisme membentuk keinginan. Disinformasi mengarahkan persepsi. Popularitas dapat menentukan apa yang berani kita katakan.

Jadi pertanyaan kemerdekaan hari ini bukan hanya, “Siapa yang menguasai wilayah kita?” Pertanyaannya juga, “Siapa yang menguasai perhatian, keinginan, keputusan, dan cara kita melihat diri sendiri?”

Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin

Pendidikan Tauhid: Membentuk Manusia Merdeka

Di sinilah pendidikan menjadi sangat menentukan. Sekolah dapat menghasilkan manusia yang terdidik tetapi tetap dependent. Sarjana dapat mempunyai gelar tinggi, tetapi pertanyaan yang paling sering muncul tetap, “Ada lowongan apa?”

Pertanyaan itu wajar. Orang memang perlu bekerja. Tetapi saya ingin menambahkan pertanyaan lain: “Problem apa yang dapat saya selesaikan?” Perbedaan antara dua pertanyaan itu menunjukkan dua posisi manusia. Yang pertama cenderung menunggu ruang. Yang kedua, mulai melihat dirinya sebagai subjek yang dapat menciptakan nilai.

Pendidikan tauhid, karena itu bukan sekadar menambah jam pelajaran agama, seseorang dapat belajar agama sangat banyak, tetapi tetap tidak berani berbeda pendapat, bergantung pada patron atau kehilangan arah ketika tidak mendapat pengakuan.

Bagi saya, pendidikan tauhid harus bekerja pada arsitektur kepribadian. Tauhid lebih dulu memberi manusia rasa nilai diri—self-worth. Dari sana ia belajar menguasai dirinya—self-mastery. Setelah itu, keberanian berpikir, kompetensi, kemandirian, dan pada akhirnya kemampuan melayani orang lain dapat tumbuh.

Kalau diringkas, arahnya bergerak dari tauhid menuju self-worth, self-mastery, critical thinking, courage, competence, independence, lalu service. Tetapi ukuran akhirnya tetap sederhana: apakah pendidikan membuat seseorang semakin mampu mengendalikan dirinya, berpikir dengan jernih, berkarya, dan memberi manfaat?

Cara belajar juga perlu berubah. Model lama mudah jatuh pada pola guru memberi jawaban, lalu murid menghafalkannya. Pendidikan yang memerdekakan dimulai dari realitas: ada problem, murid bertanya, guru membimbing penyelidikan, data diuji, dugaan diperdebatkan, solusi dicoba, dan hasil dipertanggungjawabkan.

Saya kira salah satu reformasi pendidikan yang paling mendasar adalah ini: jangan hanya menilai jawaban anak. Nilai juga pertanyaannya.

Sekolah biasa bertanya, “Apa jawabannya?” Pendidikan manusia merdeka perlu sesekali bertanya, “Seberapa bagus pertanyaanmu?” Apa yang terjadi? Mengapa? Siapa yang mengatakan demikian? Apa buktinya? Data apa yang belum ada? Apa asumsi yang tersembunyi? Bagaimana kita mengujinya?

Guru tentu tidak kehilangan otoritas. Saya tidak sedang membayangkan pendidikan tanpa guru atau tanpa adab. Yang berubah adalah sifat otoritasnya: dari domination menjadi guidance. Guru tetap murabbi, mentor, dan intellectual guide. Tugasnya bukan membuat murid selamanya bergantung kepada dirinya, tetapi membantu murid kelak berdiri dengan ilmu dan tanggung jawabnya sendiri.

Ada satu dimensi lain yang menurut saya sering hilang dalam pembicaraan pendidikan Islam: kemampuan produktif. Jika pendidikan menghasilkan manusia saleh tetapi tidak mampu menciptakan nilai, bekerja dengan baik, mengelola organisasi, membangun usaha, atau memecahkan problem, ia mudah jatuh ke dalam ketergantungan. Ketergantungan ekonomi kemudian dapat merembet menjadi ketergantungan politik dan intelektual.

Karena itu, kewirausahaan, literasi finansial, literasi teknologi, manajemen, keterampilan berkarya, dan problem solving penting. Bukan agar semua orang menjadi pengusaha. Yang hendak dibangun adalah agency: kemampuan menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan orang lain, menawarkan nilai, dan menjadi subjek dalam kehidupan sosial.

Baca juga: Kemerdekaan: Antara Perayaan, Pengorbanan, dan Introspeksi Bangsa

Manusia Merdeka di Era AI

AI membawa paradoks baru. Ia dapat membebaskan manusia dari banyak pekerjaan rutin, tetapi juga dapat membuat manusia malas berpikir. Anak bertanya, AI menjawab. Mahasiswa mendapat tugas, AI menulis. Manajer mempunyai problem, AI memberikan rekomendasi.

Saya tidak melihat persoalannya pada AI itu sendiri. Persoalannya adalah apa yang terjadi pada manusianya. Jangan sampai artificial intelligence semakin tinggi, tetapi human agency justru semakin rendah.

