Mengais Pencerahan Ilmu dari Bumi Andalusia
Mengais Pencerahan Ilmu dari Bumi Andalusia
Jakarta, MUI Digital — Andalusia, bumi yang begitu indah. Mercusuar ilmu pengetahuan pernah memancar dari sana. Pelita-pelita ilmu pengetahuan memancar terang. Orang-orang dari seluruh penjuru dunia datang berbondong-bondong ke bumi Andalusia seperti laron yang keluar dari sarangnya mencari cahaya untuk menghangatkan tubuhnya walaupun nyawa taruhannya.
Hiruk-pikuk
pasar buku pernah meramaikan kota itu, diskusi pernah menjadi makanan
sehari-hari masyarakatnya, perpustakaan menjadi tempat yang ramai dikunjungi. Namun, sejarah sudah membalik semuanya. Ketika kita berkunjung ke sana, suasana itu sudah sirna; yang ada tinggal puing-puing reruntuhan yang hanya bisa dikenang.
Andalusia
sudah gelap gulita tanpa pelita, karena pelita itu sudah berpindah ke
negara-negara Eropa yang berbentuk pencerahan ilmu pengetahuan yang mengantarkannya menuju
peradaban yang didambakan.
Pada
awalnya, Eropa gelap gulita, kebodohan merajalela di mana-mana. Orang-orang
Eropa saat itu berada di bawah bayang-bayang dogma gereja yang mengekang
kebebasan berpikir mereka. Apa pun hasil pemikiran yang tidak sesuai dengan
ajaran gereja, maka inkuisisi jawabannya. Yang tidak sesuai itu akan
dipasung dan dilemparkan ke kubangan kotoran yang menghinakan. Pemikiran mereka
mandeg, tanpa ada inovasi dan penemuan untuk meningkatkan kemajuan hidup
mereka.
Akan
tetapi, diam-diam segelintir orang Eropa itu memberanikan diri untuk
menjelajah ke dunia lain untuk mencari sesuatu yang bisa mengubah kondisi
masyarakatnya. Kemudian mereka menemukan bumi Andalusia yang gegap gempita
penuh dengan kajian ilmu pengetahuan.
Peradaban Andalusia yang begitu agung, yang dilandasi oleh ilmu dan agama Islam, menjulang tinggi ke langit, membuat orang-orang Eropa waktu itu kagum. Mereka berpikir, bagaimana seandainya keadaan ini berpindah ke tanah mereka, pasti masyarakatnya dengan tangan terbuka akan menerima, karena setelah sekian lama terkungkung dalam kegelapan yang belum ada ujung pangkalnya.
Hal itu seperti
yang digambarkan oleh Tamim Ansary, seorang sejarawan Muslim dunia, “Pada abad
kedua belas, para sarjana Kristen yang mengunjungi Andalusia Muslim secara tak
sengaja menemukan terjemahan Latin dari terjemahan Arab atas teks-teks Yunani
karya para pemikir seperti Aristoteles dan Plato. Kebanyakan dari karya-karya
ini dihasilkan di Toledo, tempat berkembang pesatnya industri penerjemahan.
Dari Toledo, buku-buku masuk ke wilayah Eropa barat, lalu pada akhirnya
menemukan jalan ke perpustakaan-perpustakaan gereja dan biara.”
Tamim
menambahkan, “Kemudian orang-orang Kristen itu mengolah apa yang ditemukan itu
sesuai dengan apa yang menjadi seleranya. Karya-karya berbahasa Arab yang
ditemukan di Andalusia mencakup banyak komentar oleh filsuf muslim seperti Ibn
Sina (Avicenna) dan Ibn Rusyd (Averroes). Tulisan-tulisan mereka
terfokus pada rekonsiliasi filsafat Yunani dengan wahyu Islam. Orang Kristen
tidak terlalu tertarik pada pencapaian itu, sehingga mereka melucuti apa pun
yang telah ditambahkan kaum muslim pada karya Aristoteles dan lain-lain serta
mulai bekerja menggali bagaimana filsafat Yunani dapat diperdamaikan dengan
wahyu Kristen. Berkat upaya ini, muncullah epik filsafat “skolastik” dari para
pemikir seperti Thomas Aquinas, Duns Scotus, dan lain-lain. Lalu, hubungan
muslim dengan karya-karya Yunani kuno pun dihapus dari memori budaya Eropa.”
