Lewati ke konten utama
Senin, 3 Agustus 2026 / 19 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Miliki Mal hingga Kafe Sendiri, Ponpes Dalwa Cetak Santri Berjiwa Entrepreneur

3 menit baca 86 dibaca
Dalwa 1
Suasana santri di Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah (Dalwa), Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Foto: Istimewa
Bagikan:

Bangil, MUI Digital— Malam itu, suasana di Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah (Dalwa), Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, tampak berbeda. 

Di sebuah ruang jamuan yang tertata rapi, para santri bergerak sigap melayani tamu-tamu kehormatan. 

Dengan busana yang rapi dan sikap yang penuh percaya diri, mereka menyajikan hidangan layaknya pramusaji profesional di restoran berbintang.

Di atas meja panjang tersaji beragam menu khas Timur Tengah yang dipadukan dengan sentuhan kuliner Eropa. Suasana hangat dan elegan menyelimuti jamuan makan malam yang dihadiri Menteri Agama RI saat berkunjung ke Ponpes Dalwa pada Ahad (2/8/2026).

Bagi sebagian orang, pemandangan tersebut mungkin terasa tidak biasa. Namun di lingkungan Ponpes Dalwa, keterampilan melayani tamu, mengelola usaha, hingga memahami dunia bisnis merupakan bagian dari proses pendidikan yang dijalani para santri sehari-hari.

Pesantren yang diasuh oleh Al-Habib Segaf bin Hasan Baharun, Abuya Al-Habib Zein Baharun, dan Al-Habib Ali Zainal Abidin bin Hasan Baharun ini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar lembaga pendidikan agama. 

Dalwa menjelma sebagai sebuah ekosistem pendidikan yang memadukan penguatan ilmu keislaman dengan pembentukan jiwa kewirausahaan.

Baca juga: Zulkifli Hasan: MBG akan Dipercepat untuk Pesantren dan Wilayah 3T

Semangat kemandirian itu terlihat nyata dari berbagai unit usaha yang tumbuh di lingkungan pesantren. Di kawasan pondok berdiri Mall Dalwa yang menjadi pusat aktivitas ekonomi santri dan masyarakat. 

Ada pula Dalwa Collection, Boutique Hubabah, layanan optik, poliklinik, koperasi, percetakan, hingga kafe modern yang dikelola secara profesional.

Keberadaan unit-unit usaha tersebut bukan semata-mata untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren. Lebih dari itu, seluruhnya menjadi laboratorium pembelajaran bagi para santri untuk mengenal dunia usaha secara langsung.

Di tempat-tempat itulah para santri belajar memahami manajemen, pelayanan pelanggan, administrasi, hingga tata kelola bisnis modern. 

Mereka tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga merasakan langsung bagaimana menjalankan sebuah usaha yang sesungguhnya.

Baca juga: Atasi Kekerasan di Sekolah Agama Termasuk Pesantren, Kemenag Luncurkan Aplikasi Aduan AMAN

Model pendidikan semacam ini membuat para santri terbiasa menghadapi tantangan dunia nyata sejak dini. Mereka dilatih untuk memiliki mental mandiri, kreatif, serta mampu membaca peluang di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Pengembangan potensi santri tidak berhenti pada aspek bisnis semata. Dalwa juga memiliki sistem pembinaan bakat yang terstruktur melalui Lajnah Divisi Kreativitas. 

Melalui berbagai kompetisi internal, pesantren menjaring santri-santri berbakat di berbagai bidang untuk kemudian mendapatkan pembinaan secara khusus.

Mulai dari seni tata boga, kemampuan bermusik, public speaking, hingga penguasaan teknologi komputer menjadi bagian dari keterampilan yang terus diasah. 


Ruang kreativitas yang luas ini memberikan kesempatan bagi para santri untuk menemukan sekaligus mengembangkan potensi terbaik yang mereka miliki.

Menariknya, seluruh penguatan keterampilan tersebut tetap berdiri di atas fondasi akademik yang kokoh. 

Dalwa memadukan kurikulum salaf yang menekankan pendalaman ilmu-ilmu keislaman dengan kurikulum nasional serta kurikulum internal pesantren yang dirancang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Selain penguasaan kitab-kitab klasik, para santri juga dibekali kemampuan bahasa asing seperti Arab, Inggris, bahkan Mandarin. Bekal ini menjadi modal penting agar mereka mampu berinteraksi dan berkiprah di tingkat nasional maupun global.


Perpaduan antara penguatan akhlak, kedalaman ilmu agama, kemampuan berbahasa, kreativitas, dan pengalaman mengelola unit bisnis nyata menjadikan Ponpes Dalwa sebagai salah satu contoh bagaimana pesantren dapat bertransformasi tanpa kehilangan jati dirinya.

Di tengah berbagai tantangan zaman, Dalwa menunjukkan bahwa santri masa kini tidak hanya piawai membaca dan mengkaji kitab kuning. Mereka juga mampu menjadi generasi yang adaptif, profesional, dan berjiwa entrepreneur.

Dari ruang-ruang kelas hingga pusat-pusat usaha yang berdiri di lingkungan pesantren, Dalwa sedang menyiapkan generasi baru yang tidak hanya siap berdakwah dan mengabdi kepada umat, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan serta berkontribusi bagi kemajuan ekonomi bangsa.