Penasihat Ahli Mendikdasmen Dorong Siswa YP IPPI Tingkatkan Kemampuan Membaca
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital— Penasihat Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Maila Dinia Husni Rahiem mendorong siswa Yayasan Perguruan Institut Pengembangan Pendidikan Indonesia (YP IPPI) meningkatkan kemampuan membaca.
Akademisi yang akrab disapa Prof Maila ini menekankan pentingnya meningkatkan kemampuan membaca agar informasi yang diterima bisa ditelaah secara kritis.
Hal itu disampaikannya di YP IPPI, Cakung, Jakarta Timur, Jumat (27/2/2026), dalam acara Pesantren Kilat Ramadhan yang digelar oleh Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) MUI.
Guru Besar Bidang Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjelaskan, kemampuan membaca bisa diukur melalui PISA yang memiliki level satu hingga enam.
Dia mengungkapkan kemampuan anak dalam membaca untuk belajar di sekolah adalah level 2 PISA. Namun, banyak anak yang masih di bawah level 2.
"Level dianggap mampu menggunakan ilmu pengetahuan atau pembelajaran di sekolah maupun kehidupan sehari-hari itu adalah minimum level 2. Ketika dia level 1, membaca informasi apa adanya," kata Prof Maila.



Dalam paparannya dihadapan siswa YP IPPI, ada seorang siswa bernama Keisha yang membaca buku cinta di masa SMA. Prof Maila kemudiaan menanyakan mengenai isi buku tersebut.
Wakil Ketua KPK MUI ini menilai jawaban Keisha sudah masuk ke level 2 karena mampu berpikir kritis, sehingga tidak membaca secara mentah mengenai informasi yang ada dalam buku tersebut.
Prof Maila mengatakan, kemampuan membaca bisa ditingkatkan dengan cara membaca. Dia mengingatkan bahwa kemampuan lain sangat dipengaruhi oleh kemampuan membaca.
"Membaca menjadi gerbang ilmu pengetahuan, nggak bisa menguasai matematika, karena soal matematika sekarang reading comprehension. Nggak bisa menguasai science, nggak bisa menguasai ilmu-ilmu lain kalau tidak bisa membaca," tegasnya.
Kegiatan Pesantren Kilat Ramadan KPK MUI di YP IPPI digelar pada 26-27 Februari 2026 dengan diikuti sebanyak 4500 orang siswa-siswa SMP, SMA/SMK. Sementara yang hadir secara offline sebanyak 300 orang. (Sadam, ed: Nashih)