Andi Widjajanto: Krisis Ekonomi Global Akan Dipicu Runtuhnya Raksasa Teknologi Dunia
Admin
Penulis
JAKARTA,MUI.OR.ID — Pengamat Pertahanan Intelijen, Andi Widjajanto, mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi ancaman krisis ekonomi model baru yang berbeda dari krisis-krisis sebelumnya.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Sesi Pleno II Musyawarah Nasional (Munas) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Kamis (20/11/2025).
Menurut Andi, krisis ekonomi ke depan tidak lagi dipicu oleh sektor finansial seperti krisis 1998 atau 2008, tetapi berpotensi dipicu oleh runtuhnya salah satu dari tujuh korporasi teknologi global yang kini mendominasi perputaran ekonomi dunia.
“Krisis ekonomi ke depan tidak akan lahir dari Lehman Brothers seperti tahun 2008, tetapi dari runtuhnya satu atau dua korporasi raksasa teknologi dunia,” tegasnya dalam paparan Pleno ll.
Andi mengungkapkan bahwa tujuh perusahaan teknologi terbesar dunia kini menguasai lebih dari 40 persen peredaran uang, teknologi, dan bahkan pola hidup masyarakat modern.
Ketergantungan total terhadap perusahaan-perusahaan ini menciptakan risiko sistemik yang jauh lebih besar dibandingkan krisis finansial tradisional.
“Mereka menguasai ruang hidup kita. Dari kapan kita bangun tidur, belanja, bekerja, hingga interaksi sosial semua bergantung pada platform dan ekosistem mereka,” ujarnya.
Andi menilai bahwa dunia kini berada di bawah sebuah tatanan baru yang ia sebut sebagai Pax Teknologika, yaitu dominasi kekuatan teknologi yang melampaui dominasi negara.
Jika salah satu perusahaan teknologi tersebut mengalami kegagalan sistemik, maka dampaknya bisa mengguncang ekonomi global, sistem keamanan data, diplomasi, hingga stabilitas politik internasional. Menurutnya, fenomena ini jauh lebih kompleks dibandingkan krisis ekonomi tradisional.
Dia menegaskan bahwa Indonesia perlu segera memperkuat ketahanan digital nasional untuk menghadapi potensi goncangan global tersebut.
“Indonesia punya sejarah kuat menghadapi krisis. Tapi kali ini tantangannya datang dari arah baru, dari ruang digital yang dimonopoli segelintir korporasi internasional. Kita harus membangun resilien itu sejak sekarang,” jelasnya.
Andi menekankan pentingnya strategi jangka panjang yang mencakup regulasi teknologi, penguatan keamanan siber, kemandirian data, hingga pembangunan ekosistem teknologi lokal. “Masalahnya bukan lagi siapa negara adidaya berikutnya, tetapi siapa pemilik teknologi yang menguasai dunia,” ucapnya.
Dia menutup paparannya dengan pesan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika global tersebut.“Kalau kita tidak membangun kemampuan digital sendiri, kita hanya akan jadi konsumen ketika krisis itu terjadi,” tandasnya.
(Miftahul Jannah/Azhar)