JAKARTA, MUI.OR.ID – Ketua Steering Committee (SC) Munas XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Masduki Baidlowi menyatakan pemilihan pemimpin MUI bukanlah fokus utama dalam organisasi tersebut.
Menurutnya, yang lebih penting adalah substansi dan arah gerakan yang akan dibicarakan, bukan soal figur pemimpin. Kiai Masduki menjelaskan, MUI lebih memprioritaskan isu-isu strategis umat, seperti nasib umat dan visi gerakan ke depan.
“Siapapun yang memimpin MUI, itu tidak menjadi masalah. Yang kami utamakan adalah substansi apa yang akan dibicarakan dan bagaimana kami bergerak ke depan. Kami lebih sibuk dengan isu-isu gerakan umat,” ujar Kiai Masduki dalam Konferensi Pers di Aula Buya Hamka, Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/11/2025).
Kiai Masduki menekankan pentingnya prinsip kolektif kolegial dalam kepemimpinan MUI. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan-keputusan penting dalam MUI selalu melibatkan berbagai ormas besar dan tokoh umat, yang memiliki peran sentral dalam kepemimpinan bersama.
"MUI dipimpin oleh berbagai kelompok dan organisasi umat, dan yang kami utamakan adalah kerja sama kolektif, bukan siapa figur yang memimpin," tambahnya.
MUI, lanjut Kiai Masduki, mengikuti tradisi pemilihan kepemimpinan yang berbasis pada musyawarah dan mufakat.
Pemilihan pemimpin MUI didasarkan pada sistem ahlul halli wal aqdi yang sudah ada sejak masa Rasulullah SAW, di mana keputusan diambil oleh sekelompok ulama dan tokoh umat yang berkompeten.
“Sudah disepakati bahwa pemilihan pemimpin MUI akan melibatkan 19 formatun yang akan berembuk bersama untuk memilih siapa yang akan memimpin dalam lima tahun ke depan. Ini adalah tradisi kami yang mengutamakan musyawarah,” jelas Kiai Masduki.
Dia menambahkan, MUI tidak terfokus pada pencarian sosok pemimpin tertentu. “Kami tidak terjebak pada siapa yang memimpin, karena yang penting adalah kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan umat,” tegasnya.
Dengan demikian, Munas XI MUI diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang bijak dan objektif, demi kemajuan umat dan tercapainya keharmonisan antarberbagai ormas dan kelompok dalam MUI. (Miftahul Jannah, ed: Muhammaf Fakhruddin)