Wantim MUI Berharap Mukernas 1 Mampu Lahirkan Blueprint Strategi Umat
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital— Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) 1 MUI 2026 diagendakan untuk menyusun beberapa rekomendasi penting berupa sejumlah program kerja yang nantinya bisa diimplementasikan secara tepat.
Wakil Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI, KH Muhyiddin Junaidi, mengatakan Mukernas ini diharapkan mampu menghasilkan blueprint strategis bagi umat yang dampaknya tidak hanya untuk internal, tetapi juga bisa memberi kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia.
Dia menyebut, Wantim MUI memiliki mandat untuk memberikan masukan-masukan yang konstruktif demi memastikan agenda kegiatan MUI bisa berjalan optimal.
“Agenda ini menjadi cerminan dan khazanah keislaman yang berkembang di Indonesia," jelasnya saat memberikan sambutan pada pembukaan Mukernas 1 MUI 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Dia menyebut, dunia sekarang ini sedang berada dalam era borderless society yang mana batas-batas geografis tidak lagi menjadi penghalang untuk arus informasi dan dinamika global.
"Umat Islam tidak boleh bersikap pasif, apalagi terhadap persoalan-persoalan regional maupun internasional. Salah satu isu yang sekarang jadi perhatian serius adalah masa depan Palestina," jelasnya.
Lebih lanjut, Indonesia memiliki posisi yang terhormat dalam mendukung perjuangan Palestina dan tidak boleh berhenti pada pernyataan sikap tetapi harus diwujudkan dalam langkah-langkah nyata yang lebih terukur dan berdampak luas.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan terkait pentingnya penguatan sektor ekonomi umat sebagai fondasi dari kemandirian dan daya saing di tingkat global.
"Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia memiliki potensi besar untuk mengambil peran strategis termasuk didalamnya menjaga dan mengelola sumber daya secara adil," tambahnya.
MUI diharapkan dapat terus mendukung sekaligus mengawal kebijakan pemerintah yang berpihak pada kepentingan umat dan bangsa, termasuk membela kelompok-kelompok yang mengalami ketidakadilan. (Irma Zuha Attamimi, ed: Muhammad Fakhrudin)