Anjuran Menghidupkan Malam Idul Fitri, Begini Keutamaan dan Amalannya
A Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Penulis
Hakim
Editor
Jakarta, MUI Digital — Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan, umat Islam akhirnya sampai pada hari kemenangan, yaitu Idul Fitri. Momen ini tidak hanya dirayakan pada pagi harinya melalui shalat ‘Id, tetapi juga dimulai sejak malam sebelumnya.
Dalam Islam, malam Idul Fitri memiliki
keutamaan tersendiri dan dianjurkan untuk dihidupkan dengan berbagai bentuk
ibadah. Anjuran demikian didasarkan pada salah satu redaksi hadis yang
berbunyi:
مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيْدَيْنِ
للهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ
Artinya: “Barangsiapa yang menghidupkan
dua malam ‘Id (Idul Fitri dan Idul Adha) karena Allah dengan penuh keikhlasan,
maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana hati manusia menjadi mati.”
(HR Ibnu Majah)
Kendati sebagian ahli hadis menilai
kualitas hadis di atas tergolong lemah (dhaif), Imam an-Nawawi (wafat
676 H) dalam kitabnya menegaskan bahwa hadis tersebut tetap dapat diamalkan
dalam konteks keutamaan amal (fadhā’il al-a’māl). Oleh karenanya,
menghidupkan malam Idul Fitri tetap menjadi amalan yang dianjurkan:
قَالَ فِي الْأَذْكَارِ: يَنْبَغِي
إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ لِهٰذَا الْحَدِيثِ، وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا
فَالْفَضَائِلُ يُعْمَلُ فِيهَا بِالْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ
“Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar mengatakan: disunnahkan menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) berdasarkan hadis ini, meskipun hadis tersebut lemah. Lantaran dalam perkara keutamaan amal, hadis-hadis lemah masih bisa diamalkan.” (At-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shagir [Riyadh: Maktabah Dar as-Salam], vol. 10, h. 53)