Lewati ke konten utama
Kamis, 6 Agustus 2026 / 22 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Dengan Nada Berkelakar, Kiai Ma'ruf: Ber-NU Harus ‘Ala Bashirah Bukan Bisyarah

3 menit baca 126 dibaca
KH Ma'ruf Amin
Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma'ruf Amin dalam peluncuran buku "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam.
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital—Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma'ruf Amin menekankan pentingnya perubahan di internal organisasi Nahdlatul Ulama (NU) fokus terhadap pengembangan dalam menyongsong abad keduanya. 

Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini mendorong agar NU ke depan lebih mengutamakan kualitas jam'iyyah dan jamaah ketimbang sekadar mengejar kuantitas angka keanggotaan.

Pesan mendasar tersebut disampaikan Kiai Ma'ruf saat memberikan arahan pada peluncuran buku "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam.

"Saya ingin NU ke depan itu NU yang berdasarkan kualitas, bukan sekadar kuantitas. Bukan kita (hanya menghitung) jumlah, tapi orang-orang yang paham, terutama pengurusnya. Dari PBNU sampai ke Ranting, tahu alasannya mengapa dia ber-NU," ujar Kiai Ma'ruf di hadapan para ulama dan pimpinan lembaga keagamaan.

Kiai Ma'ruf menekankan bahwa keberagamaan dan pemahaman organisasi warga NU harus didasarkan pada prinsip 'alā baṣhīrah atau 'alā hujjatin wāḍhiḥah, yakni memiliki argumen, keyakinan, dan pemahaman keilmuan yang jelas.

Baca juga: Penulis Buku Ungkap Gelisahnya Kiai Ma'ruf Soal Masa Depan Nahdlatul Ulama

Dengan nada berkelakar yang disambut tawa hadirin, dia menyentil agar pengurus berorganisasi atas dasar baṣhīrah (ilmu dan alasan kuat), bukan bisyārah. 

"Masuk NU itu berdasarkan alasan yang kuat, sehingga punya keyakinan. Bukan buta, bukan ikut-ikutan, bukan karena guru, bukan karena bapak, atau karena teman. Tidak buta, tidak ikut-ikutan, bukan sekadar organisasi, tetapi juga paham," tegasnya.

Untuk mencapai kualitas tersebut, ulama berusia 83 tahun ini mengingatkan kembali pentingnya memahami tiga pilar utama NU secara utuh: fikrah (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan).

Menurutnya, fikrah NU yang bersumber dari sanad turats para pendiri (muassis) tidak boleh dipahami secara tekstualis maupun terjerumus pada cara berpikir liberal tanpa akar.

Baca juga: Merajut Teologi dan Republik, Membaca Visi Kemandirian Ekonomi Kiai Ma'ruf Amin

Pemahaman keagamaan harus senantiasa dinamis dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa memutus mata rantai tradisi keilmuan para ulama.

"Manakala kita hanya berpegang pada fikrah dan manhaj saja, itu hanya berarti wacana dan keputusan. Tetapi tidak melahirkan keadilan, tidak melahirkan keamanan, tidak melakukan perbaikan, karena tidak ada harakah," urai Kiai Ma'ruf menjelaskan keterikatan ketiga fondasi tersebut.

Acara peluncuran buku karya Hj Siti Haniatunnisa dan H Muhammad Zainal Arifin ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar.

Baca juga: Menag hingga Ketum PBNU Hadiri Peluncuran Buku Pemikiran Kiai Ma'ruf Amin

Momentum ini dinilai sangat strategis menjelang gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 mendatang.

Hadir pula jajaran tokoh nasional lain, di antaranya Sekjen Kemenag RI Prof Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Baznas RI KH Zainut Tauhid Sa'adi, Ketua DPW PKB Jawa Tengah Gus Yusuf,  Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh, Ketua Kopnus Syariah Abdul Kholid Soleh, Wasekjend MUI Bidang Dakwah KH Arif Fahruddin, serta Wasekjend MUI Bidang Infokomdigi Dr Asrori S Karni.