BOGOR, MUI.OR.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus memperkuat perannya dalam upaya kolaboratif membangun ketahanan keluarga di Indonesia.
Hal ini disampaikan Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK), Prof Amany Lubis, dalam acara Program Aksi Terpadu bertajuk "Pencegahan Stunting, Pemberian Makan Bergizi Terstandar di Madrasah dan Pesantren serta Penguatan Ketahanan Keluarga” pada Rabu (29/10/2025) di Desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor.
MUI memandang ketahanan keluarga sebagai pilar utama untuk menghadapi berbagai tantangan bangsa, termasuk isu kesehatan mental dan ancaman stunting.
Menurut Prof Amany, penguatan ketahanan keluarga harus dilakukan melalui pendekatan terpadu yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.
“Kami memadukan beberapa program dan berlandaskan kerja sama KPRK untuk melaksanakan pencegahan stunting. Tahun lalu kita sudah ada Gerakan Nasional Anti Stunting, kemudian Gerakan Nasional Pemberian Makanan Bergizi bagi Santri dan Siswa. Semua ini kami padu dengan ketahanan keluarga,” ujarnya.
Dalam pemaparan materinya, upaya sinergi tersebut mencakup empat fokus utama yaitu pertama, penyebaran nilai-nilai Islam.
Pembinaan nilai Islam dan akhlakul karimah sebagai fondasi ketahanan keluarga, termasuk pembinaan generasi lansia agar tetap produktif dan berdaya.
Kedua, pemberdayaan perempuan dan keluarga. Peningkatan peran dan kapasitas perempuan dalam menciptakan keluarga harmonis serta berdaya ekonomi.
Ketiga, pencegahan stunting. Melalui Piramida Panduan Gizi Seimbang dan Gerakan Zero Stunting, disertai edukasi pola makan sehat dan program makan bergizi gratis yang terintegrasi dengan nilai keislaman.
Keempat, penguatan kesehatan mental. Fokus pada pembinaan kesehatan mental anak dan remaja sebagai bagian dari ketahanan keluarga.
Dalam kegiatan ini, masyarakat juga mendapatkan edukasi serta praktik langsung pembuatan makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan dasar, dan konsultasi bagi orang tua, guru, serta pengasuh pesantren terkait pola makan dan peran keluarga.
“Edukasi kita lakukan dengan metode ceramah, tetapi di luar sana ada tutorial untuk membuat makanan yang bergizi sejenis bubur atau sejenis makanan lain, kemudian juga langsung bisa praktik ibu-ibu di sini,” jelas Prof Amany.
Kegiatan ini turut bekerja sama dengan Rumah Zakat Indonesia, yang berperan dalam penyediaan bahan pangan dan edukasi masyarakat.
Dalam menjalankan perannya, Prof Amany menjelaskan, MUI menjalin sinergi dengan berbagai pihak antara lain pemerintah dan Lembaga Negara, seperti Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Kementerian Kesehatan, dalam peluncuran buku dan program penguatan ketahanan keluarga.
Kedua, organisasi masyarakat dan internasional, seperti Rumah Zakat dan lembaga Islam di Singapura, untuk memperkuat kerja sama dan pertukaran gagasan tentang keluarga sehat.
Ketiga, kerja sama profesional, melibatkan psikolog, akademisi, dan lembaga masyarakat dalam pendampingan keluarga.
Keempat, pemberian fatwa dan panduan, melalui penerbitan pedoman yang berkaitan dengan keluarga, gizi, dan kesehatan umat.

Prof Amany menegaskan bahwa MUI hadir bukan hanya di pusat, tetapi juga turun langsung ke daerah.
“MUI bukan hanya ada di ibu kota Jakarta, melaikan kami keluar untuk menyapa masyarakat. Kami berinteraksi langsung dan melaksanakan program yang bermanfaat bagi umat,” ujarnya.
Dalam penutupnya, Prof Amany menekankan bahwa ketahanan keluarga adalah tonggak berdirinya bangsa yang kuat.
“Ketahanan keluarga tidak akan terlaksana apabila anggota keluarganya lemah, kurang gizi, atau bahkan ada yang stunting. Segi kesehatan itu sangat penting karena akan mendukung iman kita menjadi kuat. Muslim yang kuat lebih baik daripada yang lemah, karena yang kuat akan bisa memimpin negeri dan membangunnya,” tuturnya.
Menurutnya, penguatan keluarga harus berfokus pada empat hal yaitu menjadikan ketahanan keluarga sebagai fondasi bagi generasi muda berkualitas.
Kedua, meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta mencegah kekerasan dan gangguan mental. Ketiga, memperkuat peran ayah dan ibu dalam mewujudkan rumah tangga berketahanan. Keempat, menjamin ketersediaan pangan bergizi untuk mencetak generasi unggul.
Melalui program ini, MUI menegaskan komitmennya untuk mendorong penguatan sistem pangan, kesehatan, dan spiritualitas keluarga sebagai bagian dari visi menuju Indonesia Emas 2045. (Fitri Aulia Lestari, ed: Fakhruddin)