Kemudian
sedikit demi sedikit, di Eropa muncul komunitas-komunitas pembelajaran yang
kemudian berbuah pada munculnya universitas-universitas pertama di Eropa. Tamim
Ansary kembali mengetengahkan situasi ini. Menurutnya, ilmuwan Eropa mulai
berdatangan ke biara-biara yang memiliki perpustakaan karena buku-buku
itu ada di sana. Kemudian, calon-calon siswa mulai mendekati biara yang punya
perpustakaan karena para sarjana ada di sana.
Sembari
melanjutkan kajian mereka, para sarjana Eropa yang miskin itu mencari
penghidupan dengan mengajar. Komunitas pembelajaran terbentuk di sekitar
biara-biara dan berubah menjadi universitas-universitas pertama di Eropa. Salah
satu yang paling awal muncul di sekitar Katedral Notre-Dame di Paris. Komunitas
pembelajaran paling awal lainnya menjadi Universitas Naples. Lalu sebuah
universitas berkembang pula di Oxford, Inggris.
Ketika
terjadi perselisihan antara para sarjana di sana, kelompok pembangkang
bermigrasi ke Cambridge dalam sekejap dan memulai komunitas belajar tersendiri.
Dari gerakan seperti inilah kemudian di Eropa muncul gerakan Renaisans (Pencerahan),
yang mengantarkan Eropa pada kemajuan peradabannya sampai sekarang.
Dari bumi
Andalusia, mereka, orang-orang Eropa menemukan pencerahan itu. Alhasil, siapa pun
yang mencarinya tentu akan mendapatkannya, tidak peduli latar belakang yang
dimilikinya.
Lalu, bagaimana
umat Islam sekarang? Sungguh memprihatinkan, mereka tampaknya tidak
mengindahkan warisan semangat nenek moyang. Mereka sudah terlanjur silau
melihat peradaban yang dicapai oleh Barat. Seolah mereka sudah kehilangan
kekuatannya untuk membangun peradaban.
Teks-teks Alquran
ataupun hadis seolah sudah tidak berdaya menyulut emosi mereka untuk mencari
dan mendalami ilmu dari mana pun datangnya. Umat Islam seolah sudah merasa
kalah menghadapi serangan musuh yang di matanya seperti raksasa yang sulit
dikalahkan. Padahal apa yang mereka sangka itu belum tentu benar, karena mereka
belum membuktikannya.
Melihat
kondisi yang demikian, lalu apa yang seharusnya dilakukan? Berpangku tangan
menerima kenyataan tanpa ada usaha sama sekali atau menghadapi realitas dengan
kepala tegak berdiri mencari pencerahan kembali dengan mengais hikmah di
reruntuhan peradaban Islam?
Tentunya, sebagai umat yang dalam Alquran telah diakui oleh Allah sebagai “khaira ummah” (sebaik-baik umat), harus mengencangkan ikat pinggang, membangun kembali peradaban yang disinari oleh keimanan yang kokoh dan semangat yang membara untuk terjun ke pentas keilmuan.
Menggali
Inspirasi Kisah “Hayy ibnu Yaqdhan” karya Ibnu Thufail
Kembali ke
bumi Andalusia. Dalam reruntuhan peradaban di sana, masih bisa ditemukan
warisan karya dari tokoh ilmuwan muslim yang hidup pada masa Andalusia, yang masih
dikuasai orang-orang muslim. Warisan karya itu, beberapa di antaranya telah dibawa ke Eropa
dan dipelajari dengan saksama di sana pada abad pertengahan.
