Ketua MUI Prof Amany Lubis Lantik Pengurus Majelis Ulama Indonesia Provinsi Gorontalo
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Gorontalo resmi mengukuhkan kepengurusan baru masa khidmat 2025–2030 di Auditorium Rektorat IAIN Sultan Amai Gorontalo, pada Sabtu (30/8/2025).
Prosesi pelantikan dipimpin Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga, Prof Amany Lubis yang juga membuka Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil).
Prof Amany menyampaikan ucapan selamat sekaligus menekankan pentingnya kesinambungan program MUI.
“Alhamdulillah, tugas saya kemarin adalah melantik pengurus baru MUI Gorontalo. Saya juga menyampaikan program prioritas MUI Pusat serta hasil Mukernas 2024, khususnya di bidang organisasi. Hal ini penting agar MUI wilayah dan jajarannya bisa menyusun garis besar program kerja ke depan,” ujarnya kepada MUIDigital pada Sabtu (30/8/2025).
Kepengurusan baru MUI Gorontalo kini diketuai oleh Prof Zulkarnain Sulaiman, Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, yang didampingi Sekretaris Umum Rulianto bersama jajaran ketua bidang. Tercatat ada 11 bidang yang terbentuk, mulai dari Fatwa, Dakwah, Hukum, hingga Pengembangan Ekonomi Umat.
Selain prosesi pelantikan, Prof Amany juga membuka Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) MUI Gorontalo. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya membahas isu-isu lokal dan nasional secara bijak demi menjaga ketenangan umat.
“Gorontalo mayoritas Muslim, sekitar 98 persen. Konflik antaragama relatif tidak ada, tapi ada aliran-aliran berbeda yang perlu dibina. Itu tugas MUI, memberi wawasan dan kesadaran agar kembali sesuai tradisi Islam yang diakui masyarakat,” jelasnya.
Ketika ditanya mengenai program prioritas yang sebaiknya dijalankan MUI Gorontalo pasca pelantikan, Prof Amany
menyebut beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Menurutnya, pengembangan ekonomi umat, dakwah di pelosok, serta pembinaan generasi muda harus menjadi fokus utama.
“Mereka sangat antusias untuk pengembangan ekonomi umat, karena bisa bermitra dengan UMKM di sana. Bidang Dakwah juga aktif, bahkan mau pergi ke pelosok-pelosok. Itu juga saya sarankan agar mereka memperhatikan yang di pelosok, yang di pesisir, yang jauh dari kota, justru harus diperhatikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan generasi muda akibat modernisasi dan urbanisasi di Gorontalo juga patut menjadi perhatian serius.
“Generasi muda belum bisa mengimbanginya dengan arif, sehingga muncul berbagai penyimpangan atau penyakit masyarakat. Dari laporan MUI, ada pertunjukan seperti laki-laki memakai pakaian perempuan untuk melakonkan peran, meski hanya dalam bentuk teater, hal seperti itu tetap dilarang,” jelasnya.
Ia menutup dengan harapan agar pengurus baru semakin berkembang sebagai mitra strategis pemerintah dan penjaga moral umat.
“MUI Gorontalo sudah mapan posisinya di tengah masyarakat, tinggal dikembangkan lagi. Saya berharap program-programnya, baik Fatwa, Dakwah, Hukum, maupun Perempuan, benar-benar bisa dirasakan umat,” pungkasnya.
Di akhir, Prof Amany juga menekankan agar MUI Gorontalo menyelesaikan pembangunan Gedung MUI Gorontalo yang sedang berjalan. Menyongsong MUNAS XI MUI pada November 2025, ia menyarankan agar dipersiapkan laporan lengkap dari MUI Gorontalo serta Garis Besar Program Periode 2025–2030. (Fitri Aulia Lestari, ed: Nashih)