Dunia Butuh “Lita’arofu”, Bukan Dehumanisasi
Oleh: Khoirul Anam, S.Sos.I
Dosen STIQ Ash-Shiddiq/Pengisi Kajian Alquran dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Quran Learning Centre
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Sesekali kita semua perlu merenungkan mengapa dunia hari ini begitu bising oleh konflik. Mulai dari diskriminasi rasial, gesekan kelas sosial, hingga tragedi kemanusiaan dan genosida yang menimpa bangsa-bangsa seperti di Palestina, Sudan, dan Rohingya.
Jika kita bedah akar masalahnya, semua kekacauan ini sebenarnya bermuara pada satu
penyakit mental yang akut,
yaitu: merasa diri atau
kelompoknya lebih mulia dari yang lain.
Lebih dari 14 abad
yang lalu, Alquran sudah memberikan “obat penawar” sekaligus cetak biru
sosiologis yang luar biasa untuk mengatasi penyakit sosial ini.
Pesan itu tertulis abadi di dalam surat Al-Hujurat ayat
13.
Menariknya, jika
ayat-ayat sebelumnya menyapa orang-orang yang beriman (Ya ayyuhalladzina amanu), maka di ayat ke-13 ini Allah mengetuk kesadaran universal seluruh umat
manusia tanpa terkecuali. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا
وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Baca juga: Rahasia Hidup Sehat dan Bahagia di Balik Langkah Kaki ke Masjid
Satu Akar, Beragam
Cabang untuk
Saling Mengenal
Syaikh as-Sa’diy
dalam tafsirnya mengingatkan sebuah fakta biologis dan teologis yang setara,
bahwa kita semua—apa pun warna kulit, bahasa, dan latar belakangnya—adalah
berasal dari rahim nenek moyang dan darah sejarah yang sama, yaitu Adam dan
Hawa.
Allah SWT “sengaja
memecah mengembangbiakkan” keturunan yang satu ini menjadi suku-suku besar dan
kecil, bukan untuk saling mengisolasi diri, apalagi saling memusnahkan.
Manusia
diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, tujuan besarnya hanya satu kata kunci: “lita’arofu” (saling
mengenal).
Mengapa saling
mengenal itu penting?Karena manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup
sendiri. Manusia itu hidup saling bergantung satu sama lain. Baik untuk memenuhi kebutuhan harian, untuk mendapatkan
dukungan emosional, maupun sekadar berbagi kebahagiaan. Dengan kata lain,
kehadiran orang lain adalah hal yang hakiki.
Interaksi dengan
sesama sangat dibutuhkan agar manusia bisa terus tumbuh,
berkembang, dan menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.
Dari proses saling
mengenal inilah lahir harmoni kehidupan: saling tolong-menolong (tanashur) saat kesusahan, bahu-membahu (ta'awun)
dalam membangun peradaban dan
menjaga silsilah (nasab)
demi menunaikan hak-hak kerabat dan persaudaraan.
Artinya, mengetahui garis keturunan atau asal-usul suku adalah hal yang disyariatkan. Namun, menyombongkan garis keturunan adalah sebuah kekeliruan yang besar dan menyalahi tujuan besar penciptaan.
Baca juga: Keteladanan Karakter Nabi Ibrahim sebagai Kompas Hidup di Tengah Arus Modernisasi
Jebakan Kelas
Sosial dan Ilusi Kemuliaan Duniawi
Dalam realitas sosial,
manusia sering kali salah membuat tolok ukur. Banyak orang yang mati-matian
berebut status sosial, mengejar jabatan yang tinggi, menumpuk dan memupuk kekayaan finansial, hingga memamerkan sederetan
gelar akademis yang pernah
diraihnya demi mendapatkan label “mulia”
di mata masyarakat.
Padahal, dalam pandangan
Allah SWT, semua itu hanyalah aksesori duniawi yang bernilai nol jika tanpa dilandasi moralitas yang tinggi. Allah SWT sudah menegaskan
hal itu dalam firman-Nya,
sebagaimana disinggung di atas:
اِنَّ
اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
“Sesungguhnya orang
yang paling mulia di antara kamu sekalian di sisi Allah
ialah orang yang paling bertakwa di antara
kamu.”
