Jawa Timur
MUI Jatim Terima Audensi Dinkes Jatim, Siap Sinergi Hapus Stigma Penyakit Kusta
MUI Jatim Terima Audensi Dinkes Jatim, Siap Sinergi Hapus Stigma Penyakit Kusta
/
4 Jumadil Awal 1448 H
2 menit baca
MUI Jawa Timur
Penulis
Surabaya – Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur menerima kunjungan audiensi dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur di kantor MUI Jatim pada (14/10/2026). Pertemuan ini digelar untuk merumuskan langkah kolaborasi antara ulama dan pemerintah dalam menghapus stigma negatif penyakit kusta di masyarakat, sekaligus menekan angka penularan yang masih tinggi di Jawa Timur.
Pengurus MUI Jatim yang diwakili oleh Bendahara MUI Jatim, Drs. H. Abd. Mujib Hasyim, M.Pd.I, serta Ketua Komisi Dakwah MUI Jatim, Dr. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag, menyambut langsung kedatangan jajaran Dinas Kesehatan Jatim.
Dalam pemaparannya, pihak Dinas Kesehatan Jatim menyampaikan data bahwa Jawa Timur saat ini masih menduduki peringkat pertama dengan kasus kusta terbanyak di Indonesia. Tercatat ada sekitar 2.343 kasus yang ditemukan, dengan sebaran kasus tertinggi berada di wilayah pantai utara Jawa dan Madura, seperti Kabupaten Sampang, Bangkalan, Sumenep, serta Jember.
Pihak Dinas Kesehatan Jatim menegaskan bahwa kendala terbesar penanganan kusta saat ini terletak pada tingginya stigma masyarakat. Banyak keluarga yang memilih menyembunyikan penderita karena menganggap kusta sebagai sebuah aib, kutukan, atau akibat guna-guna. Minimnya pemahaman ini membuat pengobatan terlambat dilakukan hingga menyebabkan penderita mengalami kecacatan fisik.
Menanggapi hal tersebut, MUI Jatim menegaskan komitmennya untuk membantu penanganan dari sisi dakwah dan pendekatan keagamaan. Melalui Komisi Dakwah, MUI Jatim siap menyusun serta menyalurkan pesan-pesan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui khutbah, ceramah keagamaan, hingga pengajian rutin di berbagai wilayah.
Pertemuan yang juga didukung oleh yayasan Sasakawa dari Jepang ini menyepakati sejumlah rencana aksi hingga tahun 2027 mendatang. MUI Jatim akan mendukung penyusunan media edukasi berupa poster dan video pendek yang melibatkan kiai karismatik, serta pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan skrining kusta bagi para santri di pondok pesantren wilayah endemis.