Kiai Marsudi Pimpin Rapat Perdana DPP MUI 2025–2030: Bahas Ta’aruf, Pembagian Tugas, dan Penyusunan Struktur KBL
Admin
Penulis
JAKARTA,MUI.OR.ID — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Marsudi Syuhud, memimpin rapat perdana Dewan Pimpinan Pusat MUI periode 2025–2030.
Rapat ini menjadi momentum penting penyelarasan langkah pimpinan baru setelah ditetapkan dalam Munas MUI 2025.
Dalam rapat, Kiai Marsudi menyampaikan bahwa rapat perdana diawali dengan arahan dari Ketua Umum MUI, KH. M. Anwar Iskandar, yang memberikan panduan umum mengenai arah perjalanan organisasi ke depan.
Kiai Marsudi menjelaskan bahwa dirinya memimpin jalannya rapat sebagai bentuk kelanjutan dari periode sebelumnya.
"Karena saya yang menutup rapat terakhir di periode lalu, maka saya yang memimpin rapat pertama di periode kepemimpinan 2025–2030,” ujar Kiai Marsudi Syuhud kepada MUIDigital di Kantor MUI Pusat, Selasa (25/11/2025).
Kiai Marsudi menjelaskan bahwa rapat perdana ini menghasilkan tiga keputusan penting, yaitu pelaksanaan ta’aruf dan silaturahim pimpinan, penetapan pembagian tugas serta mekanisme koordinasi antar-wakil ketua umum, dan penjadwalan penyusunan struktur komisi, badan, dan lembaga yang ditargetkan selesai dalam dua minggu ke depan.
Rapat memutuskan bahwa penyusunan struktur komisi, badan, dan lembaga (KBL) MUI akan dirampungkan dalam dua minggu ke depan, tepatnya pada hari Selasa, dua pekan setelah rapat perdana.
MUI juga meminta setiap pihak yang ingin berkontribusi sebagai pengurus komisi atau lembaga agar mengirimkan curriculum vitae (CV).
“CV diperlukan untuk melihat pengalaman, kapabilitas, dan memastikan setiap orang ditempatkan sesuai bidang dan makomnya,” tegas Kiai Marsudi.
Ia juga mengimbau ormas-ormas Islam untuk mengirimkan kader terbaiknya lengkap dengan berkas pendukung kapasitas masing-masing.
Kiai Marsudi menegaskan bahwa keputusan-keputusan ini menjadi fondasi awal bagi MUI untuk menguatkan kinerja organisasi dalam periode 2025–2030.
“Inilah keputusan rapat perdana Dewan Pimpinan Pusat MUI yang baru,” tutupnya.
(Miftahul Jannah ed: Muhammad Fakhruddin)