Lewati ke konten utama
Selasa, 29 September 2026 / 17 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Menjalin Jejak dari Kota Suci: Kiprah, Visi, dan Dedikasi Keumatan Dr. H. Muhammad Zainuddin Nawi di Bumi Sriwijaya
Sumatera Selatan

Menjalin Jejak dari Kota Suci: Kiprah, Visi, dan Dedikasi Keumatan Dr. H. Muhammad Zainuddin Nawi di Bumi Sriwijaya

Menjalin Jejak dari Kota Suci: Kiprah, Visi, dan Dedikasi Keumatan Dr. H. Muhammad Zainuddin Nawi di Bumi Sriwijaya

/ 16 Rabiul Akhir 1448 H 7 menit baca

Dari Tanah Suci ke Bumi Sriwijaya: Jalan Pengabdian Dr. H. Muhammad Zainuddin Nawi

Oleh: Bang Bangun Lubis – Pemimpin Redaksi Muisumsel.or.id

Perjalanan seseorang dalam mengabdikan ilmu sering kali tidak dapat dipisahkan dari tempat ia tumbuh dan pengalaman yang membentuk cara pandangnya. Demikian pula perjalanan Dr. H. Muhammad Zainuddin Nawi, Lc., M.A.

Lahir di Makkah Al-Mukarramah pada 1 April 1989, ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan tradisi keilmuan Islam. Namun, perjalanan pengabdiannya kemudian membawanya jauh dari Tanah Suci, hingga akhirnya menjadikan Palembang dan Sumatera Selatan sebagai salah satu ruang utama pengabdian kepada umat.

Jejak kehidupannya memperlihatkan pertemuan antara pendidikan Islam di Timur Tengah, pengalaman akademik, pelayanan jamaah haji dan umrah, pembinaan masyarakat, serta keterlibatan dalam organisasi keumatan. Dari perjalanan itulah terbentuk sosok akademisi sekaligus aktivis dakwah yang kini dipercaya mengemban amanah di sejumlah lembaga Islam di Sumatera Selatan.

Zainuddin Nawi saat ini dipercaya sebagai Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Selatan periode 2026–2031. Ia juga menjadi Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Selatan periode 2022–2027.

Dua amanah tersebut hadir di tengah perjalanan panjangnya sebagai pendidik dan pembina umat.

Dari Makkah Menuju Madinah

Makkah bukan hanya tempat kelahirannya. Kota suci tersebut menjadi lingkungan pertama yang memperkenalkan dirinya dengan tradisi pendidikan dan kehidupan keislaman.

Pendidikan dasar ditempuh di SD Daarul Faizin. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan di SMP dan SMA Daarul Hadits Al-Makkiah. Lingkungan pendidikan tersebut menjadi fondasi awal bagi perjalanan intelektual dan keagamaannya.

Selepas pendidikan menengah, langkahnya berlanjut ke Madinah. Ia menempuh pendidikan tinggi di Islamic University of Madinah, salah satu perguruan tinggi Islam yang memiliki jaringan alumni luas di berbagai negara.

Pada 2011, ia menyelesaikan pendidikan S1 pada Fakultas Dakwah dan Usuluddin. Perjalanan akademiknya tidak berhenti di jenjang sarjana. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Tarbiah Islamiah dan menyelesaikannya pada 2015.

Pengalaman pendidikan di Makkah dan Madinah memberikan bekal penting dalam memahami tradisi keilmuan Islam. Namun, ketika berada di Indonesia, pengetahuan tersebut berhadapan dengan realitas masyarakat yang jauh lebih beragam.

Di sinilah tantangan seorang pendidik dan dai menjadi lebih kompleks: bagaimana ilmu yang diperoleh dari pusat-pusat pendidikan Islam dunia dapat diterjemahkan menjadi bahasa dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Mempertemukan Ilmu dan Realitas Masyarakat

Palembang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik Zainuddin Nawi. Ia melanjutkan pendidikan doktoral pada Program Pendidikan Agama Islam UIN Raden Fatah Palembang dan menyelesaikannya pada 2022.

Perjalanan pendidikan dari Makkah, Madinah hingga Palembang memberikan pengalaman yang berbeda. Ia tidak hanya mengenal khazanah keislaman dari literatur dan lingkungan akademik Timur Tengah, tetapi juga berhadapan langsung dengan persoalan sosial, pendidikan, dan kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia.

Pengalaman itu kemudian menjadi modal dalam menjalankan aktivitasnya sebagai akademisi. Sejak 2016, Zainuddin Nawi mengabdi sebagai dosen pengajar Bahasa Arab dan Studi Islam di Ma’had Sa’ad bin Abi Waqqash Universitas Muhammadiyah Palembang. Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Direktur Ma’had.

Di lingkungan pendidikan tersebut, tugasnya bukan sekadar menyampaikan materi perkuliahan. Ia juga terlibat dalam pembinaan karakter dan pengembangan wawasan keislaman generasi muda.

Pendidikan, baginya, memiliki dimensi yang lebih luas. Generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga membutuhkan akhlak, kemampuan berkomunikasi, wawasan keislaman, serta kemampuan menghadapi perubahan zaman. Ia juga tercatat sebagai Dosen Tetap Komunikasi dan Penyiaran Islam pada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palembang.

Pengalaman Panjang Mendampingi Jamaah

Ada sisi lain dari perjalanan Zainuddin Nawi yang memperkaya pengalaman pengabdiannya, yakni keterlibatan dalam pelayanan ibadah haji dan umrah.

