Tuntunan Khutbah Idul Fitri untuk Khatib, Lengkap dan Praktis
A Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Penulis
Hakim
Editor
Jakarta, MUI Digital — Khutbah Idul Fitri merupakan bagian penting dalam rangkaian ibadah hari raya. Secara umum, pelaksanaannya memiliki kesamaan dengan khutbah Jumat, baik dari sisi rukun maupun susunannya. Namun, terdapat perbedaan mendasar, yaitu khutbah ‘Id dilaksanakan usai shalat ‘Id, bukan sebelumnya sebagaimana khutbah Jumat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat hadis yang berbunyi:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: شَهِدْتُ
النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ يُصَلُّونَ
الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ
Artinya: “Dari Ibn Abbas, beliau
berkata: Aku menyaksikan Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar melaksanakan shalat dua
hari raya sebelum khutbah.” (HR an-Nasai)
Syekh Zakariya al-Anshari (wafat 926 H)
dalam kitabnya menjelaskan bahwa pelaksanaan khutbah ‘Id sama halnya dengan
khutbah Jumat, baik dari segi rukun maupun kesunahannya.
Adapun rukun khutbah yang dimaksud yaitu:
memuji Allah, membaca shalawat, menyampaikan wasiat tentang ketakwaan, membaca
ayat Alquran pada salah satu khutbah, serta mendoakan kaum muslimin pada
khutbah kedua:
صَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ وَلَوْ
لِمُنْفَرِدٍ وَمُسَافِرٍ... وَسُنَّ خُطْبَتَانِ بَعْدَهُمَا لِجَمَاعَةٍ
كَجُمُعَةٍ فِي أَرْكَانٍ وَسُنَنٍ، وَيَفْتَتِحُ الْأُولَى بِتِسْعِ
تَكْبِيرَاتٍ، وَالثَّانِيَةَ بِسَبْعٍ وِلَاءً
“Shalat dua hari raya (Idul Fitri dan
Idul Adha) hukumnya sunnah, meskipun dilakukan secara sendirian atau oleh
musafir. Dan disunnahkan melaksanakan dua khutbah setelahnya bagi jamaah,
laiknya khutbah Jumat dalam hal rukun dan kesunnahannya. Khutbah pertama dibuka
dengan sembilan kali takbir, sementara khutbah kedua dengan tujuh kali takbir
secara berturut-turut.” (Fath al-Wahab bi Syarh
Minhaj at-Thullab [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 97)