Karena itu, pendidikan hari ini tidak cukup mengajarkan cara menggunakan AI. Yang lebih penting adalah menjaga kedaulatan intelektual manusia ketika menggunakannya. Prinsipnya sederhana: gunakan AI untuk memperbesar kemampuan berpikir, bukan menggantikan berpikir.

AI dapat membantu mencari informasi, tetapi manusia tetap harus menilai. AI dapat memberi rekomendasi, tetapi manusialah yang memikul pertimbangan moral. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tujuan pekerjaan tetap harus ditentukan manusia.

Lalu manusia merdeka yang ingin kita bentuk itu seperti apa?

Saya melihat setidaknya ada tujuh kemerdekaan: 1. Merdeka spiritual: tidak diperbudak selain oleh Allah. 2. Merdeka moral: tidak menjual prinsip demi keuntungan. 3. Merdeka intelektual: berani bertanya dan menguji klaim. 4. Merdeka psikologis: tidak hidup hanya dari inferioritas dan validasi orang lain. 5. Merdeka ekonomi: mampu menciptakan nilai dan memenuhi kebutuhan hidup dengan bermartabat. 6. Merdeka teknologi: menguasai teknologi, bukan dikuasai teknologi. 7. Merdeka sosial-politik: tidak mudah ditakuti, dimanipulasi, atau dipatronisasi oleh kekuasaan.

Daftar itu bukan tujuan pada dirinya sendiri. Intinya satu: manusia tetap menjadi subjek. Ia tidak menyerahkan kemudi kehidupannya kepada kekuatan di luar dirinya.

Namun demikian, kemerdekaan dalam tauhid tidak berhenti pada kebebasan “dari”. Ada freedom from dan ada freedom for.

Lalu, merdeka untuk apa? Tentu bukan untuk ego. Manusia bertauhid bukan orang yang berkata, “Tidak seorang pun boleh mengatur saya.” Tetapi ia berkata, “Saya tidak akan diperbudak manusia karena saya mempunyai amanah yang lebih besar dari Allah.”

Di situlah kemerdekaan mendapat arah. Manusia menjadi hamba Allah seutuhnya, sekaligus menjalankan amanah sebagai khalifah yang bertanggung jawab membangun kehidupan. Ia belajar, bekerja, mencipta, membangun, dan melayani. Dunia berada di tangannya, bukan menguasai jiwanya.

Kalau ingin diringkas, proses pembebasan itu mempunyai tiga tahap, sebagai berikut.

1. Tahrir al-’aqidah (تحرير العقيدة), yakni membebaskan keyakinan, hanya Allah yang absolut.

2. Tahrir al-insan (تحرير الإنسان), yakni membebaskan manusia dari ketakutan, hawa nafsu, kultus, inferioritas, ketidaktahuan, dan ketergantungan.

3. Tahrir al-mujtama’ (تحرير المجتمع), yakni membebaskan masyarakat melalui ilmu, keadilan, musyawarah, institusi yang sehat, produktivitas, kemandirian, dan rule of law.

Kita bersepakat bahwa kemerdekaan Indonesia adalah kemerdekaan kita sebagai bangsa. Tetapi tugas insan pendidikan sekarang mungkin lebih sulit: memerdekakan manusianya.

Negara dapat merdeka sementara rakyatnya masih terjajah oleh kebodohan; ekonomi  tetap dependent, dan kaum terdidik tetap takut berpikir. Generasi muda dapat hidup dalam negara merdeka, tetapi perhatian dan keinginannya dikuasai algoritma, konsumsi, dan validasi sosial.

Karena itu, pendidikan tauhid abad XXI perlu bergerak dari hafalan menuju kesadaran, dari kepatuhan buta menuju ketaatan yang berilmu, dari ketergantungan menuju kemampuan, dari konsumsi menuju produksi, dari menerima jawaban menuju menemukan masalah, dan dari sekadar menggunakan teknologi menuju kemampuan menguasainya.

Baca juga: “DNA” Pejuang: Menagih Spiritualitas, Karakter, dan Tanggung Jawab Kemerdekaan

Pada akhirnya, saya kembali kepada rumusan yang paling sederhana: tauhid bukan hanya mengajarkan kepada siapa manusia harus bersujud, tetapi juga kepada siapa dan kepada apa manusia tidak boleh bersujud. Yang pertama membentuk ’ubudiyyah. Yang kedua melahirkan kemerdekaan.

التوحيد يحرّر الإنسان من عبودية الإنسان، ليكون عبدًا لله وحده

“Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia, agar ia menjadi hamba Allah semata.”

Kemerdekaan bangsa adalah awal. Tugas berikutnya adalah melahirkan manusia yang mampu berpikir, berkarya, bertanggung jawab, menggunakan teknologi tanpa kehilangan dirinya, tunduk hanya kepada Allah, dan tetap berdiri tegak menghadapi dunia.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.