Ketua MPR RI Singgung Harga BBM, Perang, Hingga Apresiasi Taujihat MUI
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital—Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengapresiasi MUI yang telah mengeluarkan taujihat bertajuk: Bersatu dalam Ukhuwah untuk Keadilan dan Perdamaian Dunia.
Peluncuran taujihat tersebut dalam acara Halal Bi Halal MUI yang berisi 10 poin, kemudiaan dibacakan 10 perwakilan Ormas Islam pendiri MUI.
Perwakilan ormas Islam pendiri MUI yang membacakan 10 taujihat tersebut yakni Prof KH Nizar Ali (Nahdlatul Ulama) KH Sahad Ibrahim (Muhamadiyah) dan Buya Syarfi (PERTI).
Kemudian, Rusydy Zakaria GUPPI, Rahmat Hidayat (DMI), Oke Setiadi Affedi (MA), Ruswanto (PTDI), Musyhuril Khamis (Al Washliyah), Inayatullah A Hasim (Al Ittihadiyah) , dan Hamdan Zoelva (Syarikat Islam).
Pembacaan 10 taujihat ini juga dipandu oleh Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis dan KH Marsudi Syuhud.
Baca juga: Dibacakan Bersama Ormas Pendiri, Ini Bunyi Taujihat MUI di Halal Bi Halal
"Saya berharap 10 taujihat yang baru saja dibacakan tidak berhenti di forum yang terhormat ini. Tapi akan menjadi inspirasi dari penggerak perdamaian dunia," kata Ketua MPR RI Ahmad Muzani di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026) malam.
Ketua MPR mengajak semua pihak merasa bersyukur karena Indonesia dalam keadaan aman, damai, dan tetap rukun sampai sekarang.
Acara yang juga dihadiri oleh Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar ini, Muzani bercerita bahwa Menteri Agama sempat membisikan kepadanya mengenai hasil survei yang mengatakan Indonesia adalah salah satu negara yang tingkat kerukunannya cukup tinggi di dunia.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan kerja keras dari para ulama, kiai, pemimpin pondok pesantren, ustadz, dan tokoh-tokoh lainnya yang senantiasa memberikan ketenangan kepada masyarakat.
"Tapi ini juga bisa terjadi karena ada kerja keras aparat kepolisian dan tentara Republik Indonesia. Mana mungkin ini bisa terjadi kalau ada kerusuhan dibiarkan oleh polisi, mana mungkin ini bisa terjadi kalau ada ancaman, kedaulatan, dibiarkan oleh TNI. Dan itu dicegah dari awal oleh tentara dan polisi kita," terangnya.
Dalam kehidupan bernegara, Politisi Partai Gerindra ini mengingatkan pentingnya saling berbagi.
Muzani menilai ulama memiliki peran penting untuk menenangkan masyarakat lewat cara spiritual dengan memberikan optimisme, dan semangat yang terus dilakukan.
Baca juga: Gelar Silaturahim Nasional Ormas Islam, MUI Serukan Persatuan untuk Perdamaian Dunia
"MUI sejak awal berdiri tidak pernah boleh terlalu jauh dengan umara (pemerintah). Meskipun kadang-kadang perlu menasehati umara, karena umara pun kadang-kadang perlu diingatkan, penyelenggara perlu dinasehati, apalagi DPR dan MPR," kata Muzani.
Dia menjelaskan, dakwah yang dilakukan ulama MUI selalu memberikan optimisme bagi pemerintah, termasuk DPR dan MPR.
Muzani menjelaskan, sebesar apapun kesalahan yang dilakukan, ampunan Allah SWT lebih besar dari kesalahan yang telah diperbuat.
"Itu yang menyebabkan optimisme kita besar, kesalahan yang besar akan diampuni dan kita masih punya waktu untuk memperbaiki kesalahan itu. Itu yang menyebabkan kita bernegara sampai sekarang dalam kondisi lapang," ujarnya.
Hal itu juga diajarkan oleh para ustadz di daerah-daerah maupun Ormas Islam yang terus melaksanakan pengajian. Namun, Ketua MPR mengingatkan jarak antara MUI dengan pemerintah tidak boleh jauh.
"Jarak yang terlalu jauh antara ulama dan umara akan menimbulkan problem (masalah), dikira ada pandangan yang tidak sejalan," ungkapnya.
Menurutnya, taujihat yang dikeluarkan MUI menjadi cara pandang bangsa Indonesia bahwa dunia masih damai, dunia masih ada rasa optimis untuk menata kehidupan ke depan lebih baik.
Apalagi, pemerintah sudah memberikan kabar gembira dengan jelas bahwa Insya Allah harga BBM tidak akan naik hingga akhir tahun.
Ketua MPR RI menerangkan, Presiden RI Prabowo Subianto berkali-kali menyampaikan bahwa perang begitu jahat, berbahaya, bengis, tidak ada batas kemanusiaan, tidak mengenal batas kasihan dan pri kemanusiaan.
Dalam hukum perang, anak-anak tidak boleh dibunuh, perempuan tidak boleh dibunuh, orang tua tidak boleh dibunuh, dan fasilitas yang tidak terkait dengan perang tidak boleh dihancurkan.
"Tapi yang terjadi, anak-anak, orang tua, perempuan dihancurkan. Lihatlah di Gaza, lihatlah di Iran, dan seterusnya. Semua fasilitas dihancurkan, maka yang dilakukan Indonesia dalam situasi itu adalah harus terus menjaga perdamaian dunia," tegasnya.
Muzani menegaskan bahwa menjaga perdamaian dunia adalah ketentuan konstitusi Indonesia, sehingga tidak boleh berhenti bersuara untuk menyuarakan perdamaian dunia.
"Kita tidak boleh berhenti menyuarakan terhadap kepentingan diplomasi, kita tidak boleh berhenti menyuarakan terhadap kepentingan perundingan. Karena seberat apapun persoalan dalam perbedaan harus diselesaikan dalam perundingan dan diplomasi," tegasnya.
Muzani mengingatkan bahwa bangsa Indonesia telah mengalami berbagai macam ujian dalam proses bernegara dan semuanya bisa diselesaikan dengan cara perundingan.
Baca juga: Ketum MUI: Persatuan, Keadilan, dan Perdamaian adalah Kebutuhan Dunia
Menurutnya, dunia ini sejak selesainya perang dunia kedua sampai sekarang tidak terjadi oerang dunia ketiga karena semua perbedaan bisa diselesaikan dengan cara diplomasi dan perundingan.
"Ketika semuanya dilawan dengan cara kekuatan bersenjata dan perang, maka bahaya ada di depan mata kita. Itulah bencana terbesar bagi kemanusiaan, bencana terbesar bagi peradaban, perekonomian, bagi alam dan ekologi kita," ungkapnya.
Ketua MPR merasa bangsa Indonesia sekarang berada dalam arah yang benar. Dia optimis bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang tetap bersatu, berdaulat, damai dan tentram serta rukun.