Hadir ke MUI, Nelayan Kholid Mengadu Pelanggaran PSN PIK 2 Masih Berlangsung, Hukumnya tidak Tegak
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID— Nelayan asal Banten Kholid menyampaikan laporan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa pelanggaran PSN PIK 2 masih berlangsung hingga kini, tetapi hukumnya tidak tegak.
Nelayan Kholid datang ke MUI bersama para tokoh dan ulama Banten. Kehadirannya disambut oleh Ketua MUI Bidang Infokom KH Masduki Baidlowi, didampingi Ketua MUI Bidang Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Prof Utang Ranuwijaya.
"Pelanggaran tersebut masih berlangsung, hukumnya yang gak tegak. Reaksi masyarakat sebisa-bisanya melawan," kata Kholid kepada MUIDigital usai melakukan pertemuan di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025) malam.
Kholid mengatakan, pelanggaran yang dilakukan oleh PSN PIK 2 sangat banyak, termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
"Apa hukumnya ada orang yang mau menguruk sungai dan apa hukumnya ada orang yang memagari laut dan menjual laut tersebut? Itu kan pelanggaran," jelasnya.
Untuk itu, Kholid bersama para ulama dan tokoh Banten hadir ke Kantor MUI untuk melaporkan kondisi terkini mereka yang diakibatkan oleh PSN PIK 2.
Menurut Kholid, laporan ke MUI sebagai cara mereka untuk mencari jalan keluar terhadap persoalan yang sedang dihadapi.
"Ulama yang di Banten saat ini yang hadir bukan ulama abal-abal, tetapi ulama-ulama yang tegak lurus, ulama-ulama yang akan mengatakan hak dan batil, apapun resikonya. Mudah-mudahan ini adalah bagian dari solusi," tegasnya.
Kholid mengajak MUI untuk terlibat secara langsung bersama masyakat Banten yang terzalimi akibat pembangunan PSN PIK 2 untuk mencari jalan keluar dari persoalan tersebut.
Dia menyebut, apabila MUI tidak mampu menjadi solusi, maka MUI menjadi bagian dari masalah PSN PIK 2 yang hingga kini menzalimi mereka.
Lebih lanjut, Kholid menghimbau kepada masyarakat Banten agar tidak mau diadu domba, dicerai-berai dengan hal-hal yang sedikit.
Dia menjelaskan bahwa jangan sampai masyarakat mau menukar kesenangan yang bersifat abadi, dengan kesenangan yang bersifat sementara.
Menurut dia, perjungan menolak pembangunan dan kezaliman PSN PIK 2 sebagai penderitaan sementara, bukan penderitaan yang abadi.
Dia mengungkapkan bahwa pihak PIK 2 sudah melakukan audiensi dengan masyarakat yang terdampak.
Namun, Kholid menyebut audiensi itu hanya audiensi 'gincu' saja karena untuk mengiklankan bahwa PIK 2 itu baik dengan memberikan masyarakat beras.
"Dia memperlihatkan kebaikan secara secuil, tapi dia melakukan kejahatan yang mungkin secara bergenerasi pelan-pelan membunuh kami. Persoalan bulat atau engga, yang jelas, kami secara pribadi dan teman-teman yang lain, tetap (berjuang) sampai titik darah penghabisan menolak PIK 2 dan melawan," tegasnya. (Sadam, ed: Nashih)