Syaikh as-Sa’diy
memperjelas bahwa takwa adalah kombinasi dari banyaknya ketaatan dan kemampuan
menahan diri dari kemaksiatan.
Secara sosiologis, hukum alam pun berlaku selaras. Ketika seseorang sudah berada di strata sosial tertinggi, namun pada saat yang sama dia memiliki moralitas yang bobrok, maka secara otomatis seseorang tersebut akan dijuluki sebagai “sampah masyarakat”. Mereka mungkin merasa tinggi karena kuasa dan harta yang mereka raih, tetapi di mata publik, mereka sebenarnya telah jatuh ke tempat yang paling rendah.
Baca juga: Menyelami Makna Hakiki Hijrah dalam Kehidupan Modern
Akar Kesombongan
Kaum “Mala’” dan Dehumanisasi
Jika kita tarik garis
merah dengan ayat-ayat sebelumnya (yaitu ayat
11-12 surat Al-Hujurat), maka
kita akan mendapati Alquran
melarang keras tindakan saling mencaci-maki, menghina, merendahkan, memata-matai, dan bergunjing.
Lalu, kalau kita mencoba melacak lebih jauh
untuk menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan, mengapa seseorang suka menghina orang lain? Maka kita akan mendapati bahwa semua itu karena mereka merasa kelas sosialnya lebih
tinggi dari orang lain.
Dalam “catatan sejarah”
yang diabadikan Alquran, para
penentang kebenaran yang dibawa oleh para nabi selalu datang dari kalangan “mala’”—yaitu
para pemuka masyarakat, oligarki, dan tokoh-tokoh masyarakat yang mabuk kekuasaan
dan gila hormat. Strata sosial
yang tinggi sering kali melahirkan keangkuhan yang membutakan mata hati.
Ketika keangkuhan ini
naik ke level antarbangsa, maka
efek dan dampaknya menjadi sangat mengerikan: “dehumanisasi”.
Nazi Jerman menganggap
ras Arya sebagai ras unggul, dan menganggap bangsa lain sebagai bangsa yang rendah dan layak dimusnahkan. Bangsa Israel
menganggap diri mereka
sebagai ras yang mulia, dan menganggap bangsa Palestina lebih rendah, sehingga legal untuk diusir dan dibantai.
Begitulah senantiasa, ketika suatu kelompok manusia atau sebuah bangsa menganggap kelompok atau bangsa lain bukan lagi sebagai manusia melainkan dianggap sebagai “binatang melata”, maka saat itulah genosida terjadi.
Baca juga: Shalat Kita: Sebuah Rutinitas “Menggugurkan Kewajiban” atau “Dialog yang Dirindukan”?
Kembalilah kepada Takwa dan Akhlak Mulia
Sungguh indah
ketika Allah SWT menutup ayat yang kita singgung di atas dengan sebuah kalimat
pengingat yang menggetarkan jiwa manusia: “Innallaha ‘Alimun Khabir”
(Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal).
Allah SWT tahu persis siapa di antara
manusia ini yang bertakwa secara
lahir dan batin, dan siapa yang hanya bersandiwara dan berpura-pura di balik topeng hak asasi,
demokrasi, dan status sosialnya.
Di dunia modern yang kian terfragmentasi saat ini, pesan yang
terkandung dalam surat Al-Hujurat ayat 13 menjadi sebuah petunjuk sekaligus rambu-rambu moral dalam lalu lintas kehidupan sosial kita hari ini.
Sudah saatnya kita berhenti menilai manusia dari warna kulit, jabatan, atau sukunya. Karena kemuliaan yang hakiki tidak pernah dijual di pasar saham status sosial. Ia hanya bisa dirajut lewat ketakwaan, kemuliaan akhlak, dan tingginya nilai moral. Wallahu A’lam.