Kiai Manan Ajak Umat Optimalkan Fungsi Masjid Sebagai Pusat Peradaban
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah, KH Abdul Manan Ghani, menegaskan bahwa masjid harus dikembalikan pada fungsi utamanya sebagai pusat dakwah sekaligus kebangkitan ekonomi umat.
Hal itu disampaikan dalam tausiyahnya pada kegiatan Silaturahim Dakwah Perkantoran yang digelar Komisi Dakwah MUI bersama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
Dalam tausiyahnya, Kiai Manan menekankan bahwa masjid adalah rumah Allah yang paling mulia di muka bumi.
Mengutip hadis Nabi, dia menjelaskan bahwa orang yang mendatangi masjid adalah tamu Allah SWT dan akan dimuliakan oleh-Nya.
“Beruntunglah orang yang bersuci di rumahnya, lalu datang ke rumah Allah. Ia datang sebagai tamu Allah, dan Allah pasti memuliakan tamu-Nya,” ujar KH Manan, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, memakmurkan masjid bukan sekadar menghadiri shalat berjamaah, tetapi juga menghadirkan niat yang lurus agar setiap langkah bernilai akhirat, bukan hanya aktivitas dunia.
Dalam bagian penting tausiyahnya, Kiai Manan mengingatkan bahwa dakwah tidak cukup hanya berbicara soal ibadah. Dakwah harus menyentuh aspek pemberdayaan dan kesejahteraan umat.
Ia mengisahkan bagaimana para ulama dan wali di Nusantara membangun tajug dan musala sebagai pusat pembinaan umat. Dari masjid kecil itulah lahir kekuatan dakwah yang kemudian membangun peradaban Islam di Indonesia.
“Saya titip tajug dan fakir miskin. Makmurkan masjidnya, dan berdayakan jamaahnya,” ungkapnya menegaskan pesan ulama terdahulu.
Menurutnya, dakwah dan pemberdayaan ekonomi harus berjalan beriringan. Masjid yang makmur harus melahirkan jamaah yang kuat secara agama sekaligus mandiri secara ekonomi.
Kiai Manan juga menyoroti pentingnya memahami perputaran ekonomi umat. Ia menegaskan bahwa kekuatan ekonomi berada pada sektor usaha dan perdagangan.
“Kalau ingin umat kuat, harus memahami di mana perputaran harta itu berada. Ekonomi harus dibangun, usaha harus digerakkan, agar dakwah punya daya dukung,” tegasnya.
Ia mengajak umat Islam untuk tidak hanya menjadi penonton dalam arus ekonomi, tetapi menjadi pelaku yang aktif dan produktif, sehingga kesejahteraan umat dapat terwujud.
Menutup tausiyahnya, ia kembali menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat peradaban tempat lahirnya ilmu, ukhuwah, dan kemandirian ekonomi. Ramadan, menurutnya, adalah momentum terbaik untuk memperkuat komitmen tersebut.
“Makmurkan masjidnya, kuatkan jamaahnya, dan bangun ekonominya. Di situlah dakwah akan hidup,” ujar dia. (Miftahul Jannah, ed: M Fakhruddin)