Wantim MUI Sebut Fondasi Spiritual di Balik Munajat dan Pengukuhan dalam Satu Rangkaian
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital — Di tengah dinamika keumatan dan tantangan kebangsaan yang terus berkembang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memilih memulai langkahnya dari doa.
Melalui kegiatan bertema “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa, Pengukuhan dan Ta’aruf Pengurus MUI 2025–2030”, MUI akan menggelar munajat kebangsaan yang dirangkai dengan pengukuhan kepengurusan baru pada Sabtu 7 Februari 2026 mulai dari pagi hari, bertempat di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Pelaksanaan munajat dan pengukuhan kepengurusan dalam satu rangkaian kegiatan tersebut memiliki relevansi yang saling menguatkan.
Keduanya merepresentasikan ikhtiar spiritual dan penguatan kelembagaan MUI dalam merespons dinamika umat dan bangsa.
Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, KH Abdullah Jaidi menjelaskan, munajat yang dilaksanakan pada pagi hari merupakan bentuk doa dan pengharapan kepada Allah SWT untuk keselamatan bangsa dan umat di tengah berbagai persoalan yang dihadapi.
“Mengenai masalah munajat itu adalah kita berdoa pada Allah SWT, bermunajat kepada Allah SWT untuk keselamatan bangsa, untuk keselamatan umat dalam menghadapi berbagai permasalahan keumatan dan kebangsaan,” ujar Kiai Jaidi kepada MUI Digital di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).
Menurutnya, munajat menjadi fondasi spiritual bagi seluruh ikhtiar keumatan yang dilakukan MUI. Doa diposisikan sebagai langkah awal sebelum melangkah pada kerja-kerja kelembagaan dan struktural.
Sementara itu, agenda pengukuhan kepengurusan yang dilaksanakan setelah munajat memiliki relevansi sebagai penguatan organisasi agar nilai-nilai dan harapan yang dipanjatkan dalam doa dapat diwujudkan secara nyata melalui kerja kepengurusan.
“Pengukuhan itu adalah sekadar mengukuhkan taaruf dan pengukuhan kepengurusan yang baru,” jelasnya.
Kiai Jaidi menegaskan, penyatuan dua agenda tersebut bukan tanpa alasan. Munajat dan pengukuhan dipandang sebagai dua kebutuhan yang saling melengkapi dalam menjalankan peran MUI.
“Berarti ada dua event, dua event yang justru kita kaitkan karena dua event itu menjadi dua kebutuhan kita,” katanya.
Lebih lanjut, dia menekankan posisi strategis MUI sebagai mitra pemerintah sekaligus pelindung umat.
“MUI selaku shadiqul hukûmah sebagai mitra pemerintah dan yang kedua sebagai himâyatul ummah,” ungkap Kiai Zaidi.
Dalam konteks tersebut, munajat menjadi ekspresi tanggung jawab spiritual MUI terhadap bangsa, sementara pengukuhan kepengurusan merupakan penguatan peran kepemimpinan umat dalam menjaga dan mengarahkan kehidupan keumatan dan kebangsaan.
“Sebagai pemimpin umat, pengarah umat, penyelamat umat. Bagaimana kita ini memperhatikan nasib umat dan kondisi kebangsaan,” kata dia.
Melalui rangkaian kegiatan ini, MUI menegaskan bahwa ikhtiar keumatan tidak hanya bertumpu pada doa, tetapi juga pada kesiapan organisasi dan kepemimpinan dalam merespons dinamika bangsa. (Fitri Aulia Lestari, ed: Nashih)