John L Esposito, Cendekiawan Barat Sahabat bagi Satu Miliar Muslim Tutup Usia
Washington, MUI Digital — John L Esposito, profesor Universitas Georgetown yang karya-karyanya tentang Islam telah membentuk cara pandang generasi demi generasi mahasiswa, jurnalis, akademisi, dan pembuat kebijakan di Barat terhadap Islam, meninggal dunia pada usia 86 tahun.
Kabar wafatnya disampaikan oleh Imam Abdul Malik Mujahid, sahabat lamanya sekaligus pendiri Sound Vision Foundation dan mantan Ketua Parliament of the World’s Religions.
Mujahid mengatakan bahwa Jean Esposito, istri almarhum, mengonfirmasi bahwa Esposito meninggal dunia pada pukul 14.00 waktu setempat akibat komplikasi setelah menjalani prosedur pemasangan stent pada Kamis sebelumnya.
Informasi mengenai prosesi pemakaman dan penghormatan terakhir akan diumumkan kemudian. Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai penjuru dunia Islam, termasuk dari Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR).
Setelah kabar wafatnya tersebar, Dr Abdullah bin Hamid Ali dari Zaytuna College menyatakan bahwa ia menerima informasi pada hari yang sama bahwa Esposito telah mengucapkan syahadat—pernyataan keimanan dalam Islam—di kediaman Syekh Hamza Yusuf, dengan disaksikan oleh istri Syekh Hamza.
Namun, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, dan hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari keluarga Esposito maupun dari Syekh Hamza Yusuf.
Anwar Ibrahim, yang pertama kali mengenal Esposito pada awal 1970-an dan menjalin persahabatan dengannya selama lebih dari lima dekade, menyebut Esposito sebagai sosok yang membantu membangun fondasi intelektual bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang Islam di Barat.
Menurut Anwar, kontribusinya dalam membangun pemahaman antara umat Islam dan Kristen sangat besar. “John Esposito membangun jembatan ketika banyak orang justru memilih membangun tembok pemisah antarperadaban,” ujar Anwar.
Perdana Menteri Malaysia itu tidak hanya mengenang Esposito sebagai seorang akademisi besar, tetapi juga sebagai pribadi yang hangat, murah hati dalam berdiskusi, dan sangat terbuka terhadap berbagai pandangan.
Ia mengaku selama bertahun-tahun banyak memperoleh nasihat berharga dari Esposito, yang tetap setia mendampinginya dalam berbagai situasi. Anwar juga menyampaikan belasungkawa kepada Jean Esposito, keluarga, kolega, dan para muridnya.
“Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi sahabat sejati bagi dunia Islam,” katanya.
Dalam pernyataan resminya, Direktur Eksekutif Nasional CAIR, Nihad Awad, membuka ungkapan dukanya dengan ayat Alquran yang biasa dibaca ketika menghadapi musibah: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
Awad menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, kolega, mahasiswa, dan semua pihak yang pernah merasakan manfaat dari karya-karya Esposito.
Menurutnya, Esposito mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan pemahaman yang benar tentang Islam dan umat Muslim di saat misinformasi serta prasangka sering kali mendominasi ruang publik.
Karya-karyanya telah mendidik generasi demi generasi mahasiswa, pembuat kebijakan, jurnalis, pemimpin agama, dan masyarakat umum di seluruh dunia.
Awad menegaskan bahwa Esposito bukan hanya akademisi luar biasa, tetapi juga sahabat yang penuh kepedulian dan suara yang dipercaya banyak pihak.
Ia secara konsisten membela kebebasan beragama, dialog lintas agama, dan martabat setiap manusia. “Warisan intelektual dan moralnya akan terus menginspirasi para peneliti, aktivis, dan pejuang dialog yang berupaya membangun saling pengertian dan penghormatan antarmanusia,” ujarnya.
