International Meeting for Peace di Paris, Waketum MUI Uraikan Posisi Tasamuh di Ruang Privat dan Publik
Junaidi
Penulis
"Toleransi adalah memberikan ruang untuk bersosialisasi satu sama lain. Kita hidup beragama dalam satu negara, ibarat kita hidup dalam satu rumah besar, di dalam rumah besar ada dua ruangan," ungkap Kiai Marsudi kala menyampaikan pidato berbahasa inggris dalam forum bertema Living Together tersebut.
Pertama, ruangan itu adalah ruang publik dan ruang hidup yang bisa dimasuki oleh siapa saja atau ruang muamalah.
Dalam ruang muamalah, pemeluk agama bisa saling bekerja sama satu dengan yang lain dalam kehidupan bermasyarakat.
Ruangan tersebut, ujar beliau, harus dijadikan sebagai ruangan untuk saling menolong satu sama lain. Selain itu, ruangan tersebut juga harus dikembangkan menjadi ruang persaudaraan sesama umat manusia (ukhuwah basyariyah) dan persaudaraan bangsa (ukhuwah wathoniyah).
Ruang kedua adalah ruang privat. Ruang ini, kata Kiai Marsudi, adalah ruang tahid, iman, dan ubudiyah.
"Ruang ini adalah ruang yang membedakan antara tamu dan pemilik rumah. Ruang yang membedakan antara satu entitas dengan entitas yang lain. Ruang yang membedakan antara satu agama dengan agama yang lain," terangnya.
Dalam pidato berbahasa inggris, Kiai Marsudi menerangkan, harus dipahami secara mendalam dalam kedua ruangan itu adalah mana ruangan seorang muslim dapat bekerja sama dan hidup bersama dengan non-Muslim, dan di ruangan mana seorang muslim dapat mempertahankan perbedaan.
"Di ruangan iman (aqidah) ini kita harus untuk menghargai perbedaan. Ruang yang sesuai dengan perintah Allah SWT, karena di ruang inilah esensi dari perbedaan. Dan di ruang muamalah kehidupan bermasyarakat kita hidup bersama," paparnya.
Dalam forum yang dimoderatori Jurnalis Mario Marazziti tersebut, Kiai Marsudi menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, toleransi adalah salah satu sifat yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Kiai Marsudi menyampaikan, toleransi adalah memaafkan dan mengabaikan kesalahan orang lain. Selain itu, toleransi diartikan melihat kebaikan dan perbuatan baik, daripada berfokus kepada aib dan kesalahan orang lain.
International Peace Forum merupakan forum perdamaian lintas agama tahunan yang usianya cukup tua. Forum ini dimulai pada pertengahan 1980an yang merupakan inisiasi dari komunitas Sant’Egidio. Tujuan forum ini untuk mendorong kesepahaman lintas agama dan budaya dalam mencari titik temu perdamaian. Pada 2024 ini, forum dilaksanakan di Paris, Perancis dan tahun sebelumnya di Berlin, Jerman.
Selain Kiai Marsudi, dari Indonesia hadir pula Ketua Umum Dewan Pertimbangan MUI 2015-2020 Prof Din Syamsuddin serta Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti. Prof Din hadir dalam Forum 19: Religions in Dialogue for Peace, sedangkan Prof Mu’ti pada hari sebelumnya di Forum 9: the Great Asia: A Challenge for Religions. (Sadam/Azhar)