Lewati ke konten utama
Kamis, 6 Agustus 2026 / 22 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Penulis Buku Ungkap Gelisahnya Kiai Ma'ruf Soal Masa Depan Nahdlatul Ulama

3 menit baca 126 dibaca
Bedah buku 3
Penulis buku "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin" Hj Siti Haniatunnisa. Foto: Istimewa
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Di balik susunan halaman buku "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin", tersimpan narasi mendalam tentang arah gerak Nahdlatul Ulama (NU). 

Penulis buku tersebut, Hj Siti Haniatunnisa, mengungkapkan bahwa penyusunan karya ini berangkat dari dialog intensif yang menangkap kegelisahan sekaligus harapan besar KH Ma'ruf Amin terhadap masa depan NU yang kini memasuki abad keduanya.

Hal itu disampaikan Siti Haniatunnisa saat memberikan sambutan dalam peluncuran buku tersebut di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam. 

Acara penting ini turut dihadiri Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar.

Siti Hani menceritakan, saat proses wawancara dan penyusunan, ia mengajukan satu pertanyaan sederhana namun mendasar kepada Kiai Ma'ruf: "Bagaimana Nahdlatul Ulama harus menghadapi abad keduanya?"

Baca juga: Menag hingga Ketum PBNU Hadiri Peluncuran Buku Pemikiran Kiai Ma'ruf Amin

"Ketika kami berdialog dengan KH Ma'ruf Amin, sesungguhnya yang kami rasakan bukan hanya penjelasan tentang masa lalu NU, melainkan juga kegelisahan sekaligus harapan baru beliau terhadap masa depan NU," ujar Siti Hani di hadapan para tokoh keagamaan dan pejabat negara yang hadir.

Menurut Siti Hani, Kiai Ma'ruf menggarisbawahi pertanyaan krusial yang perlu direnungkan seluruh warga NU di tengah cepatnya perubahan zaman: Fa-aina tadzhabūn? (Maka ke manakah kamu akan pergi?). Jawaban Wakil Presiden ke-13 RI tersebut sangat tegas, NU tidak boleh dilepas tanpa arah dan tidak boleh memutus mata rantai perjuangan para muassis (pendiri).


Sejumlah tokoh menghadiri peluncuran buku "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin", di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam. Foto: Istimewa

"Beliau berharap warga NU tidak hanya mewarisi organisasi, tetapi juga mewarisi cara berpikir para ulama, mewarisi manhaj para ulama, dan mewarisi ruh khidmat para muassis," kata dia menegaskan. 

Baca juga: Merajut Teologi dan Republik, Membaca Visi Kemandirian Ekonomi Kiai Ma'ruf Amin

Buku setebal lebih dari 600 halaman yang ditulis Siti Haniatunnisa bersama H Muhammad Zainal Arifin ini dirancang menyerupai sebuah bangunan lima bab. 

Isinya secara runtut mengupas revitalisasi fikrah (cara berpikir), manhaj (metode), hingga harakah (gerakan) Nahdhiyyah, dengan puncaknya mengajak warga NU untuk berorganisasi secara 'alā baṣhīrah (berdasar pada pemahaman dan argumentasi yang kuat).

Putri Bungsu Kiai Ma'ruf ini menambahkan, buku ini bukan hadir untuk memberikan "wajah baru" bagi NU, melainkan sebuah ikhtiar sederhana mendokumentasikan pemikiran Kiai Ma'ruf, tokoh yang tumbuh, berkhidmat, dan menjadi saksi perjalanan NU sejak muda hingga memasuki abad kedua, agar warisan keilmuan para ulama tetap kontekstual menjawab tantangan zaman.

Peluncuran buku ini dinilai sangat momentum lantaran digelar menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 mendatang.

Hadir pula jajaran tokoh nasional lain, di antaranya Sekjen Kemenag RI Prof Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Baznas RI KH Zainut Tauhid Sa'adi, Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh, Ketua Kopnus Syariah Abdul Kholid Soleh, Wasekjend MUI Bidang Dakwah KH Arif Fahruddin, serta Wasekjend MUI Bidang Infokomdigi Dr Asrori S Karni.