Imam Abdul Malik Mujahid, yang telah bersahabat dengan Esposito selama puluhan tahun, menggambarkan dua sisi kepribadian yang melekat pada dirinya.
“Ia telah menulis lebih banyak buku untuk membangun jembatan antara Amerika Serikat dan dunia Islam dibanding siapa pun yang saya kenal,” katanya.
Namun yang paling membekas dalam ingatan Mujahid bukan hanya karya ilmiahnya, melainkan kerendahan hati dan keterbukaannya.
Menurutnya, Esposito selalu bersedia menerima telepon dan memberikan waktu bagi siapa saja yang membutuhkan nasihat.
Bagi banyak tokoh Muslim Amerika, para imam, aktivis komunitas, maupun mahasiswa pascasarjana, akses mudah kepada Esposito sama berharganya dengan buku-buku yang ditulisnya.
Perpaduan antara produktivitas akademik yang luar biasa dan kemurahan hati sebagai pribadi inilah yang paling dikenang oleh banyak orang.
Esposito menempati posisi yang jarang dimiliki seorang akademisi: karya-karyanya menjadi bahan ajar di berbagai universitas dunia sekaligus menjadi rujukan para pejabat pemerintah, namun pada saat yang sama ia tetap melayani pertanyaan para imam, aktivis, dan mahasiswa yang membutuhkan bimbingan.
Dari Brooklyn ke Georgetown
John L Esposito lahir di Brooklyn, New York, pada Mei 1940 dari keluarga keturunan Italia-Amerika. Ia menyelesaikan studi doktoralnya di bawah bimbingan cendekiawan Palestina-Amerika terkemuka, Ismail Raji Al-Faruqi, yang kemudian memberikan pengaruh besar terhadap arah pemikiran dan karier akademiknya.
Selama hampir dua dekade, Esposito mengajar studi agama di College of the Holy Cross, sebuah institusi Jesuit di Massachusetts.
Ia pernah menjabat Ketua Departemen Studi Agama dan kemudian dipercaya menduduki jabatan Profesor Loyola untuk Studi Timur Tengah.
Pada 1993, ia bergabung dengan Universitas Georgetown dan mendirikan Center for Muslim-Christian Understanding (Pusat Pemahaman Muslim-Kristen), yang dipimpinnya selama tiga dekade.
Pusat tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu lembaga terkemuka dunia dalam dialog lintas budaya dan lintas agama, terutama setelah memperoleh dana abadi sebesar 20 juta dolar AS dari Pangeran Alwaleed bin Talal.
Esposito juga mendirikan Bridge Initiative, proyek penelitian jangka panjang Georgetown yang berfokus pada kajian Islamofobia dan menghasilkan berbagai penelitian penting mengenai prasangka anti-Muslim di Eropa dan Amerika Utara.
Meski beragama Katolik, Esposito mengajar kajian agama, studi Islam, dan hubungan internasional sebagai profesor senior di Georgetown University.
Produktivitas ilmiah Esposito sangat luar biasa, baik dari segi jumlah maupun pengaruhnya. Ia menulis, menjadi penulis bersama, atau menyunting lebih dari 45 buku yang telah diterjemahkan ke dalam sekitar 35 bahasa.
Buku Islam and Politic terbit pada 1984, disusul Islam: The Straight Path pada 1988 yang kemudian menjadi salah satu buku pengantar paling populer tentang Islam dan digunakan secara luas di berbagai kampus.
Pada 1992, ia menerbitkan The Islamic Threat: Myth or Reality?, yang mengkritisi pandangan Barat yang mulai melihat Islam sebagai ancaman peradaban.
Setelah peristiwa 11 September 2001, buku tersebut memperoleh pembaca yang jauh lebih luas di kalangan masyarakat yang berusaha memahami hubungan antara Islam dan isu-isu global.
