Di Hadapan Santri, Kiai Niam Tekankan Kewajiban Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof Asrorun Ni’am Sholeh menegaskan bahwa Haflah Akhirussanah bukan sekadar penanda berakhirnya satu fase pembelajaran, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali tujuan hidup, memperkuat keimanan, dan memulai perjalanan baru menuju ridha Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Prof. Asrorun Ni’am dalam Haflah Akhirussanah Majlis Dzikir dan Ta’lim Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, yang digelar di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa tradisi haflah menjelang Ramadan merupakan bagian dari budaya pesantren yang sarat nilai agama dan pendidikan.
“Haflah khitam bukan berarti selesai lalu berhenti. Justru setelah satu fase dituntaskan, kita harus memulai lagi. Tidak ada waktu untuk leha-leha, karena hidup di dunia ini sangat singkat, ibarat hanya menyeberang jalan menuju tujuan utama,” ujar Prof. Asrorun Ni’am, Sabtu (7/2/2026).
Menurut Prof. Ni’am, setiap manusia memiliki tujuan antara dan tujuan utama. Tujuan antara bisa berupa menjadi pintar, sukses, atau berkecukupan secara ekonomi. Namun tujuan utama dari seluruh ikhtiar tersebut adalah meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan Allah SWT dalam kondisi fi ahsani taqwim, sebaik-baik ciptaan, dengan segala perbedaan fisik dan karakter.
“Semua itu adalah karunia Allah yang wajib disyukuri,” katanya.
Ia mengingatkan agar manusia tidak menyia-nyiakan rezeki dan tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan harta, karena di dalamnya terdapat amanah dan tanggung jawab sosial.
Dalam aspek kehidupan dunia dan akhirat, Prof Ni’am menekankan prinsip mendahulukan kewajiban kepada Allah.
“Jika urusan dunia bertabrakan dengan urusan akhirat, maka akhirat harus didahulukan. Jangan menunda shalat karena pekerjaan, sebab kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki setiap makhluk, namun jaminan tersebut harus diiringi dengan ikhtiar. Dalam konteks pendidikan, manusia tidak diwajibkan menjadi pintar, tetapi diwajibkan untuk menuntut ilmu. Demikian pula dalam mencari rezeki, keinginan untuk sejahtera harus dibarengi dengan usaha yang sungguh-sungguh.
“Tidak mungkin seseorang menjadi berilmu tanpa belajar, sebagaimana kapal tidak akan pernah berlayar jika tetap berada di daratan,” ujarnya.
(Miftahul Jannah/Azhar)