MUI Gelar Perpisahan dengan Mantan Duta Besar Malaysia Dato’ Syed Mohamad Hasrin
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital--Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan silaturahmi perpisahan yang penuh kehangatan untuk Duta Besar Malaysia, Dato’ Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin, dan Atase Agama Kedutaan Besar Malaysia, Ustadz Muhammad Syamsuri Bin Ghazali hari Kamis (26/1/2026) di Jakarta.
Acara yang sarat nuansa persaudaraan ini sekaligus menjadi ruang bincang saudara serumpun guna memperkuat ikatan umat Islam Indonesia-Malaysia sekarang Dan masa mendatang.
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI, Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan perasaan yang sangat personal sekaligus mendalam dalam sambutannya.
“Pak Dubes Hasrin dan Ustadz Syamsuri sudah seperti keluarga bagi kami di MUI. Kami doakan beliau berdua senantiasa sehat walafiat, kuat lahir dan batin. Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kedutaan Besar Malaysia yang semakin dekat dengan Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Duta Besar Dato’ Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin, dalam sambutan perpisahannya, mengakui bobot penugasan di Jakarta. “Penempatan di Indonesia adalah tantangan sekaligus kehormatan besar bagi diplomat Malaysia karena posisi strategis Indonesia. Alhamdulillah, selama tiga tahun ini hubungan bilateral kita sangat baik dan harmonis,” ucapnya.
Ia secara khusus menyanjung peran MUI. “MUI memainkan peran sangat besar dalam memupuk dan memelihara hubungan baik kedua negara. Saya berharap tali persaudaraan ini terus diperkuat. Terima kasih kepada MUI yang telah membantu kami menjalankan tugas memperkokoh hubungan dua negara. Fondasi terkuatnya adalah kesamaan mayoritas Muslim, dari situlah ukhuwah dan persaudaraan serumpun terjalin begitu erat,” tutup Dubes Hasrin dengan penuh harapan.
Lebih jauh dalam sambutannya , Prof Sudarnoto bercerita yang membuat hadirin tersenyum hangat. “Kalau Bu Safirah senang Ramli, saya lebih dari itu. Istri saya orang Malaysia, mertua saya orang Malaysia. Saat keluarga besar istri berkumpul, kami ngobrol cakap Melayu sepenuhnya. Saya sangat dekat dengan Malaysia, bukan sekadar kenalan, tapi sudah menjadi bagian dari hidup saya,” kenangnya.
Ia pun membuka lembaran karier akademiknya yang tak terpisahkan dari negeri jiran. “Tanpa Malaysia, saya tidak akan bisa menjadi doktor. Saya menempuh studi di Montreal, tapi disertasi saya justru tentang Malaysia. Sampai sekarang saya sudah menulis empat buku tentang negeri itu. Jadi Malaysia bukan hanya topik penelitian, tapi juga bagian dari identitas dan perjalanan hidup saya,” tambah Prof Sudarnoto dengan nada penuh rasa syukur.
Wakil Sekjen Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI, Dubes Safira Machrusah, turut menyampaikan apresiasi atas tiga tahun hubungan yang harmonis. “Kami bersyukur atas keaktifan dan kerendahan hati Pak Syamsuri dalam mendekati MUI. Hubungan formal dan informal dengan Kedutaan Malaysia berjalan sangat baik. Diplomasi sejati adalah diplomasi yang menyentuh masyarakat, bukan hanya antar-pemerintah,” tegasnya.
Safira juga mengenang lima tokoh publik Malaysia yang begitu dekat di hati rakyat Indonesia: Ramli (“Engkau Laksana Bulan”), Shaila Majid (“Antara Anyer dan Jakarta”), Siti Nurhaliza (“Cindai”), Tun Dr. Mahathir Mohamad, serta Datuk Seri Anwar Ibrahim yang memiliki hubungan khusus dengan Presiden Prabowo Subianto. “Nama-nama ini menggambarkan betapa beragam dan dalamnya ikatan kita, dari musik hingga politik,” katanya.
Silaturahmi perpisahan ini menjadi salah satu momentum penutup yang berkesan sekaligus pengingat bahwa hubungan Indonesia-Malaysia bukan hanya urusan negara, melainkan juga urusan hati, keluarga, budaya, dan keyakinan yang sama.
(Junaedi ed: Muhammad Fakhruddin)