Dalam konteks
tersebut, apa yang ingin saya lakukan adalah mencoba untuk melacak dan mencari
hikmah dari karya-karya ilmuwan agung Andalusia untuk bisa dijadikan pijakan
dalam mengusahakan pencerahan kembali peradaban ilmu dalam Islam. Salah satunya
adalah karya Ibnu Thufail, yaitu kisah Hayy ibnu Yaqdhan.
Siapakah
Ibn Thufail itu? Dialah bintang kebanggaan bumi Andalusia ketika masih menjadi
mercusuar ilmu pengetahuan. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdul
Malik bin Muhammad bin Muhammad bin Thufail al-Andalusi al-Qoisi. Lahir sekitar
tahun 500 H/1106 M atau sekitar sembilan ratus empat tahun yang lalu di Wadi
Asyir yang terletak di sebelah utara bagian timur kota Granada Spanyol.
Ibn Thufail
bekerja sebagai seorang dokter, lalu memegang jabatan sebagai seorang menteri
di Granada. Pada tahun 549 H/1154 M ia bergabung dengan pasukan tentara kaum
Muwahidin di Afrika dan bertugas sebagai mata-mata Amir Abi Said bin Abdul
Mu’min.
Pada tahun
558 H/1163 beliau menjadi dokter khusus Amir Abu Ya’qub Yusuf, Sultan kaum
Muwahidin. Lalu, pada tahun 578 H/1182-1183 M Ibnu Thufail meninggalkan
jabatannya dalam kesultanan Abi Ya’qub dan digantikan oleh muridnya, Ibnu Rusyd, salah
satu filsuf agung dunia yang memiliki peranan penting dalam memberikan
pencerahan pemikiran manusia.
Ibnu
Thufail wafat pada tahun 581 H/1185 M di Marcia dan dimakamkan di sana. Menurut
pendapat ilmuwan yang hidup setelah beliau, Ibnu Thufail memiliki karya-karya
dalam bidang filsafat dan ilmu kosmologi. Namun, karya-karya yang terlacak sepeninggalnya hanya kisah Hayy ibnu Yaqdhan dan beberapa potongan risalah atau
bait-bait syair yang tersebar di mana-mana.
Di antara hal yang menarik dan tidak boleh dilewatkan dalam mengenang Ibnu Thufail adalah bahwa ia adalah seorang guru yang menganjurkan dua orang muridnya, yaitu Nurudin Abi Ishaq Al-Bathruhi untuk mengkritik aturan Ptolemeus dan Ibnu Rusyd untuk meringkas dan memudahkan buku-buku Aristoteles.
Dari karya
Ibnu Thufail Hayy ibnu Yaqdhan itu, kita mencoba untuk menggali inspirasi
pemikiran sang bintang pengetahuan dari bumi Andalusia. Walaupun karyanya
berupa karya sastra yang berbentuk cerita, namun tetap memiliki peranan dalam
menjelaskan pemikiran filsafat penulisnya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Simone de Beauvoir, orang yang menolak peranan karya sastra dalam menjelaskan pemikiran dan pendapat mereka mengenai filsafat adalah orang yang memisahkan bentuk (shurah) dari wujud benda. Selain
itu, juga merupakan tindakan menghina sifat yang tampak tanpa menyebutkan hakikat
yang menyatukan keduanya.
Sebab, jika
kita tahu bahwa yang tampak adalah hakikat, sementara yang wujud adalah bentuk
(shurah) benda, maka kita takkan mampu memisahkan senyuman dari wajah
orang yang tersenyum. Atau dengan kata lain, memisahkan makna kejadian dari
kejadian itu sendiri.
Kisah Hayy
ibnu Yaqdhan menceritakan tentang seorang anak yang terlantar di
hutan belantara yang masih perawan. Di tempat itu, ia diasuh oleh seekor rusa. Disebut
dalam cerita itu, anak tersebut bernama Hayy ibnu Yaqdhan.
