Pengakuan Jurnalis India Ini Indikasikan Kuatnya Sensor Israel Atas Dampak Serangan Iran
Miftahul Jannah
Penulis
Admin
Editor
New Delhi, MUI Digital- Rumor perihal langkah represif Zionis Israel membatasi publikasi dampak serangan Iran terhadap wilayah-wilayah pendudukan tampaknya bukan isapan jempol semata.
Apa yang dialami Prij Mohan Singh Ragunchi, jurnalis asal India, menjawab kabar yang santer beredar tersebut. Ragunchi menghadapi pemeriksaan keamanan dan interogasi intensif dari pihak berwenang negaranya.
Hal ini menyusul beredarnya sebuah video yang mendokumentasikan kesaksiannya bahwa tempat penampungan di Israel tidak lagi aman.
Dalam wawancara eksklusif dengan Aljazeera, dikutip MUI Digital, Jumat (3/4/2026), Ragunchi menegaskan dirinya menjalani interogasi yang sangat ketat dan dikenakan pembatasan yang ketat.
Ragunchi mengaku dirinya menerima panggilan dari berbagai pihak, termasuk Kedutaan Besar Israel di New Delhi yang memberikan peringatan yang digambarkannya sebagai fakta-fakta yang harus dipatuhi.
Ragunchi—pemimpin redaksi situs “Sadhana Media” berbahasa Hindi—telah mengunjungi Israel pada 24 Februari lalu untuk meliput kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi.
Segera setelah kembali, dia mengunggah video yang menyebutkan roket-roket Iran terkadang mengenai sasarannya tanpa bunyi sirene peringatan, yang mengakibatkan tewasnya warga sipil di dalam tempat perlindungan, sebuah narasi yang dibantah dengan keras oleh Tel Aviv.
Dalam pernyataannya terakhir, Ragunchi tampak sedikit mundur dari apa yang tercantum dalam video tersebut, dipengaruhi oleh sesi interogasi yang panjang yang dia jalani.
Dia mengatakan, “Apa yang saya sebutkan sebelumnya didasarkan pada penilaian pribadi saya,” sambil menjelaskan bahwa wilayah tempat dia berada terkena dua serangan yang menyebabkan kerusakan besar dan kebakaran.
Namun dia menambahkan “Saya tidak melihat mayat di kedua lokasi tersebut, dan sangat sulit untuk menentukan skala kerusakan yang sebenarnya.”
Ragunchi menolak untuk mengulang detail yang disebutkannya dalam video kontroversial tersebut, dengan alasan perubahan nada bicaranya karena dia tidak mendapatkan “konfirmasi resmi”.
Dia mengaitkan kesulitan yang dihadapinya dengan tidak adanya pusat briefing untuk media internasional di Tel Aviv, dengan mengatakan, “Tidak ada briefing yang diberikan kepada pers asing, dan stasiun televisi lokal Israel adalah satu-satunya sumber informasi yang tersedia bagi kami.”
Baca juga: Mantan Menlu Inggris Hague: Trump Lakukan Kesalahan Strategis Perangi Iran
Wawancara tersebut memicu reaksi dari pengguna media sosial, dan banyak pengikut berpendapat bahwa apa yang disampaikan oleh jurnalis India tersebut mencerminkan tingkat pembatasan pemberitaan dan tekanan terhadap jurnalis saat meliput korban di dalam Israel, terutama di tengah serangan yang menerpa negara itu dari luar.
Para pengguna media sosial mengatakan bahwa pembatasan yang diberlakukan terhadap pers asing, ditambah dengan sensor militer Israel terhadap detail lokasi yang menjadi sasaran dan jumlah korban, membuat sulit untuk mendapatkan gambaran yang sebenarnya mengenai besarnya kerugian manusia dan material.
Selain itu, ada pula yang mempertanyakan sejauh mana transparansi pihak berwenang Israel dalam berurusan dengan media, terutama terkait serangan yang menimpa wilayah dalam Israel dan memengaruhi citra “kesiapan pertahanan” sistem militernya.