Ketum MUI Banten: Saatnya Dakwah Sentuh Generasi Milenial dengan Gaya Mudah Dicerna
Admin
Penulis
“Kalau ingin berikan layanan khadimul ummah, tapi media tidak kita sentuh sebagai media dakwah maka ini adalah kebodohan tersendiri,” ungkapnya dalam kegiatan Optimalisasi Media MUI di Kantor MUI Banten, Selasa (22/10/2024).
Menurut Kiai Bazari, tantangan dakwah MUI saat ini adalah MUI menyampaikan ilmu kepada generasi Z dan generasi milineal. Sementara pengurus MUI yang ada saat ini mayoritas generasi kolonial.
Berdasarkan pengalaman yang terjadi, dakwah keagamaan selama ini masih cenderung disampaikan dengan istilah-istilah sulit. Padahal gen z mengakses medsos dengan karakter yang mudah dan tidak ribet.
“Kita masih sampaikan keagamaan dengan istilah-istilah sulit. Padahal gen z mengakses medsos dengan karakter yang mudah,” kata dia menjelaskan.
Dengan demikian, kata Kiai Bazari, persoalan yang ada harus direspon dengan melakukan improvisasi media. Medos senantiasa dijadikan media dakwah.
Menurutnya, fungsi media sebagai pemberi informasi, sebagai pembentuk pola pikir, dan sebagai pembentuk sikap. Untuk itu medsos menjadi keharusan jika ingin dakwah tetap berjalan.
Ruang-ruang itulah, kata Kiai Bazari, yang belum digarap secara sungguh-sungguh sebagai media dakwah saat ini. Padahal narasi yang berkembang di media sosial dapat mempengaruhi pola pikir dan sikap keberagamaan kita sehari-hari,
“Jadi kalau MUI hari ini mau beri informasi dengan benar, mengubah pola pikir, mengubah sikap beragama, tidak ada pilihan harus gunakan media,” ucapnya.
Hal ini disampaikan dalam kegiatan Optimalisasi Media MUI yang digelar Komisi Infokom MUI di Kantor MUI Provinsi Banten, Selasa (22/10/2024). Hadir dalam kegiatan Ketua Komisi Infokom MUI KH Mabroer MS, Sekretaris Komisi Infokom MUI Iroh Siti Zuhroh, Ketua Umum MUI Provinsi Banten KH A Bazari Syam, Sekretaris Umum MUI Banten KH Endang Saiful Anwar, dan Ketua Komisi Infokom MUI Banten Prof Ahmad Syihabudin.
Ketua Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI KH Mabroer MS menambahkan kegiatan ini adalah upaya kepedulian MUI untuk masuk terhadap ranah dakwah digital.
Kiai Mabroer menuturkan, media sosial sekarang ini sudah menjadi 73 persen rujukan kitab sucinya masyarakat, khususnya generasi z.
"Oleh karena itu, sekarang jika ada cerita kalau ada siswa melawan guru, salah satu rujukannya adalah media sosial," lanjutnya.
Kiai Mabroer menerangkan, MUI mempunyai memiliki tugas yang sangat berat. Tugas tersebut adalah bagaimana membentuk suatu laboratarium moral dan etik agar moral dan etik ini menjadi suatu santapan yang menjanjikan di era media sosial.
"Kalau tidak, maka dari 63 persen atau setara 180 pengguna media sosial ini akan meningkat dan mayoritas dari mereka mengikuti mazhab yang dekadensi moral," paparnya.
Kiai Mabroer mendorong agar moral dan etika di media sosial yang dibangun itu melalui dakwah agar persoalan-persoalan di masyarakat seperti pinjaman online bisa diatasi.
Kiai Mabroer mengungkapkan, Infokom MUI telah membentuk Mujahid Digital. Kiai Mabroer menjelaskan, penamaan tersebut karena Infokom MUI ingin terlihat Islam dan syar'i.
"Jihad tidak lagi bermakna qital, tapi jihad bermakna mendidik atau tarbiah. Mengedukasi masyarakat dan segala macam. (Rozi, ed: Nashih)