Hayy hidup
jauh dari peradaban manusia. Di sebuah pulau terpencil tanpa ada manusia sama
sekali selain ia sendiri. Yang ada hanya hewan-hewan liar yang berlalu-lalang
mendiami hutan itu. Namun, dengan segala daya upaya yang dimilikinya, pada
akhirnya ia menemukan hakikat dirinya sendiri dan menemukan kebenaran
yang paling hakiki, yaitu “Al-Haq Al-Wajibul Wujud”. Bahkan lebih
jauh dari itu, ia mampu sampai ke tingkatan di mana ia menyaksikan “Al-Haq
Al-Wajibul Wujud” dalam alam Ilahiyah.
Yang
menarik dari perjalanan pencarian kebenaran itu, adalah bahwa ia semata-mata
mengandalkan kemampuannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Hal ini menunjukkan
bahwa sebenarnya manusia itu mempunyai kemampuan untuk mengenal Tuhannya
melalui percobaan-percobaan dan penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukannya
dengan anugerah akal yang dimilikinya.
Namun
demikian, apa yang disampaikan dalam buku itu bukan berarti meniadakan wahyu
sebagai petunjuk utama dalam mengenal Tuhan, sebab pada akhirnya, setelah
bertemu sosok Isal dan diajari tentang syariat agama, Hayy mengikuti
ajaran agama Isal.
Persoalannya, ketika seorang peneliti sampai pada kesimpulan bahwa ada sesuatu yang menggerakkan alam ini, misalnya, peneliti akan dihadapkan pada dua pilihan: mempercayainya atau tidak mempercayainya. Dan dalam hal ini, sosok Hayy ibnu Yaqdhan yang digambarkan dalam kisah di atas memilih pilihan yang pertama, yaitu mempercayainya.
Sebelumnya, mungkin lebih tepat jika buku yang saya singgung di
atas disebut novel, karena gaya kepenulisan yang memang menjurus ke sana.
Menariknya,
novel ini pernah menggemparkan dunia Eropa pada abad pertengahan. Novel ini
bahkan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti bahasa Latin, Inggris,
Jerman, Prancis, Rusia dan lain-lain.
Sebagai
novel fiksi ilmiah, Hayy ibnu Yaqdhan dipandang sebagai novel yang
mendahului zamannya, karena ternyata metode penulisan yang dilakukan oleh Ibnu
Thufail ini banyak ditiru dan menjadi inspirasi penulis-penulis selanjutnya,
terutama dari dunia Eropa.
Namun
demikian, penting dicatat di sini, bahwa ketika novel tersebut menjadi
inspirasi orang-orang Eropa, ternyata mereka tidak mengambil semua hikmah yang
ada di dalamnya. Mereka hanya mengambil sebagian dan membuang sebagian yang
lain. Mereka hanya terinspirasi dari sisi sainsnya dan mengesampingkan aspek
ketuhanan yang ada dalam novel itu. Sehingga, apa yang diambilnya tidak utuh,
atau semacam ada reduksi. Padahal tujuan pertama dan utama novel ini ditulis—seperti
yang disampaikan Ibnu Thufail dalam prolognya—adalah untuk menjelaskan dan
mengajarkan bagaimana seseorang itu bisa mencapai derajat tertinggi dalam dunia
ilmu pengetahuan, yaitu mengenal Tuhannya.
Walaupun
demikian, kontribusi novel ini bagi kemajuan dunia pikir Eropa tidak bisa
dielakkan. Artinya, Renaisans yang terjadi di Eropa pada
abad pertengahan, salah satu inspirasinya adalah pengaruh dari karya Ibnu
Thufail itu.
Lalu, kalau
demikian adanya, mungkinkah novel ini yang umurnya sudah ratusan tahun dan
merupakan khazanah ilmu pengetahuan Islam mampu menggerakkan umat Islam untuk mendapatkan pencerahannya kembali dalam dunia keilmuan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu bukan perkara yang mudah. Melihat kondisi umat Islam yang belum juga menyadari sepenuhnya akan pentingnya budaya iqro’, sepertinya harapan adanya pencerahan peradaban ilmu dalam Islam masih butuh waktu yang panjang. Wallahu a’lam bis shawab.