Pada 2002, ia menerbitkan Unholy War: Terror in the Name of Islam serta What Everyone Needs to Know About Islam. Salah satu karya paling berpengaruh dalam kariernya hadir pada 2007 melalui buku Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think, yang ditulis bersama Dalia Mogahed.
Berdasarkan survei global Gallup terhadap populasi Muslim di berbagai negara, buku tersebut menegaskan bahwa pandangan mengenai umat Islam seharusnya didasarkan pada data, bukan prasangka atau opini semata.
Temuan buku itu menunjukkan bahwa banyak asumsi yang mendominasi wacana Barat tentang Islam ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.
Esposito juga menjadi editor utama berbagai ensiklopedia dan referensi akademik terkemuka, di antaranya:
- The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World
- The Oxford History of Islam
- The Oxford Dictionary of Islam
- The Oxford Encyclopedia of the Islamic World (enam jilid)
- Oxford Islamic Studies Online
Bagi siapa pun yang pernah mempelajari istilah, tokoh, atau gerakan dalam studi Islam selama tiga dekade terakhir, besar kemungkinan mereka pernah membaca karya yang disentuh atau disunting oleh Esposito.
Penghargaan dan kontroversi
Esposito pernah menjabat Presiden American Academy of Religion, Middle East Studies Association of North America, dan American Council for the Study of Islamic Societies.
Ia juga menjadi anggota High-Level Group pada United Nations Alliance of Civilizations, konsultan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, serta penasihat bagi sejumlah pemerintah di Eropa dan Asia.
Selain itu, ia turut menjadi penasihat dokumenter PBS berjudul Muhammad: Legacy of a Prophet. Atas kontribusinya, Esposito menerima Martin E Marty Award for the Public Understanding of Religion dari American Academy of Religion pada 2005 serta Quaid-e-Azam Award dari Pakistan atas jasanya dalam bidang studi Islam.
Namun ketenarannya juga menjadikannya sasaran kritik kelompok-kelompok sayap kanan ekstrem. Mereka menuduhnya terlalu simpatik terhadap gerakan-gerakan Islam dan terlalu membela umat Muslim.
Esposito menolak tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh karyanya didasarkan pada penelitian dan bukti ilmiah, serta menolak melihat 1,8 miliar Muslim di dunia sebagai persoalan keamanan semata. Bagi para pendukung dan muridnya, kritik yang terus diarahkan kepadanya selama puluhan tahun justru menjadi bukti betapa besar pengaruh dan efektivitas pemikirannya.
Warisan yang ditinggalkan
Selama lebih dari lima puluh tahun, John Esposito memperjuangkan satu gagasan utama: bahwa Islam dan umat Muslim berhak dipahami berdasarkan realitas mereka sendiri, bukan melalui lensa konflik, stereotip, dan prasangka.
Ia meyakini bahwa menjelaskan satu komunitas kepada komunitas lainnya bukanlah pekerjaan sampingan, melainkan fondasi penting bagi terciptanya perdamaian.
Gagasan itu ia perjuangkan melalui buku, ensiklopedia, kuliah, penelitian, dan kesaksian publik. Namun bagi mereka yang mengenalnya secara pribadi, warisan terbesarnya mungkin justru terletak pada kesediaannya untuk mendengarkan, memberi nasihat, dan membantu siapa pun yang membutuhkan.
John L Esposito meninggalkan seorang istri tercinta, Jean Esposito, yang telah mendampinginya selama enam dekade perjalanan hidupnya.
Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan salah satu cendekiawan paling berpengaruh dalam studi Islam kontemporer, tetapi warisan intelektualnya akan terus hidup dalam karya-karya yang telah membantu dunia memahami Islam dengan lebih adil, lebih mendalam, dan lebih manusiawi.
Jika akan diterbitkan sebagai artikel media atau portal keislaman, terjemahan ini sudah disesuaikan dengan gaya feature-obituari yang lebih hangat, elegan, dan nyaman dibaca oleh pembaca Indonesia.