Sejak 2006 di Arab Saudi, ia telah memiliki pengalaman dalam kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan dan pelayanan jamaah. Pengalaman tersebut kemudian berkembang ketika ia dipercaya sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sektor Makkah. Ia juga terlibat sebagai Pembimbing Ibadah KBIHU Muhammadiyah dan memiliki sertifikasi Pembimbing Manasik Haji Profesional dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Mendampingi jamaah di Tanah Suci membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan teori manasik. Pembimbing harus memahami kondisi jamaah yang datang dari berbagai latar belakang usia, pendidikan, kemampuan fisik, dan pemahaman keagamaan.

Di sinilah pengalaman lapangan menjadi penting. Jamaah membutuhkan penjelasan tentang tata cara ibadah, tetapi pada saat yang sama membutuhkan pendamping yang mampu memberikan ketenangan ketika menghadapi berbagai situasi selama berada di Tanah Suci. Pengalaman panjang tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya kepada masyarakat.

Dakwah yang Hadir di Tengah Masyarakat

Kiprah Zainuddin Nawi tidak berhenti di kampus dan pembinaan jamaah. Ia juga terlibat dalam kegiatan sosial-keagamaan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Di DPW Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumatera Selatan, ia dipercaya dalam bidang pendidikan dan pembinaan mualaf.

Pembinaan mualaf merupakan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran dan pendampingan. Seseorang yang baru mengenal dan memeluk Islam membutuhkan ruang untuk belajar, bertanya, memahami ajaran agama, sekaligus membangun kehidupan sosial bersama masyarakat Muslim. Karena itu, dakwah tidak cukup hanya dilakukan melalui ceramah. Dakwah juga membutuhkan keteladanan, pendampingan dan kepedulian.

Zainuddin juga terlibat dalam pembinaan Yayasan Muslim Asia (AMCF), kegiatan kepemudaan, takmir masjid, serta Jalinan Alumni Timur Tengah (JATTI) Sumatera Selatan. Berbagai ruang tersebut mempertemukan dirinya dengan masyarakat dari latar belakang yang berbeda.

Amanah di MUI dan Muhammadiyah

Pengalaman tersebut menjadi semakin luas ketika ia dipercaya berada dalam jajaran MUI Sumatera Selatan dan PWM Sumatera Selatan. Sebagai bagian dari MUI Sumsel, ia berada dalam lingkungan organisasi yang memiliki peran penting dalam membimbing, membina, mengayomi, dan melayani umat.

Tantangan umat saat ini juga semakin kompleks. Persoalan keagamaan tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan pendidikan, ekonomi, keluarga, perkembangan teknologi informasi, perubahan budaya, kehidupan generasi muda, hingga persoalan sosial kemasyarakatan.

Dalam situasi seperti itu, peran ulama dan cendekiawan Muslim membutuhkan kemampuan untuk memahami persoalan secara lebih luas.

Dakwah juga membutuhkan cara komunikasi yang mampu menjangkau generasi baru. Pesan agama harus tetap memiliki landasan yang kuat, tetapi penyampaiannya perlu mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Di sinilah pengalaman akademik dan pengalaman lapangan menjadi dua hal yang saling melengkapi.

Menjaga Tradisi, Membaca Perubahan

Salah satu tantangan terbesar kehidupan keumatan hari ini adalah bagaimana menjaga nilai-nilai agama di tengah perubahan sosial yang sangat cepat.

Teknologi digital telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Generasi muda tidak lagi hanya belajar dari ruang kelas, masjid, majelis taklim, atau buku. Mereka juga memperoleh pengetahuan melalui media sosial dan berbagai platform digital.

Situasi tersebut membutuhkan kehadiran para pendidik dan dai yang mampu berkomunikasi dengan bahasa zaman tanpa kehilangan substansi ajaran Islam.

Latar belakang pendidikan Zainuddin Nawi di Timur Tengah, pengalaman akademik di Indonesia, serta keterlibatannya dalam pelayanan masyarakat memberikan ruang baginya untuk berada di tengah dinamika tersebut. Ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan bagaimana menyampaikan ilmu, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut memberikan manfaat bagi kehidupan.

Pengabdian yang Tidak Berhenti 

Pada akhirnya, jabatan dalam organisasi bukanlah akhir dari perjalanan. Justru amanah organisasi membuka ruang pengabdian yang lebih luas.

Perjalanan Zainuddin Nawi dari Makkah, Madinah hingga Palembang memperlihatkan satu garis yang cukup jelas: pendidikan, dakwah dan pelayanan umat berjalan berdampingan.

Makkah menjadi tempat kelahiran. Madinah menjadi salah satu tempat pembentukan tradisi keilmuan. Sementara Palembang menjadi ruang pengabdian yang mempertemukannya dengan masyarakat Indonesia dalam berbagai persoalan kehidupan.

Kini, ketika amanah di MUI Sumatera Selatan dan Muhammadiyah Sumatera Selatan berada di pundaknya, perjalanan tersebut memasuki fase baru.

Umat membutuhkan ilmu yang dapat membimbing, dakwah yang menenangkan, pendidikan yang mencerdaskan, dan kepemimpinan yang mampu menghadirkan manfaat.

Di tengah perubahan zaman, jejak pengabdian seperti itulah yang akan selalu memiliki arti. Sebab pada akhirnya, ukuran perjalanan seorang manusia bukan semata-mata berapa banyak gelar yang diraih atau jabatan yang dipercayakan, melainkan seberapa jauh ilmu, waktu, tenaga, dan pengalaman yang dimilikinya dapat memberi manfaat bagi orang lain.

Dari Tanah Suci ke Bumi Sriwijaya, perjalanan Dr. H. Muhammad Zainuddin Nawi terus berlanjut—membawa ilmu, pengalaman, dan amanah untuk merawat umat melalui pendidikan, dakwah, serta pelayanan kepada masyarakat.

 

BAGIKAN: