Melalui Munas XI, MUI Respons Pergeseran Otoritas Keagamaan dari Ulama ke AI
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID—Majelis Ulama Indonesia melalui Musyawarah Nasional (Munas) XI akan menjawab kegelisahan umat bergesernya otoritas keagamaan dari ulama ke artificial intelligence (AI).
Ketua MUI Bidang Infokom, KH Masduki Baidlowi, mengatakan yang memiliki otoritas keagamaan hanya ulama dalam agama Islam. Sementara agama lain juga ada pada tokoh agama tersebut, misalnya dalam agama Kristen yakni pendeta.
Namun, pergeseran otoritas keagamaan tersebut sekarang ini bergeser. Bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan fenomena global terjadi di berbagai negara.
"Terjadi pergeseran otoritas keagamaan. Islam itu ulama, kalau di Kristen pendeta. Sekarang tergantikan oleh influncer, ustadz yang ada di internet," kata Kiai Masduki dalam Forum Group Discussion (FGD) Komisi Infokom bersama Komisi E (Khusus) Munas XI di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2025).
Ketua SC Munas XI MUI ini menjelaskan sekarang ini terjadi perebutan otoritas legitimasi yang menjadi pergolakan yang sangat serius. Menurut dia, pertarungan dalam proses perebutan itu tidak akan ada habisnya.
Kiai Masduki menegaskan, siapa yang akan menang, maka akan menguasai jagat dunia digital. Selain itu, pergeseran juga terjadi dari institusi ke per orangan.
Juru Bicara Wakil Presiden ke-13 RI ini mengatakan kecenderungan titik lemah agama dalam algoritma ada bias echo chamber atau ruang gema. Yaitu fenomena ketika seseorang hanya terpapar informasi atau pandangan yang sesuai dengan keyakinan dan pandangan mereka sendiri.
Kondisi ini, kata dia, dapat memperkuat bias pribadi, membatasi sudut pandang, dan menyulitkan individu untuk mempertimbangkan perspektif yang berlawanan, terutama di era digital yang dipengaruhi algoritma media sosial.
Bahkan ada istilah survaillance capitalism yaitu sistem politik ekonomi yang berorientasi pada profit yang menempatkan ruang digital sebagai alat ekonomi penting yang tidak dapat dipisahkan dari sistem itu sendiri.
"Penyelidikan data-data dikumpulkan big data. Kemudiaan dibaca seluruh perilaku kita, sehingga bisa terbentuk pemahaman tunggal tanpa crosscheck," sambungnya.
Untuk itu, Munas XI melalui Komisi E (khusus) merumuskan langkah strategis untuk menangani persoalan ini di dunia digital. MUI menegaskan secanggi-canggihnya AI, tetapi tetap saja bahwa AI bukan ulama. (Sadam, ed: Muhammad Fakhrudin)