Jakarta, MUI Digital — Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam menggelar rapat kerja dan rapat pleno dalam rangka menyusun program kerja prioritas masa khidmat 2025–2030.
Rapat ini menjadi tahapan penting sebelum program tersebut dibawa dan disahkan dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) MUI yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Februari 2026 mendatang.
Ketua MUI Bidang Seni Budaya dan Peradaban Islam, Buya Pasni Rusli menyampaikan bahwa rapat pleno hari ini difokuskan pada perumusan dan pemantapan program kerja strategis lembaga yang akan dijalankan selama lima tahun ke depan.
“Hari ini kita melaksanakan rapat kerja lembaga seni budaya dan peradaban Islam dalam rangka menyusun program kerja prioritas masa khidmat 2025–2030. Program ini nantinya akan kita bawa ke Mukernas MUI pada 12 Februari mendatang,” ujar Buya Pasni Rusli di Jakarta, Jumat (23/1/2025).
Ia menjelaskan, sebelum pengesahan di Mukernas, seluruh program kerja akan melalui tahapan pelaporan dan koordinasi lintas bidang.
“Insya Allah, pada Selasa depan hasil rapat pleno ini akan dibawa dan dilaporkan kepada Dewan Pimpinan melalui rapat koordinasi bidang masing-masing Wakil Ketua Umum, untuk kemudian diserahkan dan siap dibawa ke Mukernas,” jelasnya.
Sementara itu, Bendahara MUI, Diana Dewi, menegaskan pentingnya peran Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam dalam mengangkat kekayaan seni dan budaya Indonesia, khususnya seni dan budaya Islam, agar semakin dikenal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
“Lembaga kita ini adalah lembaga seni dan budaya. Tentunya kita harus mampu mengangkat seni dan budaya yang ada di Indonesia, khususnya seni budaya Islam. Sebagai bagian dari MUI, kita juga harus saling berkolaborasi,” ungkap Diana.
Menurutnya, seni dan budaya Islam memiliki irisan yang kuat dengan budaya Nusantara yang majemuk. Oleh karena itu, pengembangan program harus memperhatikan keberagaman dan nilai kemanfaatan universal.
“Saya melihat di sini banyak potensi, baik seni budaya Islam maupun budaya Indonesia secara umum, yang memang harus kita angkat,” katanya.
Diana juga optimistis dengan komposisi kepengurusan Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam saat ini.
“Dengan pengurus yang hebat, tokoh-tokoh, serta para ahli di bidang seni dan budaya, saya yakin lembaga ini akan menjadi lembaga yang mandiri dan mampu mengangkat seni dan budaya Islam dengan baik serta bermanfaat,” ujarnya.
Ia menambahkan, manfaat seni dan budaya Islam tidak hanya dirasakan oleh umat Islam semata, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Bukan hanya masyarakat Islam, melainkan seluruh agama akan melihat bahwa seni dan budaya Islam ini memang membawa manfaat bagi semua,” ujarnya. (Junaidi, ed: Nashih)