Lewati ke konten utama
Minggu, 12 Juli 2026 / 26 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Rakernas KPK MUI Hadirkan Akademisi 3 Negara, Perkuat Jejaring dan Transformasi Pendidikan Era Digital

4 menit baca 62 dibaca
Rakernas KPK siap
Hari kedua Rapat Kerja Nasional (Rakernas), Seminar Internasional, Forum Group Discussion (FGD), dan Kaderisasi Ulama Non-Degree Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) Majelis Ulama Indonesia (MUI). Foto: Latifah/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Seminar Internasional menjadi salah satu agenda utama pada hari kedua Rapat Kerja Nasional (Rakernas), Seminar Internasional, Forum Group Discussion (FGD), dan Kaderisasi Ulama Non-Degree Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Forum ini menghadirkan akademisi dari Malaysia, Filipina, dan Indonesia untuk membahas strategi transformasi pendidikan Islam di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan tantangan global.

Seminar Internasional tersebut menghadirkan Direktur Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV) Universiti Sains Malaysia (USM) Prof Shahir Akram Hassan, Director Mindanao State University Shariah Center Filipina Prof Anwar Rajamoda, serta Direktur Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung Prof Tulus Suryanto.

Dalam pemaparannya, Prof Tulus Suryanto menekankan pentingnya penguatan sistem penjaminan mutu pendidikan Islam agar mampu menjawab perubahan zaman sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, tantangan pendidikan Islam saat ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas lulusan, tetapi juga perubahan pola pembelajaran yang semakin terbuka melalui media digital.

Baca juga: Prof Armai Arief: Tantangan Pendidikan Agama dan Kaderisasi Ulama Jadi Sorotan Utama KPK MUI

"Pembelajaran yang sifatnya terbuka sudah sangat masif di media sosial. Hal ini perlu dicermati agar pendidikan Islam mampu berperan sebagai alat kontrol sehingga memiliki mutu sesuai dengan yang kita harapkan," ujarnya.

Prof Tulus juga menyoroti pentingnya menjaga adab dan etika di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, pendidikan Islam memiliki tanggung jawab membentuk karakter peserta didik agar mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.

Prof Tulus mengatakan, globalisasi menuntut dunia pendidikan untuk memperkuat kolaborasi lintas negara. Di sisi lain, transformasi digital telah mengubah model pembelajaran dari sistem konvensional menuju pembelajaran berbasis teknologi.

"UNESCO telah mencatat bahwa sistem pendidikan dunia mengalami digitalisasi secara masif. Karena itu, bukan kurikulumnya yang berubah, melainkan kurikulum harus mampu beradaptasi dengan perkembangan tersebut," katanya.

Baca juga: KPK MUI Himpun Masukan Penguatan Pendidikan Islam sebagai Bahan Kajian di KUII VIII

Prof Tulus menjelaskan, penjaminan mutu menjadi aspek penting dalam meningkatkan daya saing pendidikan Islam. Karena itu, setiap kebijakan pendidikan harus disusun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan serta didukung data, riset, sistem, teori, dan bukti empiris.

"Pendidikan tidak boleh dibangun berdasarkan asumsi, tetapi harus berdasarkan riset, data, sistem, teori, dan bukti. Dengan begitu, pendidikan Islam mampu bersaing di tingkat nasional maupun global," kata dia menjelaskan. 

Menurut Prof Tulus, pendidikan Islam juga harus mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam setiap proses pembelajaran. Kurikulum yang diterapkan, lanjutnya, harus berbasis nilai sekaligus mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Prof Tulus menambahkan, keunggulan pendidikan Islam terletak pada kemampuannya membangun karakter peserta didik.

Baca juga: Rakernas KPK MUI Soroti Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital

Namun, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan dukungan fasilitas yang memadai, kurikulum yang adaptif, serta sumber daya manusia yang berkualitas.

Prof Tulus menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kualitas guru sebagai ujung tombak pembelajaran.

"Saya berharap guru juga memiliki kapasitas layaknya profesor. Mengapa? Karena mendidik siswa di jenjang SD, SMP, hingga SMA bukan pekerjaan yang mudah. Semua membutuhkan strategi yang tepat," ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pelatihan dan pendidikan berkelanjutan bagi para guru agar terus mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan peserta didik.

"Guru harus terus mengikuti pelatihan dan pendidikan yang berkelanjutan. Kita harus mencetak guru-guru yang andal dan memiliki semangat belajar sepanjang hayat (lifelong learning)," katanya.

Sementara itu, Director Mindanao State University Shariah Center Filipina Prof Anwar Rajamoda, berharap Seminar Internasional KPK MUI menjadi awal penguatan kerja sama pendidikan Islam antarnegara.

"Mudah-mudahan kita dapat bertemu kembali secara langsung melalui MUI untuk meningkatkan kolaborasi. Kami di Filipina membutuhkan ilmu dan pengalaman dari Indonesia dan Malaysia karena kami merupakan minoritas dan memerlukan dukungan dari negara-negara yang memiliki keahlian dalam pengembangan pendidikan Islam," ujarnya.

Seminar Internasional ini menjadi bagian dari upaya KPK MUI memperkuat jejaring akademik lintas negara sekaligus mendorong lahirnya gagasan dan kolaborasi dalam pengembangan pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.