DEKS BI Tegaskan Sinergi dengan DSN-MUI Kunci Penguatan Ekonomi Syariah
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital — Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (DEKS BI) Imam Hartono menegaskan pentingnya sinergi antara Bank Indonesia dan Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) dalam mendorong penguatan ekonomi dan keuangan syariah nasional.
Menurutnya, capaian sektor ekonomi dan keuangan syariah menunjukkan tren yang menggembirakan. Ia menyebut kontribusi produk-produk syariah terus meningkat, termasuk dalam berbagai indikator ekonomi global.
“Ini semua tentu dukungan penuh dari DSN-MUI dengan berbagai fatwa,” ujar Imam Hartono kepada MUI Digital usai acara Ta'aruf Pengurus DSN-MUI Masa Khidmat 2025-2030 Rapat Peleno DSN-MUI Ke-60, di Hotel Sultan Residence, Jakarta pada Rabu (11/2/2026).
Ia mengakui bahwa tantangan masih besar, namun kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci dalam mengakselerasi program-program nasional.
“Banyak tantangan yang kita hadapi, tetapi kita bersama DSN-MUI mencoba bagaimana program-program nasional, terutama pengembangan ekonomi dan keuangan dan yang tidak kalah penting adalah sinergi dengan kementerian dan lembaga terkait, sama-sama memajukan dan menyukseskan perkembangan ekonomi dan keuangan syariah,” jelasnya.
Dalam konteks kebijakan moneter, Bank Indonesia juga memiliki mekanisme koordinasi rutin dengan DSN-MUI melalui Kelompok Kerja (Pokja) Moneter.
“Kalau Bank Indonesia, kita mempunyai Pokja Moneter. Artinya setiap perkembangan ekonomi dan moneter selalu kita kolaborasikan dengan DSN-MUI terkait dengan beberapa opininya,” katanya.
Selain itu, BI juga menjalin kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia guna memperkuat kapasitas DSN-MUI di bidang ekonomi dan kebanksentralan.
“Kami juga ada kerja sama pengembangan sumber daya. Jadi DSN-MUI itu kita lakukan penyegaran terkait dengan ilmu-ilmu ekonomi, ilmu-ilmu kebanksentralan, sehingga tentu ini akan menambah kapasitas dari DSN-MUI ke depan,” tambahnya.
Terkait literasi dan inklusi keuangan syariah, Imam Hartono mengungkapkan bahwa indeks literasi mengalami peningkatan signifikan.
“Kalau dari sebelumnya 23,28 persen sekarang sudah 50,1 persen. Tetapi yang menjadi masalah adalah indeks inklusinya masih rendah, masih sekitar 17 persen,” ungkapnya.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti kendaraan yang sudah siap, tetapi belum banyak penumpang.
“Jadi ibaratnya kalau kita mempunyai kendaraan, kendaraannya sudah siap. Tapi penumpangnya yang belum siap. Nah untuk itu tentu pertama literasi harus lebih ditingkatkan, dan yang kedua adalah produk-produk dari ekonomi keuangan syariah itu memang harus merasa dibutuhkan oleh masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya mempertimbangkan aspek kesesuaian syariah, tetapi juga manfaat praktis dari produk tersebut.
“Jadi bukan hanya sekadar apakah ini sesuai syariah atau tidak, tapi apakah ini sesuai dengan kebutuhan saya. Tentu itu ke depan inovasi-inovasi harus lebih ditingkatkan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya digitalisasi sebagai kunci penerimaan produk syariah ke depan.
“Alhamdulillah sekarang beberapa perbankan dan industri keuangan sudah banyak melakukan digitalisasi. Jadi kunci utama ke depan agar produk syariah itu diterima adalah digital,” ujarnya.
Dalam rangka memperluas literasi, Bank Indonesia secara konsisten menggelar berbagai program edukasi, termasuk Festival Ekonomi Syariah (FESYAR).
“Di tiga daerah itu namanya FESYAR. Tetapi sebelum FESYAR itu, di setiap kantor perwakilan ada namanya Road to FESYAR. Jadi sebenarnya di Bank Indonesia itu mulai dari Maret sampai Desember semua kegiatan literasi itu ada setiap tahun,” paparnya.
Sinergi antara Bank Indonesia dan DSN-MUI diharapkan terus memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional, baik dari sisi regulasi, literasi, inovasi produk, maupun peningkatan inklusi di tengah masyarakat. (Fitri Aulia Lestari/Azhar)